Thursday, April 10, 2014

Spiritualisme dalam Tradisi Weton: Bubur Merah Bubur Putih



Stigma negatif kerap kali menempel kepada masyarakat tradisi, yang masih menjalankan budaya leluhurnya. Bahkan cibiran, ejekan serta kata-kata yang melukai hati sering dirasakan, oleh karena menjunjung tinggi nilai-nilai budaya tersebut. Menjadi berbeda dari umumnya masyarakat menjadi sorotan tajam dan sinis, menjadikan banyak diantara masyarakat tradisi yang tidak lagi menjunjung budayanya, karena takut DIASINGKAN, takut DIMATERAIKAN, takut disamakan dengan budaya-budaya KETIDAKPERCAYAAN kepada TUHAN yang MAHA ESA.
Masyarakat umum, banyak yang mencibir, mengolok-olok tradisi ini, dan menggunakan ejekan, cacian mereka sebagai senjata yang sangat diskriminatif untuk menyerang masyarakat diluar kaum mereka. Akhirnya terjadilah jurang pemisah antara masyarakat umum (agama) dan masyarakat tradisi.

Apakah yang memberikan penghakiman, sudah tahu betul dengan yang mereka lakukan?
Apakah salah bagi mereka yang masih menjalankan tradisi leluhurnya?



=======================================================================================================================================
Tradisi merayakan hari lahir di dalam kebudayaan Jawa, terkhusus di Jawa Tengah yang lazim dilakukan dengan memberikan bubur merah dan bubur putih kepada tetangga sekitar, membuat saya terpanggil untuk menyelami maksud dan pemaknaan yang terkandung di dalamnya. Saya meyakini bahwa setiap tradisi atau adat budaya pasti memiliki suatu nilai yang berharga. Tidak terkecuali dalam tradisi bubur merah dan bubur putih.

Bubur merah bubur putih adalah makanan tradisional, yang diolah secara tradisional, dengan bahan-bahan yang ada disekitar kehidupan masyarakat Jawa. Bubur tersebut terbuat dari olahan santan dan beras, yang diolah agak lama, sampai lembut, biasanya diberi pandan untuk menambah harum makanan. Warna yang dihasilkan adalah warna putih dari santan dan beras, kemudian warna merah dibuat dari warna gula merah.
Penataannya juga sangat sederhana, bubur lapis pertama adalah warna merah, yang kemudian dilapisi warna putih sedikit tepat di tengah bubur.

Perayaan hari lahir yang dimaksudkan, tidaklah sama dengan haru ulang tahun modern. Perayaan hari lahir ini lebih sering disebut dengan "bancaan weton", atau syukuran hari lahir. Menurut tradisi Orang Jawa, tradisi weton ini, sebaiknya dilakukan untuk mengingat hari lahir seseorang. Pada dewasa ini, tradisi weton sudah mulai luntur dan hanya beberapa orang saja yang masih mempertahankannya.
Biasanya sang empunya hajat, pagi-pagi benar membuat bubur merah-bubur putih, yang kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga disekitarnya.

Ada suatu kepercayaan yang melekat dalam kalangan masyarakat, jika seseorang tidak melakukan tradisi weton, akan terjadi sesuatu yang buruk dalam hidupnya, entah itu sakit, atau dirundung permasalahan yang pelik, dan susah untuk dihadapi. Hal ini biasanya dikait-kaitkan oleh karena tidak melakukan weton-an. Bagi yang meyakininya, maka setiap bulan sebaiknya dilakukan.

Di dunia ini, setiap manusia pasti ingin hidup sehat, dan terhindar dari bahaya.
Namun apakah dengan bubur?? apakah dengan bubur lantas bisa menghindarkan mara bahaya dan senantiasa diberi kesehatan?? mari kita renungkan.

Melakukan hal yang kita tidak tahu maknanya, adalah hal yang penuh kesia-siaan.
Namun, Orang bijak tau betul apa yang dia perbuat 

Adakah kaitannya, antara kesehatan dan terhindar dari nasib malang dengan melakukan tradisi bubur merah- bubur putih??
jika memang ada keterkaitan diantaranya, maka dapat dibilang bahwa tradisi tersebut, atau bubur tersebut sebagai media "tumbal" untuk ngalap berkah, media "tumbal" untuk "menyogok" sesuatu kekuatan yang tidak diketahui asalnya, agar kehidupan si pelaku tradisi senantiasa diberkahi.

Apakah iya??
Apakah seperti itu sebenarnya? atau hanyalah suatu mitos yang melekat dalam tradisi??

Masyarakat kita, kebanyakan menyukai sesuatu hal yang bersifat mistis, supra-alami, yang belum jelas ujung dan pangkalnya. Yang dilakukan hanya dengan berbekal rasa percaya, rasa nyaman meskipun hal tersebut tidak bisa dirasional.

Sekarang coba kita rasionalkan !!!

Karena kita adalah bangsa indonesia yang cerdas, dan berbudaya, maka kita harus cerdas juga dalam berbudaya..

Ilmu Cocok-logi
Kalo cocok berarti bisa dipercaya, kalau ternyata tidak cocok, maka bagaimana caranya agar bisa cocok, dengan kata lain dicocok-cocok-kan agar bisa cocok, untuk menguatkan argumen.
Hal inilah keunikan masyarakat cocoklogi.
Budaya makan bubur, mungkin bisa saja berasal dari leluhur yang sama, jika kita runtut asal pangkalnya.
Ada suatu kisah dizaman lalu, adalah dua anak kembar yang saling berbut hak kesulungan, sebut saja mereka Esau dan adiknya Yakub. Mereka berebut hal kesulungan dan pengakuan kesulungan dari sang Ayah Isqak. Esau adalah anak kesayangan Isqak yang mempunyai pribadi yang tegas, pemberani, pemburu yang ulung; Sedangkan adiknya Yakub adalah kesayangan ibunya Ribka, dia anak yang selalu dirumah, orangnya lembut dengan perangai yang santun. Pada suatu saat ketika Esau lapar, dan tidak mendapatkan hewan buruan dari hutan, dia melihat adiknya Yakub, sedang memasak bubur kacang merah. Karena rasa laparnya, Esau memohon agar Yakub memberinya semangkuk bubur kacang merah. Yakub menyetujuinya namun dengan syarat, bahwa HAK KESULUNGAN yang harunya diberikan Isqak kepada Esau, harus diberikan kepada Yakub. Dalam kata lain, Yakub hendak merampas hak kesulungan dari kakaknya. Esau tidak begitu menggubris keinginan adiknya, karena lapar yang berat, Esau mengiyakan saja kemauan adiknya.

Ketika Isqak hendak memberkati anak sulung (esau), lantas Esau diutusnya untuk berburu, dan mencarikan hewan buruan yang enak, dan mengolahnya menjadi santapan yang lezat. Esaupun bergegas dengan gembira, mencari hewan buruan di hutan.

Singkat Cerita, Yakub dan ibunya memasang siasat. Melihat keadaan Isqak yang sudah agak rabun penglihatannya, pastilah Iaqak tidak dapat mengenali betul Esau dan Yakub. Ribka mendandani Yakub dengan bulu domba, memasangkan pakaian Esau kepada Yakub, agar bau keringatnya tercium seperti Esau, kemudian mengolah makanan terlezat dari domba muda. Setelah semuanya selesai, Yakub yang menyamar menjadi Esau diutusnya untuk menghadap kepada Isqak ayahnya, setelah menyantap hidangan lezat itu, Isqak langsung memberkati putranya, yang tak lain dan tak bukan adalah Yakub. Esau yang mengetahui akan siasat adiknya, menjadi sangat marah dan menyesal, namun apa bisa dikata: NASI SUDAH MENJADI BUBUR. Hak kesulungan telah ditukar dengan semangkuk BUBUR kacang merah.

kembali lagi ke topik.
Apakah kisah tersebut yang menginspirasi tradisi weton? dan bubur merah-bubur putihnya??
atau hal ini hanya kebetulan cocok saja? tidak lebih?

Memang agaknya sulit dipercaya, ketika mengkaitkan BUBUR dengan BERKAT
atau keduanya memang tidak bisa dikaitkan, namun terpaksa dikait-kaitkan??
atau tidak sengaja keduanya terkait??

di dunia ini tidak ada yang terjadi oleh karena KESENGAJAAN !!
sehingga kemungkinan yang terjadi adalah, Bubur dan Berkat TERPAKSA DIKAIT-KAITKAN.

Budaya adalah Hukum yang Memasyarakat
Tidak ada hukum lain di dunia yang lebih kuat pengaaruhnya dibandingkan BUDAYA
karena apa? Karena budaya sangat mengakar, dan menjadi pola kehidupan masyarakat.
Entah itu dengan sadar melakukannya, ataupun tidak sadar, namun BUDAYA tetap dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat. Hal ini terjadi karena ada unsur Karma dan Pahala yang menyelimutinya, adanya Berkat dan Laknat, adanya Reward and Punishment. Dengan adanya hal tersebut, secara tidak langsung, budaya tertanan dan mengakar dalam mindset masyarakat, tanpa disadari. Walaupun terkesan irasional, terkesan sukar dipercayai, namun hal itulah yang terjadi.

Pangkal Tradisi
Saya meyakini, adanya suatu ajaran, karena dengan sengaja ataupun tidak karena ada yang MENGAJARKANNYA. Begitupula dengan tradisi weton, pasti juga ada yang mengajarkannya, jika tidak mengapa sampai sekarang dibeberapa masyarakat tradisi tersebut masih eksis.

Berbeda dengan perayaan ulang tahun, dengan kue tart-nya
Tradisi weton dengan buburnya.
Namun ada kesamaannya, yaitu budaya "make a wish" atau menaikkan pengharapan kepada Sang Empunya Hidup. Dalam suatu perayaan pastilah ada harapan yang dinaikkan. Meskipun banyak diantara kita yang juga tidak mengerti arti yang terkandung di dalamnya.

Biar kita sama-sama menjadi bangsa yang cerdas dalam berbudaya, dengan arif dan bijaksana melakukan tradisi penuh pemaknaan, mari kita kupas sehelai-demi sehelai agar nampak intinya.

1. Kenapa harus bubur?
Kenapa harus bubur, kenapa tidak ayam goreng atau makanan yang lebih enak lainnya?
Kenapa harus makanan yang lembut teksturnya, dan terkesan blenyek?
Bubur melambangkan kesederhanaan, artinya: Hidup itu sederhana sajalah, tidak usah neko-neko.
Materi memang dicari dalam hidup, namun hidup tidaklah sekedar mencari materi, kehidupan sejati muncul dari dalam kesederhanaan. Ketika dalam kondisi sederhana, maka rasa syukur senantiasa ada, senantiasa dilingkupi kepasrahan hidup.
Ibarat hanya makan bubur saja, manusia sudah bisa hidup, karena di dalam bubur terdapat kandungan nutrisi yang memadai untuk melangsungkan kehidupan. Dari beras, kita mendapatkan karbohidrat, dari gula merah kita mendapatkan nutrisi dan energi, dari garam kita mendapatkan mineral dan yodium, dari santan kita mendapatkan protein nabati serta lemak sehat dan vitamin. Cukup dengan bubur, kita sudah bisa hidup.

Bubur melambangkan kelembutan, artinya: "Berbahagialah kamu yang lemah-lembut karena kamu bisa memiliki bumi". Orang yang lemah lembut, orang yang pembawaan dirinya santun, bersahaja akan banyak menjumpai orang-orang yang baik hatinya, dan hidupnya akan dikelilingi oleh kebaikan.
Kita dilatih dalam mencerna sesuatu untuk pertama kali mencerna hal-hal yang lembut terlebih dahulu. Sebagai seorang bayi, kita tidak langsung dijejali makanan yang berat, namun cukup bubur, barulah kita dapat makan makanan yang bertekstur lebih kasar. Hal ini mengingatkan kita, kita harus taat dalam persoalan-persoalan yang kecil lebih dahulum untuk mampu menghadapi persoalan yang lebih berat. Jika kita biasa tetap taat dan tegar dalam persoalaan yang kecil, maka kita akan bisa tegar dalam menghadapi persoalan yang lebih berat.

2. Kenapa harus Merah dan Putih?
Apakah tidak ada warna lain? kenapa hanya merah dan putih?
Warna mengisyaratkan makna, dan mengandung nilai di dalam simbol warna tersebut.
Merah dan putih adalah simbol kehidupan.
Orang Jawa zaman kuno, ternyata tahu lebih dahulu katimbang ilmuwan-ilmuwan hebat di era modern, bahwa awal kehidupan dimulai dari sel.
Warna merah yang lebih besar melambangkan Ovum atau sel Telur
Warna putih yang lebih kecil melambangkan Sperma.

Bubur Merah-Bubur Putih menjadi pengingat bagi sang pelaku tradisi, bahwa kehidupan kita diawali dari Ovum ibu kita, dan Sperma dari ayah kita. Yang mana kita harus senantiasa hormat kepada kedua orang tua kita, yang telah menjadi jalan kehidupan bagi kita.

Ketika kita mengingat hari lahir kita, kita juga harus wajib mengingat pengorbanan orang tua kita, dari melahirkan, hingga merawat kita mnjadi insan yang siap menatap kehidupan. dari seorang manusia yang belum mengetahui apapun, menjadi banyak belajar dari orang tua kita.

Bubur Merah-Bubur Putih menyadarkan kita bahwa, tidak ada orang lain sebaik kedua orang tua kita, TIDAK ADA yang lain !!!
Orang tua kita adalah sesempurnanya manusia yang pernah kita ketahui.
Mereka adalah Yang Rahmani, dan Yang Rahimi
Yang Pengasih dan Yang Penyayang, manifestasi dari CINTA KASIH TUHAN, untuk hidup kita.

Ayah kita adalah Sang Rahmani, yang senantiasa MENGASIHI kita seperti cinta-KASIH TUHAN dalam hidup kita.
Rahmani= Pengasih
Mani = Sperma = Diberikan

Ibu kita adalah Sang Rahimi, yang senantiasa MENYAYANGI kita seperti kasih-SAYANG TUHAN dalam hidup kita.
Rahimi = Penyayang
Rahim = Penerima, Mendekap Janin, menaungi janin dengan KASIH SAYANG-Nya

Ayah dan Ibu kita adalah sebaik-baiknya manusia yang pernah kita jumpai, sudah sepantasnyalah setiap harinya kita selalu ingat kasih sayangnya atas hidup kita.
Ucapan syukur juga kita naikkan kepada Tuhan atas kebaikan Tuhan telah memberikan orang tua yang baik kepada kita.

Bubur merah dan bubur Putih, adalah tradisi yang BUKAN TANPA ARTI,
namun SARAT dengan ARTI dan PESAN MORAL serta SPIRITUAL untuk hidup kita.

Melakukan hal yang kita tidak tahu maknanya, adalah hal yang penuh kesia-siaan.Namun, Orang bijak tau betul apa yang dia perbuat 

Semoga kita senantiasa bijak dalam mengarungi kehidupan kita
dan senantiasa menjadi pribadi yang baik dalam segala hal



____ Salam Keseimbangan Antar Ciptaan


No comments:

Post a Comment

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------