Sunday, October 26, 2014

Tuhan dan Alien



Para skeptis, adalah mereka yang tidak mau mempercayai hal-hal apapun yang menurut mereka tidak dapat dipercayai oleh akal pikiran mereka. Skeptis mempunyai sudut pandang tersendiri dalam kenyamanan dalam mempercayai sesuatu. Bahkan pada kenyataannya para kaum skeptis tidak mau mempercayai walaupun kebenaran tersebut benar-benar telah dibuktilan secara otentik.

Pada awalnya saya merupakan, atau tergolong dalam person yang sangat skeptis dengan yang namanya ALIEN. Saya sangat tidak dapat meyakini bahwa alien adalah eksis dan benar-benar ada di dunia material.yang fana ini. Saya cukup mengira, bahwa alien hanya eksis dalam ranah perfileman Hollywood. Saya semenjak kecil sangat kental dan taat akan kisah dan praktik-praktik agama yang saya emban saat ini, dan dalam sistem kepercayaan tersebut saya tidak bisa mempercayai adanya makhluk lain di semesta ini, selain manusia dan makhluk-makhluk di planet bumi.

Dalam pelajaran atau theologi yang saya terima, bahwa bumi merupakan planet yang dirahmati oleh Sang Kuasa, hanya satu-satunya planet yang diberikan berkah olehNya, yaitu berkah adanya kehidupan di dalamnya. Bahkan secara khusus dikisahkan dalam suatu metafora spiritual, dalam salah sayu madah dikisahkan, bahwa penciptaan dengan central di planet bumi ini dilakikan dalam enam hari dan pada hari yang ketujuh, Sang Pencipta beristirahat untuk melakukan Perayaan Sabbath dan menguduskan ciptaanNya.

Dari dogma theologis tersebut, sangat sulit bahkan mustahil saya bisa berpikir akan adanya kehidupan lain, selain di planet bumi. Namun seiring berjalannya waktu, pengetahuan bertambah, begitupula kemampuan untuk pribadiku berpikir juga mengalami evolusi ke tingkat yang lebih baik.

Awalnya saya beranjak dari adanya film cartoon minggu pagi, yaitu: Dragon ball, yang mana mengisahkan bahwa Son-Gokku merupakan makhluk asing berpengetahuan dari planet luar bumi. Adapula Sailor Moon dan prajurit wanita penjaga tata surya "matahari". Selian itu ada serentetan filem yang berdampak sebagai budaya global, yang terindikasi memberikan pencerahan masa bagi yang menontonnya. Bisa dibilang: Distric Nine, Avatar Planet Pandora, Skyline, Jhon Charter, Transformers, Sign, Alien vs Predator, Alien and Cowboy, dan sebagainya.

Dan semakin tertantang lagi untuk belajar dari tulisan-tulisan kuno seperti Enuma Elish dari atefak Banilonia. Ada juga kitab Henokh, buku Urantia, adanya paham agama baru yang bernama Realianisme, yang mempercayai akan keberadaan Alien. Dan rasa penasaranku akan adanya bangunan megah luar biasa yang dibangun di zaman kuno dengan teknologi yang seharusnya super canggih, namun tidak mungkin terjadi sebab dibangun dalam peradaban manusia yang masih sangat primitif.

Dengan pengalamam pengetahuan tersebut semakin membuka cakrawala pemikiranku, bahwa alam semesta ini tidak hanya seluas bumi. Bumi kita hanya setitik debu yang super kecil diantara trilyunan bintang di alam semesta yang tidak terbatas. Sehingga peluang adanya planet serupa dengan bumi adalah sangat besar kemungkinannya. Sikap skeptisku berangsur-angsur memudar, dan beralih menjadi sangat tertarik dengan asanya kebudayaan peradaban modern yang dikemas dalam kepercayaan adanya Alien.

Lantas apa kaitannya dengan judul postingan kita kali ini?
Jika alien benar-benar ada dan eksis, akankah hal ini mempengaruhi kepercayaan kita akan adanya entitas yang MAHA yang sepanjang peradaban menyebutnya dalam beragam nama mulia, yaitu TUHAN??

Akankah nilai keberadaan Tuhan mulai luntur dengan adanya peradaban modern yang mempercayai adanya Alien?? 
TENTU SAJA TIDAK !!!

Dalam postingan saya saat ini, saya ingin menyuarakan apa yang sedang saya pikirkan. Kita tidak perlu khawatir akan adanya gelombang kepercayaan baru, yang diisukan akan merombak sistem keagamaan dunia. Itu semua belum tentu benar adanya.

Eksistensi Alien, malahan membuat kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi semakin kuat dan mendalam. Pengenalan kita kepada Tuhan memjadi semakin luas dan kita dibawa menuju level spiritual yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Alien merupakan ciptaan yang sama dengan kita manusia, namun mereka berhasil melakukan tahap demi tahap evolusi di dalam planet kampung halaman mereka untuk sebuah misi sebagai penguasa di planet tersebut. Mereka merupakan ras prime untuk planet mereka sendiri. Bahkan teknologi dan peradaban mereka bisa jadi jauh lebih canggih dibanding peradaban manusia bumi.

Kita tahu bahwa kita merupakan hasil daripada rantai evolusi yang memakan waktu ribuan bahkan jutaan tahun, yang merupakan saudara dari simpanse, gorilla, bonobo, kera dan primata lainnya. Namun karena satu-satunya yang mempunyai akal pikiran dan berkomunikasi melalui bahasa, kita dapat memenangkan seleksi alam, dan menjadi makhluk superior di planet bumi ini. Sama dengan hal tersebut, bisa jadi jauh di luar planet bumi adalah makhluk dari genus lain yang berevolusi dan menyesuaikan diri dengan habitatnya maka akan mempunyai wujud dan rupa yang sedikit berbeda katimbang manusia bumi. Atau bahkan mereka sudah menguasai teknologi android yaitu menggabungkan makhluk biologis dengan teknologi mesin yang terkomputerisasi. Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Atau bisa jadi alien cerdas tersebut, sudah mampu menguasai teknologi memecah sel-sel tubuh mereka sebesar partikel nano dan kemudian mampu merekonstruksi tubuh mereka kembali, sehingga mampu melaju pesat delalam kecepatan cahaya melintasi semesta yang tak terbatas. 

Sejak kapan peradaban canggih super maju, yaitu peradaban alien tersebut ada? Darimana mereka berasal? 

Sebenarnya kita tidaklah tau-menau perihal eksistensi mereka, namun mari kita sedikit berpikir, akan luasnya semesta kita yang tidak ada batasannya ini. Semesta yang tanpa ada batasan, yang tidak tau kapan awalan dan akhirannya, menimbulkan pertanyaan sekaligus misteri yang masih sulit untuk disibakkan. 

Namun satu yang pasti, segala sesuatu pasti ada yang mengawali. Seperti teori yang dikemukakan oleh Louis Pasteur, yang merupakan dalil dari hukum Biogenesis, yang demikian: 

"Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo" 
Yang berarti: "semua kehidupan berasal dari telur, semua telur berasal dari kehidupan, dan semua kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya" 

Namun, bagaimana asal muasal kehidupan itu muncul? Masih juga dipertanyakan. Ada pula teori lain yang menyatakan bahwa kehidupan perdana muncul oleh sebab ketidaksengajaan, spontanaeous generation. Kehidupan muncul secara tiba-tiba dan spontan. Bahkan dalam beberapa penelitian mengatakan bahwa kehidupan muncul dari bentuk senyawa yang berasal dari benda mati. Teori tersebut dikenal dengan istilah Abiogenesis, atau Teori asal muasal kehidupan dari benda mati. 

Memang secara nalar rasional, kita masih sukar untuk menerima kebenaran tersebut. Hal itu dikarenakan kita lebih dahulu bersinggungan dengan theologi, atau dogma yang berasal dari sistem kepercayaan atau agama, yang memberi gambaran akan kuasa Sang Pencipta dalam melakukan penciptaan secara spektakuler dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, atau Creatio Ex Nihilo. Hal ini hanya dapat hidup dan menjadi pegangan bagi kaum agamawan, yang notabene mengimani akan hal tersebut, dengan berbekal kepercayaan dan rasa nyaman belaka, yang pada kemudian hari tidak lagi mau untuk mencari kebenaran melalui disiplin ilmu-ilmu lainnya.

Segala metode yang digunakan untuk menyentuh zona misteri akan adanya Ras Kecerdasan lain di luar planet bumi,sudah dikerahkan dan diupayakan, namun sampai saat ini, itu semua masih dalam tataran Hipotesa tanpa bukti.

Kemudian dari dalam pemikiran ku, muncul sekelumit pertanyaan, jika memang benar Ras Cerdas di luar bumi itu benar-benar ada dan eksis, lantas apa tujuan mereka melakukan penjelajahan semesta dan mengeksplorasi planet-planet primitif dalam galaksi-galaksi muda? Atau setidaknya manusia bumi pernah mengalami kontak dengan ras Cerdas tersebut. Entah di zaman modern atau pada zaman kuno.

Beberapa jawaban kucoba untuk ulas dalam postingan kali ini, demikian:

1. Mencari sumber energi lain.
Mengapa demikian:
Hal ini mungkin dipengaruhi oleh karena, keterbatasan sumber daya alam yang terkandung di dalam planet mereka. Sehingga mereka berusaha untuk mencari energi lain, atau mencari alternatif energi di planet-planet yang mereka sinyalir terdapat cadangan energi yang melimpah. Atau ras Cerdas ini, hendak mencari logam-logam tertentu, seperti emas, yang berguna sebagai konduktor listrik yang paling baik diantara logam lainnya. 

Dari zaman dahulu, emas merupakan logam yang sangat tersohor di kelasnya, oleh sebab logam emas tidak dapat mengalami korosi (perkaratan), dan merupakan penghantar listrik yang sangat baik, karena sifatnya yang bebas hambatan. Sehingga energi listrik yang dialirkan melalui logam emas tidak mengalami pengurangan oleh karena, tidak adanya hambatan.

2. Membentuk Koloni Baru
Bisa jadi, ras Cerdas dari Galaksi atau planet lain, ingin mengembangkan koloni mereka. Membentuk suatu sistem peradaban yang maha luas, guna menguasai jagad raya. Atau hanya sekedar mempertahankan kelangsungan hidup ras cerdas itu sendiri. Bayang kan saja, ketika suatu makhluk bisa sampai pada fase Intelegensia dan berperadaban super modern dan canggih, pastinya memerlukan ribuan tahun, dan mengalami ratusan kali fase evolusi. Sehingga mereka tidak ingin Ras Mereka punah begitu saja. Mereka melestarikan Ras mereka dengan cara membentuk koloni baru disuatu planet yang layak huni lainnya.


3. Melakukan penelitian, dalam rangka menciptakan organisme cerdas yang baru.
Nah kalo yang ini, agaknya terlampau berlebih. Namun saya pernah berpikiran yang sama dengan pernyataan tersebut.
Bisa jadi Ras Cerdas yang melintasi antariksa dan menetap disuatu planet tertentu, hendak melakukan suatu percobaan. Dan percobaan itu dinamakan "Life Carier" atau Pembawa Kehidupan. Oleh karena kecerdasan, serta teknologi mereka yang super canggih, sudah barang tentu, dan bukanlah hal yang mustahil ketika mereka dapat melakukan suatu tugas untuk menciptakan suatu bentuk kehidupan baru, dari sebuah kehidupan primitif di sebuah planet yang belum berpenghuni.

Bisa jadi Dewa, atau Malaikat, atau penghuni langit yang dikisahkan dalam naskah-naskah suci, ataupun tulisan-tulisan keagamaan, merupakan sekelompok atau sekumpulan daripada Ras Cerdas yang berasal dari suatu tata surya yang jauh dari bumi, dan hendak menciptakan kehidupan baru di planet bumi yang kala itu masih sangat primitif.

Manusia bumi yang merupakan ras evolusi dari genus homo, dengan spesies sapiens. Bisa jadi merupakan rekayasa genetik suatu ras Cerdas, yang dikemudian hari disebut dengan istilah dalam ranah spiritual yang transenden, yang tidak dapat ditangkap oleh nalar primitif suatu pola peradaban manusia bumi yang kala ini masih sangat primitif.

Di sebuah taman observatorium, yang kala itu sangat terkenal dengan pohon kehidupannya, percobaan kehidupan inipun dimulai. Ketika manusia bumi, yang merupakan rekayasa genetika dari genus homo, yang adalah kerabat dekat dari simpanse, gorila, orang utan dan bonobo. Ras Cerdas tersebut, mungkin juga tidak secara naif, dan terlampau narsis ketika mereka berhasil menciptakan suatu kecerdasan baru, walaupun masih sangat primitif, yang kemudian di sebut dengan istilah peradaban Manusia Bumi.

Ketika mereka berhasil melakukannya, mereka lantas mengamati dari jauh, agar keseimbangan keberlangsungan hidup manusia bumi, dapat berjalan secara alamiah. Walau tak hayal, Ras Cerdas inipun terkadang mengirimkan suatu aturan, norma, atau bahkan hukum-hukum yang dikirimkan dari "langit" untuk keberlangsungan peradaban manusia bumi.

Saya tidak berani untuk mengutarakan, namun yang saat ini mengganjal dalam pemikiranku: "mungkinkah, Ras Cerdas pada zaman kuno, yang pernah kontak langsung dengan Manusia Bumi, adalah alien?! Dan melalui tradisi lisan maupun tulisan, nenek moyang manusia bumi, secara turun temurun, melalui sistem kepercayaan hendak mengutarakan kepada keturunannya, bahwa asal kecerdasan dan kehidupan manusia bumi, berasal dari Mereka?!

Ketika pikiran tersebut merasuk, spiritual ku pun mulai masuk dalam tataran yang lebih tinggi. Jika demikian, dimanakan posisi dan keberadaan Tuhan?

Ketika kelak manusia bumi, juga akan mempunyai gambaran dan rupa Tuhan dengan jelas, melalui teknologi canggih dan peradaban super maju, di era karir Peradaban Manusia Bumi bertaraf penjelajahan antariksa. 

Mungkinkah, kita juga akan disebut sebagai dewa, atau bahkan tuhan? Bagi ciptaan-ciptaan, atau anak-anak rekayasa kehidupan kelak? Ketika segala sesuatu itupun dapat kita lakukan pada saatnya nanti?!

Yaaa... Waktu lah yang akan menjawabnya...


__Salam Keseimbangan antar Ciptaan.

Taman Firdaus (Eden) - Teori Taman Observatorium




Postingan kali ini, semata-mata merupakan imajinasi berlebihan seorang perjaka, yang sedang iseng santai menenangkan pikiran dari penatnya aktifitas sehari-hari
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Diantara kita, pasti pernah bertanya-tanya, mengenai hal-hal yang misteri, diantaranya asal muasal “manusia” di planet Bumi. Nah… diujung rasa pertanyaan ini, secara reflek, biasanya kita mengandalkan “keyakinan” dan meyakini bahwa apa yang kita pikirkan atau imani adalah benar adanya. Meski tak hayal, informasi tersebut belum jelas sumbernya ataupun jelas sumbernya namun belumlah diuji dari berbagai ujian kebenaran informasi.

Seperti contoh:
1. Apa itu Taman Eden?
2. Dimana lokasi tempat tersebut?
3. Seperti apakah buah pengetahuan baik dan jahat, yang dimaksud?

Mengapa kita perlu menguji setiap informasi? Walaupun dari sumber TERPERCAYA sekalipun?

Alasannya sangatlah sederhana, yaitu agar rasa kepercayaan yang kita miliki, adalah rasa percaya yang OTENTIK ! yang sah, yang disaksikan banyak pihak. Banyak pihak yang dimaksud tentu selain diri kita sendiri.

Apa saja yang ada di tangan TUHAN?



"Hidup, mati, kaya, miskin, sakit, sehat, itu semua sudah ada yang mengaturnya..."
setiap orang ketika berpasrah diri akan menjawab dengan kalimat seperti disebutkan diatas, namun apakah hal itu benar?
Jika sudah ada yang mengatur, hidup-mati, kaya-miskin, sehat-sakit, maka standart apa yang digunakan untuk mengatur ini semua? apakah adil ketika si-A diberikan kekayaan, sedangkan si-B diberikan kemiskinan dalam hidupnya. Apakah bijaksana jika si-C diberikan kemuliaan, namun si-D diberikan kesengsaraan dan permasalahan yang pelik dalam kehidupannya?? dimana letak usaha dan prestasi?? jika segala sesuatu TELAH DIATUR!!! dan kita, manusia tinggal menjalankan peran, yang sesungguhnya TIDAK KITA INGINKAN, untuk DILAKUKAN??

Mencari Tuhan


Perjalanan panjang manusia dalam menapaki kerasnya hidup, selalu berakhir pada penyerahan diri kepada TUHAN. dari masa ke masa, dalam serentetan panjang kehidupan, generasi ke generasi, dalam perkembangan peradaban manusia TUHAN selalu ada menghiasi kajian spiritual ataupun naskah-naskah kuno umat manusia.

Siapa Tuhan itu?
Manusia selalu takut dan kawatir, lebih-lebih terhadap sesuatu hal yang tidak diketahuinya, sesuatu hal yang misterius baginya. Kadangpula ketakutannya pun tidak beralasan, ketakutannya bersifat abstrak. Ketakutan dan kekawatiran inilah yang membuat manusia mencari sandaran hidup, mencari perlindungan terhadap hidupnya.

Saya pernah mencoba untuk berpikir, saat awal mulanya makhluk yang bernama manusia ini memulai menemukan hidup yang baru, disaat kemampuan otaknya mulai bekerja.Mungkin disaat itulah manusia merasakan ketakutan yang teramat dahsyat, saat manusia menyadari akan keberadaan dirinya, menyadari akan keberadaan lingkungannya, menyadari akan daratan, tumbuhan, makanan, bagaimana bertahan hidup, bagaimana meneruskan keturunan, bagaimana cara untuk berperadaban. Dan terlebih manusia bumi sadar bahwa mereka adalah manusia, dan bukan hewan.

Friday, August 22, 2014

Bagaimana menjadi pengamat UFO yang baik, bagi pemula.

Penampakan UFO yangberhasil di tangkap
jepretan kamera -- Lokasi Blok M Jakarta
source klik
Generasi modern seperti saat ini, mungkin tidak lagi memperhatikan sesuatu disekitarnya, oleh karena budaya gadget yang tidak pernah lepas dari tangannya, dan juga mata beserta pikirannya. Sehingga kita kurang care terhadapfenomena-fenomena disekeliling kita. Padahal, bisa jadi ada sebuah fenomena UFO di sekitar kita, bisa jadi ada UFO yang melintas di jalan, di sawah, di danau, di pasar, atau bahkan di pinggir kali. Jika kita tanggap dan sigap, maka bisa jadi, kita adalh orang yang berhasil mengabadikan gambar/ foto UFO, atau bahkan memberikan informasi detail kepada yang bersangkutan, alhasil kita bisa dilipun media deh… hhahaaha… terkenallah kita !!!
Nah untuk itulah ….. kali ini Jhonnastudio memberikan beberapa tips dan trik singkat, untuk menjadi Pengamat UFO bagi Pemula.

Yehezkiel diajak ke pangkalan koloni Makhluk Langit, dari Khaldean ke Himalaya !??

Yehezkiel Melihat Wahana Antariksa 
source klik

Mungkin kita dibuat berdecak kagum dan bahkan heran, mendapati adanya fakta-fakta menarik tentang kontak alien dengan manusia bumi, yang dapat kita temukan bahkan dalam tulisan-tulisan yang kita anggap suci (kitab suci keagamaan). Seperti yang saya posting kali ini, yaitu dalam Kisah Yehezkiel. Bagi kita yang memeluk agama Yahudi ataupun Kristiani, pastinya sudah tidak asing lagi bagi kita. Yehezkiel adalah seorang suci (diangkat dan diberi gelar sebagai seorang Nabi Israel), atau disebut utusan Tuhan, yang bertugas sebagai pembawa pesan illahi kepada umat manusia, terkhusus bagi umat Israel kala itu. Diperkirakan Yehezkiel pernah hidup pada 600 tahun sebelum masehi. Di zaman saat Yehezkiel bertugas, pada saat itu kerajaan Israel mengalami masa-masa yang sulit, yang mana Negara ini sedang dijajah oleh  Bangsa Babilonia, dan beberapa diantara Rakyat Israel harus mengalami nasib kurang beruntung saat mengalami pembuangan ke negeri Babel, menjadi seorang budak dan menjadi tawanan perang.
Kontak pertama dengan makhluk langit (angkasa luar; antariksa.red), diawali pada saat peristiwa langit terbelah, dan terlihat “suasa mengkilap” yang masuk ke atmosfer bumi disertai perubahan cuaca ektrim, adanya angin kencang dan juga petir yang menyambar-nyambar. Dari dalam suasa itu, atau wahana terbang itu, terdapat empat makhluk bersayap, yang masing-masing wajah mereka menyerupai: lembu, burung rajawali, singa, dan anak manusia. Pada bagian dalam (dada) mereka terlihat sesuatu seperti suluh (nyala api) yang aktif bergerak (bisa jadi itu semacam energy aktif penunjang hidup makhluk asing tersebut). Sedangkan dikisahkan oleh Yehezkiel, wahana terbang lintas planet (wahana antariksa.red) tersebut berbentuk seperti bola, yang dipermukaannya terdapat tonjulan-tonjolan yang disebut seperti “mata”. Wahana terbang tersebut dapat bergerak ke segala penjuru, dapat menggelinding di darat, dan juga terbang perlahan mengambang di angkasa. (1)

Wednesday, August 20, 2014

Pawai Pembangunan Memperingati HUT RI yang ke-69 Kabupaten Blora Tahun 2014


Gempita perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia Ke-69 juga memberikan semarak tersendiri bagi Kota Tempat Tinggalku, yaitu Kota Blora tercinta. Ditengah suasana terik matahari yang sangat menyengat, udara panas tak tertahankan tidak menghentikan niat dan semangat daripada peserta Pawai Pembangunan siang ini, hari Rabu 20 Agustus 2014. Pawai yang kurang lebih dimulai pada pukul 08.00 WIB, dengan garis start di depan Rumah Dinas Kabupaten, dan diakhiri di Gedung DPRD Blora. Melalui rute yang agak jauh, yaitu: Aloon-aloon Kota Blora, berjalan ke arah Timur melalui Jl. Pemuda, Melalui bundaran Tugu Pancasila ke arah Selatan, menuju SMP Negeri 2 Blora, kemudian melaju ke arah Barat melalui Jalan Kolonel Sunandar sampai dengan perempatan Jalan Nusantara, melaju ke Utara melalui jalan Nusantara menyebrangi perempatan Panin Bank, ke arah Utara melaju terus ke Jalan K.H Ahmad Dahlan, kemudian ke arah Timur, melalui tanjakan aloon-aloon ke arah Utara melalui Jalan Gunung Wilis, disambung ke arah Timur melalui Jalan Dr. Sutomo, dan sampailah dipertigaan Kejaksaan dan berbelok ke Utara, mnuju ke Gedung DPRD Blora. Para peserta pawai dilepas dari depan Rumah Dinas Bupati, disana menampilkan atraksi terbaik masing-masing, dan dilanjutkan atraksi kedua dipertunjukkan di depan podium bertempat di depan Kantor Setda Jalan Pemuda.

Masyarakat Jawa Kuno, Kontak dengan Alien dari Bulan - Kajian Kisah Nawang Wulan

Benarkah Nawang Wulan adalah Alien??


Aku sangat yakin, bahwa Nawang Wulan adalah alien, atau makhluk cerdas, yang telah berperadaban lebih maju, berkebudayaan yang maju dengan teknologi yang super canggih daripada peradaban manusia Bumi. Nawang Wulan, pasti memiliki koloni yang berada di Bulan, lebih tepatnya berada di sisi gelap bulan (Dark Side of the moon) atau bahkan di dalam "Rongga Bulan", dengan peradaban yang super canggih, koloni tersebut berhasil menyebrang ke planet-planet lain, dan melakukan kontak dengan masyarakat planet lokal setempat, termasuk kontak dengan manusia bumi. Kontak itu pernah terjadi, saat Jaka Tarub dengan tidak sengaja mengintip Nawang Wulan saat mandi di dana Toyawening, bahkan menghasilkan putri hubungan kawin campur antar ras-planet. Namun, alangkah bodohnya kita, kita tidak lekas sadar, dan hanya menganggap kisah Dewi Nawang Wulan, sebagai kisah dongeng/folklore samata, dan terlelap tertidur setelah kisah tersebut selesai dibacakan.

Tuesday, August 19, 2014

Sudah benarkah persembahan kita, kepadaNya?



::: picture source: klik:::
Sebagai masyarakat beragama, pastinya kita tidak lepas dari istilah persembahan, yang adalah ungkapan syukur kita atas berkat dan anugerah dari Yang Esa. Bahkan bagi sebagian kita persembahan menjadi tiang utama dalam sebuah ritual keagamaan. Ada pula yang mempunyai kepercayaan bahwa, jika kita tidak bersembah maka akan dilaknat oleh Yang Kuasa. Tidak dipungkiri, adanya keakuan dalam melakukan persembahan yang terselip di dalam ritual, ada juga keinginan untuk disorot oleh masyarakat banyak dalam melakukannya, tak jarang hal tersebut menjadi jurang pemisah antara kaum yang mampu bersembah dan yang tidak mampu melakukannya. Di lain sisi, ada juga kaum fondamentalis yang bahkan lebih ektrim memaknai soal persembahan kepada Tuhan. Kaum ekstrimis ini percaya bahwa: persembahan yang benar adalah dengan mengkorbankan nyawanya demi Tuhan, dan berjalan di jalan Tuhan?! Benarkah demikian??

Nah, dari beberapa realita yang ada diatas, bagaimanakah sebaiknya sikap kita? Dari sinilah pembahasan dimulai, dalam bingkai persembahan yang benar, yang layak diberikan kepadaNya.

Saturday, May 17, 2014

Kematian adalah Awal dari Kehidupan


Pada postingan yang lalu, saya pernah menuliskan mengenai pengalaman saya dan ketakutan saya mengenai kematian (link), bahkan bayangan-bayangan tentang kematian yang selalu merasuki diri, sehingga membuat suasana kecemasan yang teramat sangat. Dan jika saya boleh jujur, itu sangatlah mengganggu.
Semua orang di dunia tanpa terkecuali pasti takut mati, jikapun ada yang tidak takut mati, kemungkinan yang terjadi adalah selama hidupnya mungkin dia sudah “mati”. Tentu saja mati dalam hidup itu bukanlah makna sebenarnya. Manusia normal, sehat jiwa, mental, dan raganya pasti mengalami ketakutan akan kematian. Hal ini dikarenakan, manusia ingin memperlakukan kehidupannya dengan sebaik-baiknya, sehingga dia takut mati.

Jika saya tidak takut mati, pastilah saya akan menyebrang jalan dengan sangat sembarangan, tanpa menoleh kanan dan kiri. Akan sekonyong-konyong menyebrang, karena saya TIDAK TAKUT MATI!
Lebih gila dari itu adalah, jika saya tidak takut mati, maka saya akan makan makanan sembarangan, apapun itu dapat saya makan. Entah itu makanan yang baik ataupun beracun, karena saya TIDAK TAKUT MATI!
Dan yang gila lainnya, jika saya tidak takut mati, saya akan masuk kedalam lingkungan preman, lingkungan para brandal, rampok dan orang-orang yang bengis lainnya, kemudian saya coba lecehkan kekasih dari salah seorang diantaranya. Niscaya saya akan mendapatkan hadiah bogem mentah, dan bisa-bisa saya digantung di tengah alun-alun kota, karena saya tidak takut mati.

Ketakutan akan kematian, adalah wajar.

Tanpa mengurangi rasa kepercayaan diri, ataupun iman. Karena kita sebagai manusia hanya sekali mengalami KELAHIRAN, sekali mengalami KEHIDUPAN, dan hanya sekali mengalami KEMATIAN.
Walupun wajar ketakutan akan kematian itu, namun tidak untuk menerus dipikirkan. Kita dewasa, dan dengan jujur menyadari bahwa kita pasti mati. Sehingga tak perlu lagi ditakutkan dan tak perlu dikhawatirkan. Lantas, bagaimana sebaiknya sikap kita?

Anggap saja, dunia ini adalah panggung perlombaan. Siapa yang terbaik, akan membawa pulang hadiah, kenangan baik, dan cerita yang baik pula. Pada saat perlombaan berakhir, dan saat itu pulalah, kita harus pulang dan membawa sejuta kenangan selama masa perlombaan dengan baik, penuh syukur dalam ketenangan. Ketika perlombaan berakhir, dan setiap orang harus pulang,  maka banyak cara dan beragam jalan yang mereka tempuh. Ada yang lebih memilih untuk berjalan kaki menyusuri trotoar, ada yang dengan berlari kencang karena tak sabar ingin sampai rumah, ada yang naek sepedah, ada yang mengendarai motor, mobil, pesawat, kapal laut, dan beragam cara yang ditempuh dengan tujuan RUMAH.

Tidak ada Tempat yang lebih indah dibandingkan RUMAH kita.

Dunia adalah panggung perlombaan, setiap manusia berlomba-lomba melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri lebih dahulu, untuk kebaikan bersama. Tak dipungkiri, bahwa dalam perlombaan pasti ada permasalahan, intrik, dan bumbu-bumbu menarik, ada pula kebahagiaan, ada pula kesedihan. Ada keberhasilan, ada pula kegagalan. Apapun yang kita rasakan, ingin rasanya bergegas sampai di rumah, untuk mencurahkan segala hal yang telah kita jumpai selama dalam perlombaan. Tidak ada tempat yang lebih indah daripada rumah  kita.

Adalah suatu kisah:
Seorang ayah mempunyai  dua orang anak, sebut saja SULUNG dan BUNGSU.
Pada suatu ketika si BUNGSU meminta hak atas harta warisannya, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah guna menghambur-hamburkan kekayaannya. Dia menghamburkan harta miliknya kepada para perempuan-perempuan nakal, membenamkan dirinya dalam pesta pora penuh kemabukan duniawi, dan membuat dunianya penuh dengan hawa napsu dunia. Selang beberapa waktu, si BUNGSU menyadari bahwa hartanya kini telah habis, dan tidak bersisa. Teman-temannya yang dulu sangat menghargainya, kini telah pergi jauh meninggalkannya, karena si BUNGSU sekarang dalam kondisi melarat. Hari-harinya kini tak semewah dan semegah dulu. Saat dia lapar, dia hanya bisa meminta kepada seorang majikan untuk memberikan kepadanya sisa-sisa makanan, namun tidaklah dia dapatkan. Dan betapa terharunya dia, ketika ada seorang peternak babi, yang memperbolehkan ia untuk mengisi perutnya dengan ampas makanan, yang dimakan pula oleh ternak babi.

Hidupnya kini jauh lebih sengsara, dan dia sangatlah malu untuk pulang. Karena ayahnya pasti tidak akan mengakui dia kembali sebagai anaknya. Hari-demi hari si BUNGSU mengisi hidupnya dengan bekerja di peternakan babi, dan sampailah ia di ujung kesabarannya. Dia memutuskan untuk berhenti, dan kembali pulang ke rumah ayahnya. Tidak perduli apapun yang akan terjadi padanya, karena dia menyadari hidup sebagai budak pun, dirumah ayahnya, jauh lebih mulia disbanding hidupnya saat ini.

Si BUNGSU menguatkan tekatnya, dan sampailah dia di depan rumah ayahnya, dengan rasa malu, dia menatap ke pintu gerbang rumahnya. Tampaknya SANG AYAH sudah sejak lama menanti-nantikan kedatangan anaknya yang BUNGSU itu, dari kejauhan SANG AYAH berlari dan menghampiri anaknya yang telah lama hilang, merangkulnya, menciumnya dan menyuruh pelayan-pelayan untuk mengganti pakaian dan kasut yang telah kumal ia kenakan. Bahkan SANG AYAH membuat pesta penyambutan, yang sangat meriah guna ucapan syukur atas kepulangan anaknya yang BUNGSU.

Tidak ada tempat yang lebih indah daripada di rumah, oleh karena dirumah kita bisa beristirahat dengan tenang, dan kita tidak perlu takut, tidak perlu malu untuk mengakui segala hal yang telah kita perbuat.
Pada suatu saat nanti ketika kita pulang, maka “SANG AYAH” akan tetap berbelas kasih, berbaik hati menyambut setiap anak-anakNya yang pulang dalam kebaikanNya.


Yang awal adalah yang akhir, dan yang akhir adalah yang awal.

Kita tidak perlu kawatir tentang bagaimana, kapan, dimana kita mati. Karena kematian adalah wajar, dan mari menyikapinya secara wajar-wajar saja.
Mobius spiritualitas, mengingatkan kita bahwa “Awalan adalah akhiran, dan akhiran adalah awalan”. Mungkin saat ini kita menyangka bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Kematian bukanlah akhir, namun awalan untuk kehidupan baru.
Sering pikiran kita dirundung kekawatiran dan ketakutan akan kematian, namun cobalah mulai saat ini, kita tidak perlu lagi terlalu mencemaskan hal itu.

Cobalah kita memikirkan bahwa, kematian adalah cara dunia ini untuk menyusun kehidupan selanjutnya. Artinya bahwa dengan kematian kita, maka akan muncul, akan lahir kehidupan-kehidupan baru yang akan mewarisi kehidupan, daripada unsur-unsur kematian kita.
Semua manusia yang mati, pasti akan membusuk raganya, system organnya pasti tidak akan lagi bekerja. Oleh karena tidak ada keseimbangan penyusun kehidupan. Otakknya juga akan membusuk sama seperti setiap organ-organ yang lain (kecuali tulang belulang). Setiap memori akan terhapus, oleh karena otak sudah terurai. Unsur-unsur hara akan terurai dan larut dalam tanah dan air, masuk kedalam siklus bio-geo-kimia. Unsur-unsur yang tepat, diserap kembali oleh tumbuh-tumbuhan untuk menyokong kehidupannya, begitupula dimanfaatkan oleh serangga, dan makhluk-makhluk detrivor (pemakan detritus, atau pemakan remah-remah organis). Unsur dalam kematian manusia, larut dalam bagan aliran kehidupan lain, guna menyokong kehidupan baru.

Kematian bukanlah akhir, namun adalah suatu gerbang baru untuk kehidupan-kehidupan yang baru, yang lahir dari kematian kita.
Kita tidak perlu menyesali yang telah tiada, karena dari ketiadaan itu, banyak bermunculan suatu keberadaan baru dalam beragam jenis, warna, dan rupa. Sebaiknyalah kita bersyukur senantiasa, karena alam ini telah mengatur dirinya dengan sebaik-baiknya. Mari kita coba membayangkan sejenak, jika setiap makhluk di planet bumi ini semuanya kekal?, lantas cukupkah unsure-unsur di bumi ini menyokong sekian banyak kehidupan? TIDAK !!! yang akan terjadi adalah banyaknya penyakit, meningkatnya polusi dan pencemaran, banyaknya tingkat kriminalitas, banyaknya konflik, banyaknya perang, dan lebih mengerikan dari itu semua adalah kita akan mengalami krisis multi-dimensi, mengalami krisis air bersih, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis budaya dan sebagainya.


Maka baiklah kita tetap berfikiran wajar, dan menyandarkan hidup kita yang singkat ini, dengan perbuatan-perbuatan baik,  dalam perlombaan kebaikan di dalam kehidupan.


____Salam Keseimbangan antar Ciptaan

Banyak Jalan Menuju Sorga


Ketika tulisan ini berhasil di posting, pasti akan menimbulkan reaksi, entah itu pro ataupun kontra. Baik pro ataupun kontra, saya tidak sama-sekali mempermasalahkan hak para pembaca sekalian, karena itulah arti kemerdekaan. Saat saya menulis ini, saya sama sekali tidak menginginkan adanya orang yang menyetujui, atau membenarkan pemikiran saya. Ini hanyalah ekspresi saya, melihat keadaan Indonesia yang majemuk. Terlebih akan saya soroti dalam kajian agama.

Tak ada satupun manusia beragama yang tidak mengenal dogma sorga ataupun neraka. Keduanya merupakan tempat yang akan manusia tuju setelah kematian. Seingat saya, itulah yang diajarkan dalam dogma agama. Doktrim sorga dan neraka terasa sangat kental, saat kita mempelajari teks-teks religius dari agama-agama Samawi, atau agama-agama Pewahyuan, diantaranya: Yahudi, Kristen dan Islam. Dalam ketiga agama agung inilah kita dapat bersentuhan langsung dengan konsep pemikiran, tentang sorga dan neraka.

Tuesday, May 13, 2014

Beragama namun seperti "tidak berTUHAN"


Dewasa ini saya kerap kali menyaksikan baik itu secara langsung, ataupun melalui media cetak, media elektronik, ataupun dalam media internet, adanya tindakan-tindakan anarkistis yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatas namakan agama. Saya sangat keheranan, dengan atribut keagamaan yang komplit, dengan bahasa-bahasa kekhasan dari keagamaan tertentu, bahkan dengan membawa-bawa simbol agama tertentu, orang-orang ini seolah lupa bahwa mereka adalah hamba Tuhan. Dengan berbuat anarkis melakukan perusakan, melakukan tindakan nekad memukul orang lain yang dianggap musuhnya, bahkan pernah suatu ketika saya menyaksikan mereka yang mengaku taat dalam agamanya, membakar hidup-hidup orang lain yang saat itu berbeda keyakinan dengannya.

Bukankah dalam agama diajarkan suatu nilai kebenaran?, bukankah di dalam agama selalu ditekankan perbuatan moral yang luhur? Akhlak yang mulia? Pantaskah perbuatan yang mereka lakukan tersebut?

Hanya "beragama saja" tanpa pengetahuan, membentuk moral yang eksklusif. Masyarakat beragama saat ini, saya mencoba menilai, mereka hanyalah beragama saja, tanpa adanya bekal pengetahuan. Hal ini sungguhlah sangat berbahaya, oleh karena masyarakat mudah dihasut, mudah diprovokasi dengan iming-iming pahala sorga. Selain itu, masyarakat ditekankan teror yang menakutkan akan panasnya api neraka, bila mereka tidak menjalankan anjuran dari agamnya. Inilah yang menjadi masalah kita bersama.

Sebagian besar masyarakat beragama di Indonesia, hanya beragama saja, alias hanya menjalankan aturan agamanya secara harafiah (tertulis), namun mereka tidak memahami apa maksud dari yang tertulis tersebut.
Inilah bahayanya, jika kita hanya "beragama-saja".

Thursday, April 10, 2014

Spiritualisme dalam Tradisi Weton: Bubur Merah Bubur Putih



Stigma negatif kerap kali menempel kepada masyarakat tradisi, yang masih menjalankan budaya leluhurnya. Bahkan cibiran, ejekan serta kata-kata yang melukai hati sering dirasakan, oleh karena menjunjung tinggi nilai-nilai budaya tersebut. Menjadi berbeda dari umumnya masyarakat menjadi sorotan tajam dan sinis, menjadikan banyak diantara masyarakat tradisi yang tidak lagi menjunjung budayanya, karena takut DIASINGKAN, takut DIMATERAIKAN, takut disamakan dengan budaya-budaya KETIDAKPERCAYAAN kepada TUHAN yang MAHA ESA.
Masyarakat umum, banyak yang mencibir, mengolok-olok tradisi ini, dan menggunakan ejekan, cacian mereka sebagai senjata yang sangat diskriminatif untuk menyerang masyarakat diluar kaum mereka. Akhirnya terjadilah jurang pemisah antara masyarakat umum (agama) dan masyarakat tradisi.

Apakah yang memberikan penghakiman, sudah tahu betul dengan yang mereka lakukan?
Apakah salah bagi mereka yang masih menjalankan tradisi leluhurnya?

Monday, April 7, 2014

Hari yang Indah, untuk Mati



Setiap orang pasti takut mati !!!
aku takut MATI, aku yakin KAMU juga takut mati bukan!?
tidak bisa dipungkiri, semua yang HIDUP pasti bakal MATI
KEMATIAN adalah akhir dari KEHIDUPAN.
jika ada hidup pasti ada mati, dua hal yang tidak bisa dipisahkan...

Lantas, seperti apa kita mempersiapkan KEMATIAN?
apa saja yang harus kita persiapkan??

Nilai Budaya atau Nilai Agama??




Kita belum sepenuhnya sadar, kita masih dalam separuh kesadaran.
Yang kita anggap benar saat ini, belum lah kebenaran yang sejati.

Jika kita belum tahu apa itu KEBENARAN, dan kemudian kita melakukan KESALAHAN, 
maka kita dalam posisi yang benar
Karena kita TIDAK TAHU APA YANG KITA PERBUAT...
Namun,,
Jika kita sudah mengetahui KEBENARAN, dan kemudian kita menyelewengkan hati, untuk melakukan dan bertindak yang SALAH,
maka kita dalam posisi yang BEBAL, dan sudah barang tentu kita SALAH !!!
Karena hanya orang BEBAL-lah yang tau KEBENARAN, namun tetap melakukan KEJAHATAN...

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------