Showing posts with label Spiritualitas. Show all posts
Showing posts with label Spiritualitas. Show all posts

Tuesday, February 3, 2015

Selamat Natal?? Oooww yaaa? Seperti itu...!!! Lalu ??


Saat Natal 2014 tiba, saya merasa terjebak dalam perasaan yang aneh. Biasanya, semangat Natal membuat saya ingin menghabiskan pulsa SMS atau telepon untuk mengucapkan "Selamat Natal" kepada teman, keluarga, atau rekan kerja yang merayakan hari kelahiran Yesus Kristus pada 25 Desember. Namun tahun ini, saya tidak memiliki dorongan yang sama.

Bukan berarti saya menjadi acuh tak acuh terhadap Natal. Perasaan saya berubah tahun ini, dan dorongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tradisional yang saya lakukan setiap tahun tampaknya memudar. Saya merasa terputus dari perayaan yang sebelumnya membuat saya bersemangat dan penuh energi.

Saat saya mengamati sekitar, saya sadar bahwa yang paling diuntungkan dari keramaian Natal ini tampaknya adalah penyedia layanan telekomunikasi. Mereka akan meraup keuntungan besar dari lonjakan komunikasi selama musim liburan. Keberhasilan bisnis mereka pada Natal sangat bergantung pada volume SMS dan panggilan telepon, menjadikan mereka pemenang terbesar dari perayaan ini.

Di pusat-pusat perbelanjaan dan toko-toko di kota saya, suasananya semakin meriah dengan atribut Natal—pohon Natal yang berkilauan, topi merah dengan pom-pom putih, bando tanduk rusa, syal merah dan hijau, serta berbagai fashion Natal yang glamor tertata rapi di jendela-jendela toko. Pemandangan ini sangat mencolok dan terasa seperti pertunjukan besar.

Namun, saya mulai bertanya-tanya, apakah inilah Natal yang sebenarnya? Pemandangan kemegahan ini membuat saya mempertanyakan apakah semua ini memiliki makna yang lebih dalam, ataukah hanya sekadar pertunjukan yang mengesankan mata tetapi kosong makna.

Makna yang Sebenarnya

Dalam keheningan malam, di tengah hiruk-pikuk musik Natal yang keras dan tepuk tangan lelah dari kerumunan yang sudah jenuh dengan perayaan berulang, saya mulai merenungkan: apakah ini benar-benar Natal? Siapa atau apa yang sebenarnya kita rayakan? Apakah kita merayakan formalitas atau spiritualitas? Keriuhan atau kesadaran?

Mari kita kembali ke sekitar tahun keempat sebelum Masehi. Bayangkan Maria, ibu Yesus, yang berjuang mencari tempat untuk melahirkan. Maria dan tunangannya, Yusuf, tidak menemukan tempat yang layak untuk melahirkan Yesus. Mereka tidak disambut dengan musik yang keras atau pakaian mahal. Tidak ada dekorasi mewah untuk kelahiran Yesus. Bayi Yesus hanya disambut oleh para gembala, hewan ternak, dan dibaringkan di palungan tempat makan ternak.

Saya membayangkan suasana tersebut sangat sederhana dan keras. Penerangan minimal hanya berasal dari api yang redup, dan ketidaknyamanan saat itu—gigitan nyamuk, gatalnya jerami di kulit, dan bau kotoran hewan—sangat kontras dengan kemewahan yang sering kita asosiasikan dengan Natal saat ini.

Irama Perayaan Modern

Melihat bagaimana banyak uang dihabiskan dan makna sejati Natal sering kali dilupakan, saya merasa bahwa kita mungkin menjadi orang-orang yang munafik. Natal bukanlah tentang musik yang indah, pujian yang megah, atau khotbah yang berapi-api. Natal bukanlah tentang dekorasi yang mewah, baju baru, atau perhiasan mahal. Natal bukanlah tentang door prize yang mahal atau berapa banyak uang yang kita habiskan untuk perayaan ini.

Natal seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang kita belanjakan atau seberapa megah perayaan kita. Esensi Natal terletak pada semangat yang lebih dalam—sebuah panggilan untuk menghadirkan kedamaian, cinta, dan kebaikan dalam hidup kita. Tanpa memahami dan menerapkan semangat kelahiran Yesus dalam diri kita, kita belum benar-benar merayakan Natal.

Yesus tidak memerlukan nyanyian yang indah, pakaian yang bagus, tarian yang memukau, atau perayaan yang mewah. Apa yang Yesus inginkan adalah umat manusia untuk membawa damai, kebahagiaan, dan kebaikan kepada semua orang, terlepas dari agama atau kepercayaan mereka.

Refleksi Pribadi dan Kritik Terhadap Konsumerisme

Ketika saya memikirkan Natal, saya tidak bisa tidak merasa bahwa perayaan ini telah mengalami perubahan besar dari makna aslinya. Natal seharusnya menjadi waktu untuk introspeksi dan perenungan, bukan hanya sekadar waktu untuk belanja dan pesta. Dalam masyarakat modern, perayaan Natal sering kali dipenuhi dengan konsumerisme yang berlebihan. Iklan-iklan Natal menghiasi televisi dan media sosial, mempromosikan barang-barang mewah yang seolah-olah menjadi esensi dari perayaan tersebut.

Kita hidup di dunia di mana komersialisasi Natal sering kali mengalihkan fokus dari makna spiritualnya. Kita dikelilingi oleh tekanan untuk membeli hadiah mahal, menghias rumah dengan dekorasi yang glamor, dan merayakan dengan pesta yang megah. Semua ini bisa menjadi distraksi dari esensi sebenarnya dari Natal.

Saya juga mulai mempertanyakan apakah perayaan Natal yang mewah ini benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Yesus. Apakah kita menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk mengkonsumsi dan merayakan, sementara esensi sejatinya—kedamaian, cinta, dan kebaikan—sering kali terlupakan?

Natal seharusnya menjadi waktu untuk memperbaiki hubungan, berbuat baik kepada orang lain, dan menunjukkan kasih sayang. Alih-alih membuang-buang uang untuk barang-barang yang tidak benar-benar diperlukan, kita harus lebih fokus pada bagaimana kita dapat memberikan dampak positif dalam hidup orang lain.

Pembelajaran dari Sejarah Natal

Mari kita renungkan kembali latar belakang historis dari Natal. Kelahiran Yesus Kristus terjadi dalam kondisi yang sangat sederhana dan penuh kesulitan. Maria dan Yusuf menghadapi tantangan besar dalam mencari tempat untuk melahirkan. Mereka tidak mendapatkan fasilitas yang layak atau penyambutan yang meriah. Sebaliknya, mereka menerima kehadiran sederhana dari para gembala dan hewan ternak, serta tempat tidur Yesus di palungan.

Keberadaan Yesus di palungan bukanlah simbol kemewahan, tetapi lebih kepada simbol kesederhanaan dan kerendahan hati. Ini adalah pengingat bahwa nilai-nilai utama Natal bukanlah tentang kemewahan atau materi, tetapi tentang cinta dan pengorbanan.

Menghidupkan kembali semangat kelahiran Yesus berarti kita harus kembali pada nilai-nilai dasar yang mendasari perayaan ini—kasih, damai, dan kebahagiaan. Ini berarti menempatkan fokus pada bagaimana kita dapat menunjukkan kebaikan kepada orang lain dan menjalani kehidupan dengan penuh empati dan rasa syukur.

Menerapkan Semangat Natal dalam Kehidupan Sehari-Hari

Untuk merayakan Natal dengan cara yang bermakna, kita harus memastikan bahwa semangat Natal tercermin dalam tindakan kita sehari-hari. Ini bukan hanya tentang bagaimana kita merayakan pada tanggal 25 Desember, tetapi bagaimana kita menjalani hidup kita sepanjang tahun.

Kita dapat memulai dengan melakukan tindakan kecil tetapi signifikan yang mencerminkan nilai-nilai Natal. Misalnya, kita dapat terlibat dalam kegiatan sukarela, membantu mereka yang kurang beruntung, atau hanya memberikan waktu dan perhatian kepada orang-orang yang kita cintai. Tindakan-tindakan ini adalah cara nyata untuk merayakan Natal dengan makna.

Selain itu, kita juga perlu merenungkan bagaimana kita dapat menyebarkan semangat Natal kepada orang lain. Ini bukan hanya tentang memberikan hadiah, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan, memberikan dukungan, dan menyebarluaskan cinta di sekitar kita.

Natal adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri dan memperbaiki hubungan kita dengan orang lain. Ini adalah kesempatan untuk memaafkan, menyelesaikan konflik, dan memperkuat ikatan dengan keluarga dan teman. Dengan melakukan hal ini, kita tidak hanya merayakan Natal, tetapi juga menyebarkan semangat Natal dalam kehidupan sehari-hari.

Natal sebagai Waktu untuk Perubahan Positif

Kelahiran Yesus adalah simbol perubahan dan pembaharuan. Ini adalah kesempatan untuk memikirkan bagaimana kita dapat melakukan perubahan positif dalam hidup kita dan masyarakat. Natal harus menjadi pengingat bahwa kita memiliki kemampuan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik melalui tindakan kasih sayang dan kebaikan.

Kita juga harus mempertimbangkan bagaimana kita dapat lebih memperhatikan dan mendukung orang-orang di sekitar kita. Ini mungkin termasuk membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan, memberikan dukungan emosional, atau bahkan hanya menawarkan senyuman dan kata-kata yang baik.

Dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa semangat Natal tidak hanya ada selama satu hari dalam setahun, tetapi hidup dalam tindakan kita sepanjang waktu. Ini adalah tentang membuat dampak yang positif dalam hidup orang lain dan memperkuat nilai-nilai yang mendasari perayaan Natal.

Kesimpulan

Natal adalah waktu untuk merayakan lebih dari sekadar tanggal atau perayaan fisik. Ini adalah waktu untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari kelahiran Yesus dan bagaimana kita dapat menghidupkan semangat Natal dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang penuh

Sunday, October 26, 2014

Tuhan dan Alien



Para skeptis, adalah mereka yang tidak mau mempercayai hal-hal apapun yang menurut mereka tidak dapat dipercayai oleh akal pikiran mereka. Skeptis mempunyai sudut pandang tersendiri dalam kenyamanan dalam mempercayai sesuatu. Bahkan pada kenyataannya para kaum skeptis tidak mau mempercayai walaupun kebenaran tersebut benar-benar telah dibuktilan secara otentik.

Pada awalnya saya merupakan, atau tergolong dalam person yang sangat skeptis dengan yang namanya ALIEN. Saya sangat tidak dapat meyakini bahwa alien adalah eksis dan benar-benar ada di dunia material.yang fana ini. Saya cukup mengira, bahwa alien hanya eksis dalam ranah perfileman Hollywood. Saya semenjak kecil sangat kental dan taat akan kisah dan praktik-praktik agama yang saya emban saat ini, dan dalam sistem kepercayaan tersebut saya tidak bisa mempercayai adanya makhluk lain di semesta ini, selain manusia dan makhluk-makhluk di planet bumi.

Dalam pelajaran atau theologi yang saya terima, bahwa bumi merupakan planet yang dirahmati oleh Sang Kuasa, hanya satu-satunya planet yang diberikan berkah olehNya, yaitu berkah adanya kehidupan di dalamnya. Bahkan secara khusus dikisahkan dalam suatu metafora spiritual, dalam salah sayu madah dikisahkan, bahwa penciptaan dengan central di planet bumi ini dilakikan dalam enam hari dan pada hari yang ketujuh, Sang Pencipta beristirahat untuk melakukan Perayaan Sabbath dan menguduskan ciptaanNya.

Dari dogma theologis tersebut, sangat sulit bahkan mustahil saya bisa berpikir akan adanya kehidupan lain, selain di planet bumi. Namun seiring berjalannya waktu, pengetahuan bertambah, begitupula kemampuan untuk pribadiku berpikir juga mengalami evolusi ke tingkat yang lebih baik.

Awalnya saya beranjak dari adanya film cartoon minggu pagi, yaitu: Dragon ball, yang mana mengisahkan bahwa Son-Gokku merupakan makhluk asing berpengetahuan dari planet luar bumi. Adapula Sailor Moon dan prajurit wanita penjaga tata surya "matahari". Selian itu ada serentetan filem yang berdampak sebagai budaya global, yang terindikasi memberikan pencerahan masa bagi yang menontonnya. Bisa dibilang: Distric Nine, Avatar Planet Pandora, Skyline, Jhon Charter, Transformers, Sign, Alien vs Predator, Alien and Cowboy, dan sebagainya.

Dan semakin tertantang lagi untuk belajar dari tulisan-tulisan kuno seperti Enuma Elish dari atefak Banilonia. Ada juga kitab Henokh, buku Urantia, adanya paham agama baru yang bernama Realianisme, yang mempercayai akan keberadaan Alien. Dan rasa penasaranku akan adanya bangunan megah luar biasa yang dibangun di zaman kuno dengan teknologi yang seharusnya super canggih, namun tidak mungkin terjadi sebab dibangun dalam peradaban manusia yang masih sangat primitif.

Dengan pengalamam pengetahuan tersebut semakin membuka cakrawala pemikiranku, bahwa alam semesta ini tidak hanya seluas bumi. Bumi kita hanya setitik debu yang super kecil diantara trilyunan bintang di alam semesta yang tidak terbatas. Sehingga peluang adanya planet serupa dengan bumi adalah sangat besar kemungkinannya. Sikap skeptisku berangsur-angsur memudar, dan beralih menjadi sangat tertarik dengan asanya kebudayaan peradaban modern yang dikemas dalam kepercayaan adanya Alien.

Lantas apa kaitannya dengan judul postingan kita kali ini?
Jika alien benar-benar ada dan eksis, akankah hal ini mempengaruhi kepercayaan kita akan adanya entitas yang MAHA yang sepanjang peradaban menyebutnya dalam beragam nama mulia, yaitu TUHAN??

Akankah nilai keberadaan Tuhan mulai luntur dengan adanya peradaban modern yang mempercayai adanya Alien?? 
TENTU SAJA TIDAK !!!

Dalam postingan saya saat ini, saya ingin menyuarakan apa yang sedang saya pikirkan. Kita tidak perlu khawatir akan adanya gelombang kepercayaan baru, yang diisukan akan merombak sistem keagamaan dunia. Itu semua belum tentu benar adanya.

Eksistensi Alien, malahan membuat kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi semakin kuat dan mendalam. Pengenalan kita kepada Tuhan memjadi semakin luas dan kita dibawa menuju level spiritual yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Alien merupakan ciptaan yang sama dengan kita manusia, namun mereka berhasil melakukan tahap demi tahap evolusi di dalam planet kampung halaman mereka untuk sebuah misi sebagai penguasa di planet tersebut. Mereka merupakan ras prime untuk planet mereka sendiri. Bahkan teknologi dan peradaban mereka bisa jadi jauh lebih canggih dibanding peradaban manusia bumi.

Kita tahu bahwa kita merupakan hasil daripada rantai evolusi yang memakan waktu ribuan bahkan jutaan tahun, yang merupakan saudara dari simpanse, gorilla, bonobo, kera dan primata lainnya. Namun karena satu-satunya yang mempunyai akal pikiran dan berkomunikasi melalui bahasa, kita dapat memenangkan seleksi alam, dan menjadi makhluk superior di planet bumi ini. Sama dengan hal tersebut, bisa jadi jauh di luar planet bumi adalah makhluk dari genus lain yang berevolusi dan menyesuaikan diri dengan habitatnya maka akan mempunyai wujud dan rupa yang sedikit berbeda katimbang manusia bumi. Atau bahkan mereka sudah menguasai teknologi android yaitu menggabungkan makhluk biologis dengan teknologi mesin yang terkomputerisasi. Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Atau bisa jadi alien cerdas tersebut, sudah mampu menguasai teknologi memecah sel-sel tubuh mereka sebesar partikel nano dan kemudian mampu merekonstruksi tubuh mereka kembali, sehingga mampu melaju pesat delalam kecepatan cahaya melintasi semesta yang tak terbatas. 

Sejak kapan peradaban canggih super maju, yaitu peradaban alien tersebut ada? Darimana mereka berasal? 

Sebenarnya kita tidaklah tau-menau perihal eksistensi mereka, namun mari kita sedikit berpikir, akan luasnya semesta kita yang tidak ada batasannya ini. Semesta yang tanpa ada batasan, yang tidak tau kapan awalan dan akhirannya, menimbulkan pertanyaan sekaligus misteri yang masih sulit untuk disibakkan. 

Namun satu yang pasti, segala sesuatu pasti ada yang mengawali. Seperti teori yang dikemukakan oleh Louis Pasteur, yang merupakan dalil dari hukum Biogenesis, yang demikian: 

"Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo" 
Yang berarti: "semua kehidupan berasal dari telur, semua telur berasal dari kehidupan, dan semua kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya" 

Namun, bagaimana asal muasal kehidupan itu muncul? Masih juga dipertanyakan. Ada pula teori lain yang menyatakan bahwa kehidupan perdana muncul oleh sebab ketidaksengajaan, spontanaeous generation. Kehidupan muncul secara tiba-tiba dan spontan. Bahkan dalam beberapa penelitian mengatakan bahwa kehidupan muncul dari bentuk senyawa yang berasal dari benda mati. Teori tersebut dikenal dengan istilah Abiogenesis, atau Teori asal muasal kehidupan dari benda mati. 

Memang secara nalar rasional, kita masih sukar untuk menerima kebenaran tersebut. Hal itu dikarenakan kita lebih dahulu bersinggungan dengan theologi, atau dogma yang berasal dari sistem kepercayaan atau agama, yang memberi gambaran akan kuasa Sang Pencipta dalam melakukan penciptaan secara spektakuler dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, atau Creatio Ex Nihilo. Hal ini hanya dapat hidup dan menjadi pegangan bagi kaum agamawan, yang notabene mengimani akan hal tersebut, dengan berbekal kepercayaan dan rasa nyaman belaka, yang pada kemudian hari tidak lagi mau untuk mencari kebenaran melalui disiplin ilmu-ilmu lainnya.

Segala metode yang digunakan untuk menyentuh zona misteri akan adanya Ras Kecerdasan lain di luar planet bumi,sudah dikerahkan dan diupayakan, namun sampai saat ini, itu semua masih dalam tataran Hipotesa tanpa bukti.

Kemudian dari dalam pemikiran ku, muncul sekelumit pertanyaan, jika memang benar Ras Cerdas di luar bumi itu benar-benar ada dan eksis, lantas apa tujuan mereka melakukan penjelajahan semesta dan mengeksplorasi planet-planet primitif dalam galaksi-galaksi muda? Atau setidaknya manusia bumi pernah mengalami kontak dengan ras Cerdas tersebut. Entah di zaman modern atau pada zaman kuno.

Beberapa jawaban kucoba untuk ulas dalam postingan kali ini, demikian:

1. Mencari sumber energi lain.
Mengapa demikian:
Hal ini mungkin dipengaruhi oleh karena, keterbatasan sumber daya alam yang terkandung di dalam planet mereka. Sehingga mereka berusaha untuk mencari energi lain, atau mencari alternatif energi di planet-planet yang mereka sinyalir terdapat cadangan energi yang melimpah. Atau ras Cerdas ini, hendak mencari logam-logam tertentu, seperti emas, yang berguna sebagai konduktor listrik yang paling baik diantara logam lainnya. 

Dari zaman dahulu, emas merupakan logam yang sangat tersohor di kelasnya, oleh sebab logam emas tidak dapat mengalami korosi (perkaratan), dan merupakan penghantar listrik yang sangat baik, karena sifatnya yang bebas hambatan. Sehingga energi listrik yang dialirkan melalui logam emas tidak mengalami pengurangan oleh karena, tidak adanya hambatan.

2. Membentuk Koloni Baru
Bisa jadi, ras Cerdas dari Galaksi atau planet lain, ingin mengembangkan koloni mereka. Membentuk suatu sistem peradaban yang maha luas, guna menguasai jagad raya. Atau hanya sekedar mempertahankan kelangsungan hidup ras cerdas itu sendiri. Bayang kan saja, ketika suatu makhluk bisa sampai pada fase Intelegensia dan berperadaban super modern dan canggih, pastinya memerlukan ribuan tahun, dan mengalami ratusan kali fase evolusi. Sehingga mereka tidak ingin Ras Mereka punah begitu saja. Mereka melestarikan Ras mereka dengan cara membentuk koloni baru disuatu planet yang layak huni lainnya.


3. Melakukan penelitian, dalam rangka menciptakan organisme cerdas yang baru.
Nah kalo yang ini, agaknya terlampau berlebih. Namun saya pernah berpikiran yang sama dengan pernyataan tersebut.
Bisa jadi Ras Cerdas yang melintasi antariksa dan menetap disuatu planet tertentu, hendak melakukan suatu percobaan. Dan percobaan itu dinamakan "Life Carier" atau Pembawa Kehidupan. Oleh karena kecerdasan, serta teknologi mereka yang super canggih, sudah barang tentu, dan bukanlah hal yang mustahil ketika mereka dapat melakukan suatu tugas untuk menciptakan suatu bentuk kehidupan baru, dari sebuah kehidupan primitif di sebuah planet yang belum berpenghuni.

Bisa jadi Dewa, atau Malaikat, atau penghuni langit yang dikisahkan dalam naskah-naskah suci, ataupun tulisan-tulisan keagamaan, merupakan sekelompok atau sekumpulan daripada Ras Cerdas yang berasal dari suatu tata surya yang jauh dari bumi, dan hendak menciptakan kehidupan baru di planet bumi yang kala itu masih sangat primitif.

Manusia bumi yang merupakan ras evolusi dari genus homo, dengan spesies sapiens. Bisa jadi merupakan rekayasa genetik suatu ras Cerdas, yang dikemudian hari disebut dengan istilah dalam ranah spiritual yang transenden, yang tidak dapat ditangkap oleh nalar primitif suatu pola peradaban manusia bumi yang kala ini masih sangat primitif.

Di sebuah taman observatorium, yang kala itu sangat terkenal dengan pohon kehidupannya, percobaan kehidupan inipun dimulai. Ketika manusia bumi, yang merupakan rekayasa genetika dari genus homo, yang adalah kerabat dekat dari simpanse, gorila, orang utan dan bonobo. Ras Cerdas tersebut, mungkin juga tidak secara naif, dan terlampau narsis ketika mereka berhasil menciptakan suatu kecerdasan baru, walaupun masih sangat primitif, yang kemudian di sebut dengan istilah peradaban Manusia Bumi.

Ketika mereka berhasil melakukannya, mereka lantas mengamati dari jauh, agar keseimbangan keberlangsungan hidup manusia bumi, dapat berjalan secara alamiah. Walau tak hayal, Ras Cerdas inipun terkadang mengirimkan suatu aturan, norma, atau bahkan hukum-hukum yang dikirimkan dari "langit" untuk keberlangsungan peradaban manusia bumi.

Saya tidak berani untuk mengutarakan, namun yang saat ini mengganjal dalam pemikiranku: "mungkinkah, Ras Cerdas pada zaman kuno, yang pernah kontak langsung dengan Manusia Bumi, adalah alien?! Dan melalui tradisi lisan maupun tulisan, nenek moyang manusia bumi, secara turun temurun, melalui sistem kepercayaan hendak mengutarakan kepada keturunannya, bahwa asal kecerdasan dan kehidupan manusia bumi, berasal dari Mereka?!

Ketika pikiran tersebut merasuk, spiritual ku pun mulai masuk dalam tataran yang lebih tinggi. Jika demikian, dimanakan posisi dan keberadaan Tuhan?

Ketika kelak manusia bumi, juga akan mempunyai gambaran dan rupa Tuhan dengan jelas, melalui teknologi canggih dan peradaban super maju, di era karir Peradaban Manusia Bumi bertaraf penjelajahan antariksa. 

Mungkinkah, kita juga akan disebut sebagai dewa, atau bahkan tuhan? Bagi ciptaan-ciptaan, atau anak-anak rekayasa kehidupan kelak? Ketika segala sesuatu itupun dapat kita lakukan pada saatnya nanti?!

Yaaa... Waktu lah yang akan menjawabnya...


__Salam Keseimbangan antar Ciptaan.

Apa saja yang ada di tangan TUHAN?



"Hidup, mati, kaya, miskin, sakit, sehat, itu semua sudah ada yang mengaturnya..."
setiap orang ketika berpasrah diri akan menjawab dengan kalimat seperti disebutkan diatas, namun apakah hal itu benar?
Jika sudah ada yang mengatur, hidup-mati, kaya-miskin, sehat-sakit, maka standart apa yang digunakan untuk mengatur ini semua? apakah adil ketika si-A diberikan kekayaan, sedangkan si-B diberikan kemiskinan dalam hidupnya. Apakah bijaksana jika si-C diberikan kemuliaan, namun si-D diberikan kesengsaraan dan permasalahan yang pelik dalam kehidupannya?? dimana letak usaha dan prestasi?? jika segala sesuatu TELAH DIATUR!!! dan kita, manusia tinggal menjalankan peran, yang sesungguhnya TIDAK KITA INGINKAN, untuk DILAKUKAN??

Mencari Tuhan


Perjalanan panjang manusia dalam menapaki kerasnya hidup, selalu berakhir pada penyerahan diri kepada TUHAN. dari masa ke masa, dalam serentetan panjang kehidupan, generasi ke generasi, dalam perkembangan peradaban manusia TUHAN selalu ada menghiasi kajian spiritual ataupun naskah-naskah kuno umat manusia.

Siapa Tuhan itu?
Manusia selalu takut dan kawatir, lebih-lebih terhadap sesuatu hal yang tidak diketahuinya, sesuatu hal yang misterius baginya. Kadangpula ketakutannya pun tidak beralasan, ketakutannya bersifat abstrak. Ketakutan dan kekawatiran inilah yang membuat manusia mencari sandaran hidup, mencari perlindungan terhadap hidupnya.

Saya pernah mencoba untuk berpikir, saat awal mulanya makhluk yang bernama manusia ini memulai menemukan hidup yang baru, disaat kemampuan otaknya mulai bekerja.Mungkin disaat itulah manusia merasakan ketakutan yang teramat dahsyat, saat manusia menyadari akan keberadaan dirinya, menyadari akan keberadaan lingkungannya, menyadari akan daratan, tumbuhan, makanan, bagaimana bertahan hidup, bagaimana meneruskan keturunan, bagaimana cara untuk berperadaban. Dan terlebih manusia bumi sadar bahwa mereka adalah manusia, dan bukan hewan.

Tuesday, August 19, 2014

Sudah benarkah persembahan kita, kepadaNya?



::: picture source: klik:::
Sebagai masyarakat beragama, pastinya kita tidak lepas dari istilah persembahan, yang adalah ungkapan syukur kita atas berkat dan anugerah dari Yang Esa. Bahkan bagi sebagian kita persembahan menjadi tiang utama dalam sebuah ritual keagamaan. Ada pula yang mempunyai kepercayaan bahwa, jika kita tidak bersembah maka akan dilaknat oleh Yang Kuasa. Tidak dipungkiri, adanya keakuan dalam melakukan persembahan yang terselip di dalam ritual, ada juga keinginan untuk disorot oleh masyarakat banyak dalam melakukannya, tak jarang hal tersebut menjadi jurang pemisah antara kaum yang mampu bersembah dan yang tidak mampu melakukannya. Di lain sisi, ada juga kaum fondamentalis yang bahkan lebih ektrim memaknai soal persembahan kepada Tuhan. Kaum ekstrimis ini percaya bahwa: persembahan yang benar adalah dengan mengkorbankan nyawanya demi Tuhan, dan berjalan di jalan Tuhan?! Benarkah demikian??

Nah, dari beberapa realita yang ada diatas, bagaimanakah sebaiknya sikap kita? Dari sinilah pembahasan dimulai, dalam bingkai persembahan yang benar, yang layak diberikan kepadaNya.

Saturday, May 17, 2014

Kematian adalah Awal dari Kehidupan


Pada postingan yang lalu, saya pernah menuliskan mengenai pengalaman saya dan ketakutan saya mengenai kematian (link), bahkan bayangan-bayangan tentang kematian yang selalu merasuki diri, sehingga membuat suasana kecemasan yang teramat sangat. Dan jika saya boleh jujur, itu sangatlah mengganggu.
Semua orang di dunia tanpa terkecuali pasti takut mati, jikapun ada yang tidak takut mati, kemungkinan yang terjadi adalah selama hidupnya mungkin dia sudah “mati”. Tentu saja mati dalam hidup itu bukanlah makna sebenarnya. Manusia normal, sehat jiwa, mental, dan raganya pasti mengalami ketakutan akan kematian. Hal ini dikarenakan, manusia ingin memperlakukan kehidupannya dengan sebaik-baiknya, sehingga dia takut mati.

Jika saya tidak takut mati, pastilah saya akan menyebrang jalan dengan sangat sembarangan, tanpa menoleh kanan dan kiri. Akan sekonyong-konyong menyebrang, karena saya TIDAK TAKUT MATI!
Lebih gila dari itu adalah, jika saya tidak takut mati, maka saya akan makan makanan sembarangan, apapun itu dapat saya makan. Entah itu makanan yang baik ataupun beracun, karena saya TIDAK TAKUT MATI!
Dan yang gila lainnya, jika saya tidak takut mati, saya akan masuk kedalam lingkungan preman, lingkungan para brandal, rampok dan orang-orang yang bengis lainnya, kemudian saya coba lecehkan kekasih dari salah seorang diantaranya. Niscaya saya akan mendapatkan hadiah bogem mentah, dan bisa-bisa saya digantung di tengah alun-alun kota, karena saya tidak takut mati.

Ketakutan akan kematian, adalah wajar.

Tanpa mengurangi rasa kepercayaan diri, ataupun iman. Karena kita sebagai manusia hanya sekali mengalami KELAHIRAN, sekali mengalami KEHIDUPAN, dan hanya sekali mengalami KEMATIAN.
Walupun wajar ketakutan akan kematian itu, namun tidak untuk menerus dipikirkan. Kita dewasa, dan dengan jujur menyadari bahwa kita pasti mati. Sehingga tak perlu lagi ditakutkan dan tak perlu dikhawatirkan. Lantas, bagaimana sebaiknya sikap kita?

Anggap saja, dunia ini adalah panggung perlombaan. Siapa yang terbaik, akan membawa pulang hadiah, kenangan baik, dan cerita yang baik pula. Pada saat perlombaan berakhir, dan saat itu pulalah, kita harus pulang dan membawa sejuta kenangan selama masa perlombaan dengan baik, penuh syukur dalam ketenangan. Ketika perlombaan berakhir, dan setiap orang harus pulang,  maka banyak cara dan beragam jalan yang mereka tempuh. Ada yang lebih memilih untuk berjalan kaki menyusuri trotoar, ada yang dengan berlari kencang karena tak sabar ingin sampai rumah, ada yang naek sepedah, ada yang mengendarai motor, mobil, pesawat, kapal laut, dan beragam cara yang ditempuh dengan tujuan RUMAH.

Tidak ada Tempat yang lebih indah dibandingkan RUMAH kita.

Dunia adalah panggung perlombaan, setiap manusia berlomba-lomba melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri lebih dahulu, untuk kebaikan bersama. Tak dipungkiri, bahwa dalam perlombaan pasti ada permasalahan, intrik, dan bumbu-bumbu menarik, ada pula kebahagiaan, ada pula kesedihan. Ada keberhasilan, ada pula kegagalan. Apapun yang kita rasakan, ingin rasanya bergegas sampai di rumah, untuk mencurahkan segala hal yang telah kita jumpai selama dalam perlombaan. Tidak ada tempat yang lebih indah daripada rumah  kita.

Adalah suatu kisah:
Seorang ayah mempunyai  dua orang anak, sebut saja SULUNG dan BUNGSU.
Pada suatu ketika si BUNGSU meminta hak atas harta warisannya, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah guna menghambur-hamburkan kekayaannya. Dia menghamburkan harta miliknya kepada para perempuan-perempuan nakal, membenamkan dirinya dalam pesta pora penuh kemabukan duniawi, dan membuat dunianya penuh dengan hawa napsu dunia. Selang beberapa waktu, si BUNGSU menyadari bahwa hartanya kini telah habis, dan tidak bersisa. Teman-temannya yang dulu sangat menghargainya, kini telah pergi jauh meninggalkannya, karena si BUNGSU sekarang dalam kondisi melarat. Hari-harinya kini tak semewah dan semegah dulu. Saat dia lapar, dia hanya bisa meminta kepada seorang majikan untuk memberikan kepadanya sisa-sisa makanan, namun tidaklah dia dapatkan. Dan betapa terharunya dia, ketika ada seorang peternak babi, yang memperbolehkan ia untuk mengisi perutnya dengan ampas makanan, yang dimakan pula oleh ternak babi.

Hidupnya kini jauh lebih sengsara, dan dia sangatlah malu untuk pulang. Karena ayahnya pasti tidak akan mengakui dia kembali sebagai anaknya. Hari-demi hari si BUNGSU mengisi hidupnya dengan bekerja di peternakan babi, dan sampailah ia di ujung kesabarannya. Dia memutuskan untuk berhenti, dan kembali pulang ke rumah ayahnya. Tidak perduli apapun yang akan terjadi padanya, karena dia menyadari hidup sebagai budak pun, dirumah ayahnya, jauh lebih mulia disbanding hidupnya saat ini.

Si BUNGSU menguatkan tekatnya, dan sampailah dia di depan rumah ayahnya, dengan rasa malu, dia menatap ke pintu gerbang rumahnya. Tampaknya SANG AYAH sudah sejak lama menanti-nantikan kedatangan anaknya yang BUNGSU itu, dari kejauhan SANG AYAH berlari dan menghampiri anaknya yang telah lama hilang, merangkulnya, menciumnya dan menyuruh pelayan-pelayan untuk mengganti pakaian dan kasut yang telah kumal ia kenakan. Bahkan SANG AYAH membuat pesta penyambutan, yang sangat meriah guna ucapan syukur atas kepulangan anaknya yang BUNGSU.

Tidak ada tempat yang lebih indah daripada di rumah, oleh karena dirumah kita bisa beristirahat dengan tenang, dan kita tidak perlu takut, tidak perlu malu untuk mengakui segala hal yang telah kita perbuat.
Pada suatu saat nanti ketika kita pulang, maka “SANG AYAH” akan tetap berbelas kasih, berbaik hati menyambut setiap anak-anakNya yang pulang dalam kebaikanNya.


Yang awal adalah yang akhir, dan yang akhir adalah yang awal.

Kita tidak perlu kawatir tentang bagaimana, kapan, dimana kita mati. Karena kematian adalah wajar, dan mari menyikapinya secara wajar-wajar saja.
Mobius spiritualitas, mengingatkan kita bahwa “Awalan adalah akhiran, dan akhiran adalah awalan”. Mungkin saat ini kita menyangka bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Kematian bukanlah akhir, namun awalan untuk kehidupan baru.
Sering pikiran kita dirundung kekawatiran dan ketakutan akan kematian, namun cobalah mulai saat ini, kita tidak perlu lagi terlalu mencemaskan hal itu.

Cobalah kita memikirkan bahwa, kematian adalah cara dunia ini untuk menyusun kehidupan selanjutnya. Artinya bahwa dengan kematian kita, maka akan muncul, akan lahir kehidupan-kehidupan baru yang akan mewarisi kehidupan, daripada unsur-unsur kematian kita.
Semua manusia yang mati, pasti akan membusuk raganya, system organnya pasti tidak akan lagi bekerja. Oleh karena tidak ada keseimbangan penyusun kehidupan. Otakknya juga akan membusuk sama seperti setiap organ-organ yang lain (kecuali tulang belulang). Setiap memori akan terhapus, oleh karena otak sudah terurai. Unsur-unsur hara akan terurai dan larut dalam tanah dan air, masuk kedalam siklus bio-geo-kimia. Unsur-unsur yang tepat, diserap kembali oleh tumbuh-tumbuhan untuk menyokong kehidupannya, begitupula dimanfaatkan oleh serangga, dan makhluk-makhluk detrivor (pemakan detritus, atau pemakan remah-remah organis). Unsur dalam kematian manusia, larut dalam bagan aliran kehidupan lain, guna menyokong kehidupan baru.

Kematian bukanlah akhir, namun adalah suatu gerbang baru untuk kehidupan-kehidupan yang baru, yang lahir dari kematian kita.
Kita tidak perlu menyesali yang telah tiada, karena dari ketiadaan itu, banyak bermunculan suatu keberadaan baru dalam beragam jenis, warna, dan rupa. Sebaiknyalah kita bersyukur senantiasa, karena alam ini telah mengatur dirinya dengan sebaik-baiknya. Mari kita coba membayangkan sejenak, jika setiap makhluk di planet bumi ini semuanya kekal?, lantas cukupkah unsure-unsur di bumi ini menyokong sekian banyak kehidupan? TIDAK !!! yang akan terjadi adalah banyaknya penyakit, meningkatnya polusi dan pencemaran, banyaknya tingkat kriminalitas, banyaknya konflik, banyaknya perang, dan lebih mengerikan dari itu semua adalah kita akan mengalami krisis multi-dimensi, mengalami krisis air bersih, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis budaya dan sebagainya.


Maka baiklah kita tetap berfikiran wajar, dan menyandarkan hidup kita yang singkat ini, dengan perbuatan-perbuatan baik,  dalam perlombaan kebaikan di dalam kehidupan.


____Salam Keseimbangan antar Ciptaan

Banyak Jalan Menuju Sorga


Ketika tulisan ini berhasil di posting, pasti akan menimbulkan reaksi, entah itu pro ataupun kontra. Baik pro ataupun kontra, saya tidak sama-sekali mempermasalahkan hak para pembaca sekalian, karena itulah arti kemerdekaan. Saat saya menulis ini, saya sama sekali tidak menginginkan adanya orang yang menyetujui, atau membenarkan pemikiran saya. Ini hanyalah ekspresi saya, melihat keadaan Indonesia yang majemuk. Terlebih akan saya soroti dalam kajian agama.

Tak ada satupun manusia beragama yang tidak mengenal dogma sorga ataupun neraka. Keduanya merupakan tempat yang akan manusia tuju setelah kematian. Seingat saya, itulah yang diajarkan dalam dogma agama. Doktrim sorga dan neraka terasa sangat kental, saat kita mempelajari teks-teks religius dari agama-agama Samawi, atau agama-agama Pewahyuan, diantaranya: Yahudi, Kristen dan Islam. Dalam ketiga agama agung inilah kita dapat bersentuhan langsung dengan konsep pemikiran, tentang sorga dan neraka.

Tuesday, May 13, 2014

Beragama namun seperti "tidak berTUHAN"


Dewasa ini saya kerap kali menyaksikan baik itu secara langsung, ataupun melalui media cetak, media elektronik, ataupun dalam media internet, adanya tindakan-tindakan anarkistis yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatas namakan agama. Saya sangat keheranan, dengan atribut keagamaan yang komplit, dengan bahasa-bahasa kekhasan dari keagamaan tertentu, bahkan dengan membawa-bawa simbol agama tertentu, orang-orang ini seolah lupa bahwa mereka adalah hamba Tuhan. Dengan berbuat anarkis melakukan perusakan, melakukan tindakan nekad memukul orang lain yang dianggap musuhnya, bahkan pernah suatu ketika saya menyaksikan mereka yang mengaku taat dalam agamanya, membakar hidup-hidup orang lain yang saat itu berbeda keyakinan dengannya.

Bukankah dalam agama diajarkan suatu nilai kebenaran?, bukankah di dalam agama selalu ditekankan perbuatan moral yang luhur? Akhlak yang mulia? Pantaskah perbuatan yang mereka lakukan tersebut?

Hanya "beragama saja" tanpa pengetahuan, membentuk moral yang eksklusif. Masyarakat beragama saat ini, saya mencoba menilai, mereka hanyalah beragama saja, tanpa adanya bekal pengetahuan. Hal ini sungguhlah sangat berbahaya, oleh karena masyarakat mudah dihasut, mudah diprovokasi dengan iming-iming pahala sorga. Selain itu, masyarakat ditekankan teror yang menakutkan akan panasnya api neraka, bila mereka tidak menjalankan anjuran dari agamnya. Inilah yang menjadi masalah kita bersama.

Sebagian besar masyarakat beragama di Indonesia, hanya beragama saja, alias hanya menjalankan aturan agamanya secara harafiah (tertulis), namun mereka tidak memahami apa maksud dari yang tertulis tersebut.
Inilah bahayanya, jika kita hanya "beragama-saja".

Thursday, April 10, 2014

Spiritualisme dalam Tradisi Weton: Bubur Merah Bubur Putih



Stigma negatif kerap kali menempel kepada masyarakat tradisi, yang masih menjalankan budaya leluhurnya. Bahkan cibiran, ejekan serta kata-kata yang melukai hati sering dirasakan, oleh karena menjunjung tinggi nilai-nilai budaya tersebut. Menjadi berbeda dari umumnya masyarakat menjadi sorotan tajam dan sinis, menjadikan banyak diantara masyarakat tradisi yang tidak lagi menjunjung budayanya, karena takut DIASINGKAN, takut DIMATERAIKAN, takut disamakan dengan budaya-budaya KETIDAKPERCAYAAN kepada TUHAN yang MAHA ESA.
Masyarakat umum, banyak yang mencibir, mengolok-olok tradisi ini, dan menggunakan ejekan, cacian mereka sebagai senjata yang sangat diskriminatif untuk menyerang masyarakat diluar kaum mereka. Akhirnya terjadilah jurang pemisah antara masyarakat umum (agama) dan masyarakat tradisi.

Apakah yang memberikan penghakiman, sudah tahu betul dengan yang mereka lakukan?
Apakah salah bagi mereka yang masih menjalankan tradisi leluhurnya?

Monday, April 7, 2014

Hari yang Indah, untuk Mati



Setiap orang pasti takut mati !!!
aku takut MATI, aku yakin KAMU juga takut mati bukan!?
tidak bisa dipungkiri, semua yang HIDUP pasti bakal MATI
KEMATIAN adalah akhir dari KEHIDUPAN.
jika ada hidup pasti ada mati, dua hal yang tidak bisa dipisahkan...

Lantas, seperti apa kita mempersiapkan KEMATIAN?
apa saja yang harus kita persiapkan??

Nilai Budaya atau Nilai Agama??




Kita belum sepenuhnya sadar, kita masih dalam separuh kesadaran.
Yang kita anggap benar saat ini, belum lah kebenaran yang sejati.

Jika kita belum tahu apa itu KEBENARAN, dan kemudian kita melakukan KESALAHAN, 
maka kita dalam posisi yang benar
Karena kita TIDAK TAHU APA YANG KITA PERBUAT...
Namun,,
Jika kita sudah mengetahui KEBENARAN, dan kemudian kita menyelewengkan hati, untuk melakukan dan bertindak yang SALAH,
maka kita dalam posisi yang BEBAL, dan sudah barang tentu kita SALAH !!!
Karena hanya orang BEBAL-lah yang tau KEBENARAN, namun tetap melakukan KEJAHATAN...

Monday, October 7, 2013

Pengetahuan Vs Iman



Postingan kali ini, merupakan kelanjutan dari postingan terdahulu, mengenai: Bertuhan di Era Modern. Semakin menggali dan menguji, sehingga menemukan. Mengetuk maka pintu terbuka, meminta maka akan diberi. Demikianlah kita jika kita telah berusaha maka kita akan menemukan.

Saya tidak sabar ingin membagikan apa yang beberapa waktu lalu, saya mendapatkan informasi yang membuat mata ini terbelalak, dan mulut ini menganga dengan dramatisnya. 

Secara kebetulan, saya memang terlahir dari keluarga Kristen yang sangat taat, sejak kecil saya dikenalkan kepada gereja oleh keluarga saya. Meskipun gereja tempat saya menimba ilmu spiritual tentang keimanan, tergolong gereja kecil, namun saya bangga boleh hidup dan diakui keberadaan saya disana. Dari sekolah minggu hingga masuk dalam jemaat dewasa, saya menekuni proses tersebut hingga saat ini. 

Semakin bertambah usia, semakin bertambah level pula jenjang pendidikan saya. Saya termasuk orang yang disiplin dalam pelajaran, dan menyukai beberapa mata pelajaran, terutama yang berkaitan dengan sejarah, bilogi, geografi, astronomi. Dan tidaklah salah ketika SMA, saya dijuruskan dalam kejuruan Ilmu Alam.

Jhonna yang taat akan agama, dan dilain sisi Jhonna yang disiplin akan kajian ilmu. 
Pernah suatu ketika saya bergumul dalam hati, mengapa antara ilmu pengetahuan dan agama, tidak pernah menemukan titik temu, dan memecahkan permasalahan mengenai misteri kehidupan ini secara bersama-sama? Jika hal tersebut dilakukan, niscaya akan mempunyai pengaruh yang teramat baik bagi kehidupan peradaban manusia. Namun yang disayangkan, bahwa, agama justru menjauh daripada ilmu pengetahuan. Begitu pula sebaliknya, ilmu pengetahuan menilai dogma-dogma agama tidaklah otentik dan memiliki bukti-bukti yang relevan dikaji dari kacamata science.

Bertambah usia, sudah sewajarnya jika bertambah dewasa
Bertambah dewasa sudah sepantasnya bertambah bijaksana
itulah yang mendasari diri ini, terus mengkaji, menguji, dan menambah wawasan, agar hidup semakin bijaksana. Di dalam perjalanan kehidupan itulah, biasanya kita menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Hal inilah yang melatar belakangi saya, untuk sharing sedikit pengalaman saya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian !!!
Dalam ulasan selanjutnya, 
secara sadar benar, dengan penuh kerendahan hati, saya menuliskan beberapa penggal ayat dan kisah dari keimanan saya. Tidak mengurangi rasa hormat pembaca yang budiman, dan tidak ada tendensi apapun, niat hati saya, hanya ingin membagikan pengalaman mengenai "PENGETAHUAN VS IMAN". Terima kasih ^_^
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuhan menghendaki kita menjadi berpengetahuan
Ketika sang pencipta menciptakan beragam ciptaanNya, sudah barang tentu KEBAIKAN yang dikehendaki olehNya. Tuhan menghendaki segala sesuatu yang diciptakanNya adalah BAIK adanya, tanpa terkecuali. Kebaikan itulah yang mendasari ciptaanNya, termasuk tumbuh kembang, kemajuan akal, akhlak dan budi pekerti spiritual yang baik.

Manusia, adalah satu-satunya makhluk di planet Bumi, yang memiliki akal dan mampu membentuk budi pekerti yang luhur. Diantara makhluk ciptaan yang lain, manusia lah yang mampu memiliki kepekaan rasa, mempunyai daya cipta guna menghasilkan suatu karya, untuk menunjang kehidupannya. 

Dari mulanya, hingga terkemudian, manusia semakin bertumbuh dan berkembang mejalani rentetan kodrati insani untuk dapat hidup di Planet Tempta Tinggal Manusia, yaitu Bumi. Hal tersebut tidak bisa lepas daripada peran serta pengetahuan. Pengetahuan juga-lah yang memproses peradaban kuno hingga menjadi peradaban modern seperti saat ini. Itu semua karena kehendak Tuhan, untuk KEBAIKAN ciptaanNya, terkhusus manusia.

Pengetahuan merupakan salah satu wujud cinta kasih Tuhan, yang diturunkan kepada manusia melalui beragam pengamatan, penelitian, pembelajaran, dan parktik-praktik yang telah dan sedang dilakukan sejak zaman kuno. Pengetahuan inilah yang membekali manusia mampu bertahan hidup di tengah keganasan lingkungan tempat tinggalnya.

Berbeda dengan hewan, yang terlahir dengan memiliki taring yang tajam, atau cula yang kokoh, juga cakar yang runcing. Hewan dari mulanya memiliki persenjataan lengkap untuk dapat bertahan hidup dalam keganasan alam. Manusia mempertahankan hidupnya hanya dengan akal dan pengetahuan, dengan itulah mereka mampu bertahan hidup dari kerasnya alam. Adalah benar apabila, PENGETAHUAN merupakan kehendak Tuhan, agar manusia tetap dapat bertahan hidup. Tanpa pengetahuan, manusia tidak akan tetap berjaya di planet Bumi ini.

Sudah menjadi sifat dasar manusia, bahwa memperjuangkan hidup dengan mengandalkan akalnya. Sehingga tidak pula menjadi kesalahan, jika akal dan rasional dipakai manusia untuk menguji segala hal yang ditemuinya.

Jangan salahkan Tomas
Tomas adalah salah satu rasul, murid Yesus, diantara kedua belas rasul Tomas adalah murid yang dapat dibilang sangat mengutamakan rasio atau logika. Adalah suatu kisah, yang ditulis oleh Yohanes. Kisah itu menceritakan bahwa Tomas baru akan percaya terhadap kebangkitan Yesus, jika ia berhasil mencucukkan jarinya kedalam bekas lubang paku, bekas penyaliban ditangan Yesus. Tomas sangat tidak dapat mempercayai akan adanya kebangkita orang mati. 

Mengapa Tomas, tidak mau mempercayai hal itu, padahal pada kejadian sebelumnya, Yesus telah lebih dahulu menampakkan diriNya kepada murid-murid lain, kecuali Tomas. Dari kesaksian murid inilah, Tomas mendengar kabar bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Bukannya lekas percaya, namun Tomas mengambil sikap yang berbeda, dia hanya akan percaya jika dia berhasil mencucukan jarinya, kepada bekas paku di tangan Yesus dan bekas tombak di lambung Yesus.

Sontak saja, murid yang lain menjadi sangat kesal, dan memprotes keras akan tindakan Tomas yang "kurang percaya" tersebut. Namun disisi lain, Tuhan mempunyai rencana yang lain untuk Tomas. Tuhan memberikan apresiasi terhadap iman yang dimiliki Tomas. Bukannya memarahi Tomas karena "kurang percaya", Yesus kembali lagi mendatangi murid-murid yang saat itu sedang berkumpul di dalam rumah salah seorang murid, yang dikunci rapat dari dalam. Murid-murid sedang bersembunyi dari incaran kekaisaran romawi dan ahli-ahli Taurat Yahudi, saat itu. Tiba-tiba ada suara sapaan yang tidak asing lagi bagi mereka semua: "Salam Damai Sejahtera besertamu", mendadak haru dan terkejut, suasana yang hening menjadi hangat, saat Yesus menampakkan diriNya untuk kedua kalinya kepada murid-murid, dan untuk pertama kalinya kepada Tomas.

Yesus memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Tomas, karena iman Tomas itulah, dia mendapatkan yang ia cari. Tomas membuktikan kebangkitan Yesus, dengan mencucukan jarinya pada bekas lubang paku di tangan dan lubang tombak di lambung Yesus.Yesus tidak memarahi Tomas, Yesus tidak menegur Tomas, malahan Yesus memberikan hadiah yang luar biasa yang tidak diterima oleh murid-murid yang lain, yaitu: Memperbolehkan diriNya disentuh oleh jari Tomas.

"Tomas mencucukan jarinya pada bekas tombak di lambung Yesus, membuktikan bahwa Yesus bangkit dari kematian"

Kisah singkat ini, sangat menghantam diriku kala menemukan makna yang terkandung di dalamnya. Tuhan tidak menginginkan kita "asal percaya", Tuhan tidak menginginkan kita memegahkan diri pada kepercayaan yang tanpa dasar. Yang Tuhan inginkan adalah membuat ciptaanNya menjadi manusia yang cerdas, berintelektual dan memiliki kemampuan berpengetahuan yang mumpuni. Segala sesuatu yang kita yakini, yang kita imani haruslah mempunyai dasar yang kuat, haruslah mempunyai bukti yang otentik, tidak sekedar mitos, ataupun kiasan, ataupun cerita turun-temurun omong kosong nenek-kakek moyang kita. Namun membuktikan apa yang kita imani, adalah suatu kepuasan tersendiri bagi kita. Hal ini justru menambah iman percaya kita menjadi lebih kuat dari sebelumnya, karena apa? Karena yang kita anggap benar adalah nyata kebenarannya.

Yesus juga berpesan kepada murid-muridNya yang lain, bahwa:
“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”
(Dikutip dari Injil yang ditulis oleh Yohanes Ps 20 : 29b)
awalnya saya hanya membacanya harafiah, tanpa saya selami maksud yang tersirat di dalamnya. Namun setelah saya memahami kisah iman Tomas ini, saya mulai meyakini maksud Yesus dalam perkatannya tersebut. 
Secara bahasa sederhananya akan berarti demikian: 
"Jika kamu bisa percaya tanpa melihat, tanpa membuktikan, dan tanpa melakukan usaha apapun lantas kamu percaya !?, Ya... Bahagialah kamu."

Yesus adalah guru yang luar biasa, Dia telah mengetahui lebih dahulu apa yang akan kita gumulkan saat ini. Kita hidup di era modern, yang sangat sukar sekali mempercayai sesuatu hal, walaupun kecil dan remeh sekali kelihatannya. Apalagi sesuatu hal yang akan berdampak dan besar sekali pengaruhnya akan kehidupan kita. Nah dari perkataan itulah, saya tersadar, bahwa untuk mengasihi Tuhan, atau mempercayakan hidup ini dalam IMAN maka haruslah pada dasar yang kuat, pada bukti yang tentunya dapat diuji secara objektif. Tuhan adalah yang MAHA KUASA, sudah barang tentu Tuhan tidak takut untuk diuji, untuk diselami,  tidak takut untuk dipelajari, karena Tuhan MAHA PANDAI sehingga menghendaki manusia sebagai ciptaanNya menjadi pandai.

Wujud mengasihi Tuhan, dengan berpengetahuan? Benarkah?
Hidup di Era Modern seperti sekarang ini, sungguh tidak mudah bagi mereka yang dangkal dalam pola berpikirnya. Mereka yang berpengetahuan dangkal dan sempit, akan mudah terprovokasi, tidak mau menerima perbedaan. Mereka akan mudah di adu domba, sedikit tersulut oleh isu-isu SARA makan akan mudah terpancing dan bermunculan aksi-aksi anarkistis.

Agama sebagai salah satu pilar penopang peradaban bangsa ini, sudah seharusnyalah mau membuka diri akan adanya pengetahuan dan arus informasi yang sedang terjadi. Agama jangan hanya menjadi katak dalam tempurung, bersikukuh dengan budaya yang konvensional kemudian  menutup mata dan telinganya dari pengetahuan yang ada. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu beradaptasi atas lingkungan yang kian berkembang, demikian pula agama. Mari menjadi para pemeluk agama-agama yang juga bercendekia, jangan hanya berpikiran sempit dan memiliki suatu paham kebenaran yang subyektif. 

Mungkin saat ini kita lupa, bahwa dari pengetahuanlah dapat terbangun adanya jembatan yang kokoh untuk menghubungkan setiap lini kehidupan manusia dengan serentetan kodrati insani yang harus dipertanggungjawabkan bersama. 

Pengetahuan dan Iman mampu menghasilkan suatu standart kebenaran yang dapat diakui bersama, yang mampu memuaskan banyak orang. Dan kebenaran yang dikeukakan bersifat obyektif dan akan memberikan bukti otentik bagi para pencari kebenaran.


Jika A adalah Iman, dan B adalah Pengetahuan.
A = Iman = Faith
B = Pengetahuan = Science,
Kemudian A digabungkan dengan B, gabungan antara A dan B, akan menghasilkan AUB.
Kesimpulan: Iman dan Pengetahuan digabungkan dalam memecahkan rahasia kehidupan, maka akan menghasilkan KEBENARAN. Kebenaran Mutlak adalah suatu kebenaran yang dapat dipandang dari sisi IMAN dan juga dapat diuji dari sisi PENGETAHUAN.

Seorang teman memberikan quote atau kata-kata bijak dari seorang ilmuwan kondang, Albert Einstein, demikian kutibannya:

"PENGETAHUAN tanpa agama (IMAN) adalah pincang, agama (IMAN) tanpa PENGETAHUAN adalah buta"

Hal ini sangat kita rasakan, bahwa di Era modern seperti saat ini, kita diharuskan tetap ber-IMAN namun juga ber-PENGETAHUAN. Sehingga kebenaran yang kita IMANI merupakan kebenaran yang MUTLAK BENAR.

Einatein juga menuliskan pengalaman spiritualnya, yang dijumpai dalam berbagai penelitian, yang dituangkan dalam kata-kata, demikian:


"Semakin Saya belajar tentang PENGETAHUAN, semakin saya mempercayai TUHAN"
Betapa kita tidak bersyukur, atas anugerah PENGETAHUAN yang Tuhan berikan, segala pengetahuan akan berujung pada Tuhan dan berasal pada Tuhan. Ujung dan Pangkal daripada segenap PENGETAHUAN adalah Tuhan, dapat dikatakan bahwa: TUHAN ADALAH SUMBER DARI PENGETAHUAN. Jabatan bagiNya yang adalah sumber dari pengetahuan adalah SANG MAHA TAHU (Omni Science).

Tuhan membentangkan langit sebagai kanvasNya, Tuhan menorehkan lukisanNya melalui bintang-bintang, galaksi-galaksi, planet-planet. Tuhan memberikan warnaNya melalui tetumbuhan, melalui binatang berkeriapan, melalui peradaban manusia. Segala yang terjadi dalam ALAM SEMESTA ini, adalah Cara Tuhan mewujudkan eksistensi KEBERADAAN-NYA

Bapak sayang tercinta, yang adalah kepala keluarga bagi kami, senantiasa mengingatkan pada saya, satu ayat yang sangat melegakan, demikian:
"Kasihilah Tuhan mu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap AKAL budimu. dan Kasihilah Sesamamu Manusia___(Hukum Kasih)"
Mengasihi Tuhan, melalui keimanan kita dengan segenap AKAL dan BUDI, merupakan cara mengasihi Tuhan yang dikehendaki olehNya. Dengan adanya Akal (PENGETAHUAN) akan membentuk Budi Pekerti yang baik. Budi Pekerti meliputi: Pola Pemikiran, Tutur Kata/ Ucapan, Tingkah laku, dan pembawaan diri. Ketika kita ber-PENGETAHUAN, maka kita akan menjadi bijaksana dalam menyikapi hidup. Hidup menjadi harmonis untuk sesama ciptaan.

Semoga kita dapat menyelaraskan antara PENGETAHUAN dan IMAN, untuk keseimbangan antar ciptaan.

Salam Keseimbangan Antar Ciptaan

Sunday, October 6, 2013

Bertuhan di Era Modern




Sobat Jhonna yang terkasih...
ijinkan Jhonna sedikit membahas mengenai suatu hal yang cukup membuat Jhonna tertarik, yang menyebabkan tidak enak tidur, hal tersebut adalah : "Bertuhan di Era Modern?!" Terdengar cukup menantang memang.

Mengapa hal ini membuat saya tertantang?
Diawali dari sebuah chit-chat dari smartphone, dari seorang teman lama. Dia sedikit komplain terhadap dogma-dogma agama saat ini. Karena agama, entah mengapa tidak dapat berjalan bersama dengan ilmu pengetahuan. Agama bahkan sangat kontras dengan ilmu pengetahuan. 

Beberapa komentar tersebut, akan saya rangkum dalam postingan singkat ini
yang mudah-mudahan dapat membuka separuh kesadaran kita yang masih tertidur pulas.

Kita hidup di Era Modern
Tak bisa dihindari lagi, bahwa peradaban semakin lama akan semakin menghasilkan pesatnya ilmu dan teknologi. Hal ini tampak jelas sekali, di zaman ini tak ada seorangpun yang tidak mengenal internet, jejaring sosial, media elektronik, dan bahkan adanya gedget aneka warna dengan kecanggihan yang spektakuler.

Arus pengetahuan melahirkan generasi-generasi yang kritis, yang mana memungkinkan bagi mereka membentakngkan pemikiran sekuas-luasnya. Melogika segala hal, dan membuatnya bisa di rasionalkan, bahkan dalam kajian Theistik (ketuhanan) sekalipun. 

Pesatnya pengetahuan, sangat berdampak pada perkembangan teknologi beserta kecanggihannya, hal itu sangat memungkinkan terjadinya pergeseran pola pandang kita, dalam keimanan. Bukti-bukti dan temuan-temuan dalam kajian pengetahuan, menguatkan teori demi teori yang dipaparkan dalam hipotesa. Yang lebih celakanya, pengetahuan mencoba mematahkan dogma dan ajaran-ajaran luhur daripada agama-agama terdahulu. Banyak daripada kita zaman modern ini, lebih mengandalkan rasio daripada iman. Nah, inilah kasus kita saat ini.

Pada suatu kali, ada seorang sahabat saya yang berkeluh kesah kepada saya, kurang lebih seperti ini:
"Agama terlalu sulit diterapkan di era modern seperti saat ini, dikarenakan hanyalah iman sebagai modalnya. Iman hanyalah bersifat abstrak, sulit dibuktikan, dan diluar nalar"
Tidaklah salah, jika sahabat saya berkata demikian, dikarenakan iman memang tidaklah mudah untuk dibuktikan secara rasional, karena iman menyentuh kehidupan dari sisi yang lain. Jika bukti dan penelitian menyentuhnya dari sisi RASIONAL, iman menyentuh kehidupan ini dari sisi TRANS-RASIONAL*. 

*trans-rasional adalah segala hal yang dianggap irasional namun rasional keberadaannya, menurut sistem kepercayaan yang meyakininya.

Sekelumit argumen dari sahabat saya tersebut, menjadi sangat salah ketika mengutamakan rasional dan melepaskan iman. Rasional adalah baik untuk menjadi tahu, namun iman juga memiliki kebaikan untuk mendamaikan hidup ini.

Hidup adalah Misteri
Sobat... Hidup adalah Misteri, terdengar sangat klise memang, dan mayoritas dari kita menggunakan kalimat tersebut jika kita terpojok dan tidak mampu berargumen untuk menjelaskan suatu pertanyaan. 

Sobat, menyikapi kemisteriusan hidup ini, saya tergugah untuk membagikan ilustrasi kepada kita semua:
"Di dunia ini, ada dua tipe manusia, yang keduanya meyakini berjalan menuju arah yang sama, namun mereka satu sama lain berjalan pada jalan mereka masing-masing. Seorang yang bernama SALEH memilih jalan WAHYU, sedangkan seorang yang lain bernama TEKUN memilih jalan PERENUNGAN. Keduanya menjalani jalan tersebut secara berbeda, SALEH berjalan dengan penuh keyakinan akan menuju ujung jalan tersebut dengan selamat karena wahyu yang digunakannya sebagai tuntunan. Lain halnya dengan TEKUN, dia tidak ada bekal ataupun petunjuk sama sekali, TEKUN menjalani jalan tersebut setapak demi setapak, melihat kanan dan kiri, mengkaji segala sesuatu di sekitar jalan tersebut. TEKUN lebih mewarnai setiap langkahnya dengan sukacita, karena adanya keragaman yang dia jumpai. Walaupun tanpa bekal petunjuk apapun, TEKUN sampailah juga di ujung jalan tersebut, dan menjumpai SALEH disana"
Ilustrasi tersebut mencoba mengingatkan kepada kita, bahwa IMAN dan LOGIKA, keduanya akan berujung pada kebenaran yang sama, namun cara yang dilakukan berbeda. LOGIKA mengarahkan alur berpikir kita secara NATURAL (alamiah, kajian alam, perenungan), namun IMAN mengarahkan alur berpikir kita secara SUPRA-NATURAL (diluar nalar, trans-rasional). Hal ini tidak menjadi masalah, asalkan satu dengan yang lain tidak saling menikam, dan mempersalahkan, ataupun lebih mengutamakan pembenaran diri.

Kenapa harus Atheis?
Pergumulan ini semakin seru dan menantang, ketika sikap saling tuding berujung pada diskriminasi pihak berlainan. Seru dan menantang, dikarenakan sudah sepantasnya kita tidak saling tuding dan memojokkan salah satu pihak.

walaupun kita saat ini hidup di era modern, akan tetapi masih banyak dijumpai stigma negatif akan keberadaan masyarakat yang mengatasnamakan diri mereka Atheis**

**Atheis: tidak mempercayai dan menjalankan adanya konsep ketuhanan

Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, memang tidak diperbolehkan adanya suatu paham Atheis tumbuh di bumi Indonesia, oleh karena Indonesia berdasarkan atas: Ketuhanan yang Maha Esa. Hal itu mengharuskan setiap warga negaranya untuk berketuhanan.

Pesatnya arus pengetahuan, memang berdampak pada melemahnya sistem kepercayaan, yang berujung pada ketidakpercayaan. Namun, mari kita tidak mengadili lebih dini, akan adanya masyarakat modern, yang memiliki pemikiran yang lain, dan lebih nyaman memeluk pemikiran tersebut. 

Saya pernah bersitegang, dengan saudaraku, dikarenakan saya sangat taat dengan ketuhanan yang saya pegang sejak kecil. Namun dia memberikan sentuhan lembut, dengan perkataan sederhana:
"Atheis mempunyai pemikiran tersendiri tentang ketuhanan, namun bukan berarti mereka tidak bertuhan. Tuhan atheis adalah pengetahuan, Tuhan atheis adalah ketidakadaan tuhan-tuhan yang diyakini oleh sistem kepercayaan yang ada saat ini"
Meskipun dia hanya sedikit berbicara, hal tersebut menampar keras paradigma dan cara pandangku terhadap Atheisme. Sejak saat itu, pemikiranku sedikit terurai dan tidak diskriminasi terhadap mereka yang berbeda dengan pola pikirku.

Saya rasa, atheis tidaklah momok yang menakutkan bagi keimanan kita, Atheisme berjalan melalui jalan mereka yang memang berbeda dengan jalan yang ditempuh oleh Thesime. Inilah warna yang timbul akan adanya kemajuan arus pengetahuan dan teknologi.

Selagi mereka masih manusia, maka mereka adalah sesama bagi kita manusia, dan sesama bagi kita yaitu ciptaan. Sehingga tidak ada lagi perbedaan hanya dikarenakan pemikiran yang berlainan.

Menyoroti Fenomena "Iman"
Indonesia adalah negara yang agamis, dan tidak bisa lepas daripada konsep ketuhanan. Beragam corak, warna, ritual, dogma, aliran, dan cara untuk mengaktualisasikan keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa. Keberadaan kemajemukan agama, adat, dan sistem kepercayaan yang ada membuat warna-warni keimanan warganya. Namun satu hal yang utama, meskipun berbagai macam cara ditempuh, bangsa ini tetap beriman kepada junjungan tertinggi dalam masing-masing sistem kepercayaan yang dipeluk.

berbicara soal iman, iman tidak bisa terlepas pada agama. Namun apakah sobat tau?, bahwa mungkinkah iman bisa muncul dalam pemikiran kita, tanpa adanya agama?
Iman merupakan anugerah terindah yang diberikan oleh Sang Adi Kodrati, yang mana, merupakan cara komunikasi universal Sang Pencipta kepada segenap ciptaan-Nya, demikian pula sebaliknya. Komunikasi tersebut melalui beragam bahasa, beragam bentuk ritual, beragam cara yang di percayai. Iman lebih kuat dibandingankan percaya.

Imam menjadi bagian dari kehidupan manusia, walaupun bagi mereka yang tidak mengenal agama sekalipun. Yaitu mereka mengimani akan keberadaan Sang Adi Kodrati, yang diwujudkan dalam gambaran-gambaran spiritual yang diyakini sebagai wujud eksistensiNya. Dengan adanya iman, manusia merasakan kenyamanan mempercayai sesuatu, dan merupakan kekuatan tersendiri dari dalam pikiran manusia, akan danya sesosok yang super yang mampu menanggung segala kesukaran hidup.

Meskipun beragam sistem kepercayaan, bahawa, adat dan budaya, namun sosok Sang Maha yang digambarkan dalam keimanan setiap orang, memiliki kesamaan karakteristik. Kesamaan tersebut antara lain bersifat: MAHA, Maha Segala hal: Maha baik, Maha Adil, dan sifat-sifat kebaikan yang digambarkan melekat dalam pribadiNya.  Oleh karena ragam dan beraneka corak penggambaran tersebut, kemudian lahirlah agama sebagai wadah bagi sekelompok orang yang sama-sama meyakini suatu pribadi yang Maha. Di dalam agama diterapkan adanya hukum, adanya aturan, adanya konsep untuk menata kehidupan manusia, tentunya agar tidak kacau. Namun imanlah yang pertama kali hadir, baru kemudian agama mengikutinya, sebagai wadah institusional untuk melegalkan aktifitas ataupun ritualitas yang berkaitan dengan keimanan.

Peran Serta Agama di Era Modern
Ironis memang, manusia yang mengaku diri bertuhan di dalam agama yang dianut, saling menyalahkan antar pemeluk agama. Merasa diri paling benar dan melihat kelompok agama lain adalah salah. Stigma "Sesat" dan "Kafir" yang dihalalkan terucap, semakin membuka lebar jurang diskriminasi antar manusia.

Tampaknya, agama tidak mampu lagi menjalankan tujuan mulianya, dikarenakan adanya pembenaran-pembenaran subyektif yang melunturkan nilai-nilai hungungan humanisme. Agama agaknya hanya sebagai cover ataupun trend di era modern seperti sekarang ini. Lantas? Lebih Mulia kah manusia yang menyatakan diri beragama namun melupakan tujuan utama mereka, untuk berketuhanan di dalam agamanya?

Agama acapkali gagal menjalankan tugas mulianya, sehingga hubungan vertikal kepada Tuhan yang diimaninya menjadi sangat kontras dengan perilaku pemeluk agamanya. Apakah mungkin Tuhan yang Maha Baik menghendaki kita untuk saling melakukan kejahatan kepada sesama kita manusia, iman seperti itukah yang dikehendaki oleh Tuhan yang maha baik?, mari kita berpikir ulang dengan rendah hati mengkaji ulang akan hal tersebut.

Bertuhan di Era Modern, dari sisi keagamaan, banyak diantara kita yang secara tidak sadar  memberikan diri dalam kepasrahan, dan mejadikan akal kita tumpul. Agama yang dibangga-banggakan semakin diperburuk dengan sikapnya yang anti-Pengetahuan, anti kemajuan science. Dan hal ini sangat tidak relevan dengan kemajuan kemoderenisasian. Agama tampak sangat kolot, tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman.

Pernah saya berdialog dengan seorang tokoh, yang kebetulan bertemu di sebuah tempat ibadah, dan saya mengingat jelas perkataan beliau:
"Dunia saat ini, telah jatuh di genggaman setan, adanya internet, sosial media, kemajuan ini adalah teknologi setan"
Beliau dengan sangat serius menegaskan kepada saya, namun karena saya sangat menghormati pola pemikiran beliau, maka saya hanya tersenyum dan kemudian mencoba mendalami perkataannya.  Pengetahuan dan Perkembangan teknologi, ibarat pisau bermata dua, yang satu sisi mampu memotong buah dengan tajam dan seketika itu juga mampu melukai jari kita. Itu semua tergantung cara penggunaan pisau tersebut.

Pengetahuan mengandung racun dan madu secara sekaligus, ketika diminum bisa membunuh peminumnya, namun disisi lain bisa menyembuhkan penyakit kita, itu kembali bagaimana cara kita menggunakannya. Mengapa teknologi dan pengetahuan di era modern selalu dikonotasikan sebagai hal yang negatif?, itu karena para penggunanya yang tidak bertanggungjawab, yang hanya menggunakan kemudahan yang ada untuk memuaskan keinginan sesaat. Namun apakah kita menyadari? bahwa perkembangan pengetahuan dan teknologi juga membantu dalam kehidupan kita saat ini, seperti misal: ditemukannya obat untuk menyembuhkan kanker, ditemukannya vaksin-vaksin baru, atau adanya alat telekomunikasi yang hemat dan mudah, adanya alat-alat transportasi yang lebih ramah lingkungan, ditemukannya sumber energi terbarukan pengganti minyak bumi, dan masih banyak lagi kebaikan akan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Sikap kita?
Pengetahuan dan teknologi bukanlah suatu momok yang menakutkan, hal tersebut merupakan anugerah dari Tuhan yang patut untuk disyukuri dan diteruskan, serta digunakan secara bertanggungjawab. Membuka diri akan adanya pemikiran-pemikiran modern, menjadi manusia yang berpengetahuan luas namun tidak melupakan keimanan. Bertuhan di Era Modern, memungkinkan kita untuk hidup berdampingan antar pemeluk agama lain, saling menjunjung tinggi persaudaraan dan kerukunan, untuk menciptakan suasana berkehidupan yang damai dan sejahtera.

Mari kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana karena pengetahuan dan menjadi pribadi yang bertanggungjawab oleh karena iman, karena sejatinya IMAN dan PENGETAHUAN berjalan beriringan menuju KEBENARAN yang sama-sama diyakininya.


Pada kesempatan yang lain, Jhonna akan memposting kelanjutan daripada postingan pertama ini, masih dalam tema yang sama.












Tuesday, July 16, 2013

Bhineka Tunggal Ika dalam Ketuhanan di Indonesia



Saudara yang terkasih di dalam naungan kasih yang abadi dan setia

Pada postingan kali ini, Jhonna ingin sedikit melankolis, akan sedikit lebih menyentuh sisi lembut dalam diri kita. Sisi itu adalah hati, iya benar !! hati nurani kita.

Segala bahasan, perbincangan ataupun diskusi, yang berhubungan dengan spiritual lebih membuat kita terhanyut kedalam sisi lembut dalam diri kita. Oleh karena yang disentuh daripada setiap kata yang didengar oleh telinga kita, akan menyentuh dengan lembut hati nurani ini, dengan sentuhan yang tidak terduga. Akupun merasakan hal tersebut, berkali-kali, kapanpun aku dengarkan kata demi kata, baik itu: di dalam perjalanan, di tepi trotora jalan, pada tempat kerja saya, pada tempat saya boleh beribadah, dan lebih sering pada diskusi hangat dalam keluarga saya.

Sentuhan-sentuhan lembut dalam sisi spiritual inilah, yang biasanya akan membawa dampak signifikan, sebagai pedoman untuk hidup kita keseharian. Kenapa disebut biasanya, karena mayoritas pendengar ataupun pembaca akan merasakan hal yang demikian, meskipun beberapa diantaranya tidak dapat merasakan sentuhan lembut tersebut.

Saudaraku... sahabatku dan pembaca setia,
postingan ini, saya harapkan dapat memberikan sensasi sentuhan-sentuhan lembut pada sisi terdalam diri kita, dan dalam beberapa ulasan kedepan nanti saya berharap, agar pembaca sekalian dapat secara bijaksana menyikapi setiap kata, kaliman dan ulasan-ulasan yang ada...

Salam Keseimbangan Antar Ciptaan ^_^

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Konsep Dasar Ulasan
Kita hidup dan berkehidupan, ditengah-tengah masyarakat yang sungguh sangat beragam, baik itu beragam suku, bahasa, etnis, dialek, pemikiran, latar belakang, status sosial. Lebih dari itu, diluar daripada kehidupan berbangsa dan bernegara kita, kita mengetahui bahwa Indonesia juga hidup ditengah beragam bangsa, beragam bahasa-bahasa dunia, beragam ideologi, dan berbagai macam bentuk ataupun pola kehidupan dunia. Keberagaman itulah yang sesungguhnya, memperkaya kehidupan setiap manusia, yang mau menyadarinya. Jika kita mau rendah hati, dan menyadari lebih mendalam, menyelusur kedalam pola kehidupan yangberagam tadi, kita akan menemukan adanya "garis tebal" yang menyatukan setiap perbedaan dan keragaman yang ada. Suatu itu adalah Tuhan.

Setiap peradaban, setiap suku, bahasa, kehidupan berbangsa, memiliki konsep akan adanya "suatu" junjungan tertinggi yang secara umum disebut sebagai Tuhan (bahasa Indonesia). Di Indonesia saja, yang mana setiap suku memberikan penamaan yang berbeda-beda kepada-Nya. Pemberian nama-nama yang notabene berbeda satu dengan yang lain tersebut, bukanlah tanpa makna, melainkan terbentuk atau tercipta oleh karena pengalaman pribadi setiap peradaban manusia mengenai sifat kebaikan yang disandangkan kepada-Nya. 

Tuhan dalam bahasa Indonesia, dipakai oleh bangsa Indonesia dalam menghormati junjungan tertinggi, Sang Maha, yang Adi Kuasa/ Adi Daya akan segala hal. Kata tersebut nampaknya dipengaruhi adanya pengaruh bahasa melayu dari kata asal "tuan" yang Maha, atau bisa diartikan Sang Maha-Tuan. Kemungkinan terbesar mengapa disederhanakan penyebutannya menjadi "Tuhan", karena agar mudah diingat, dan dijadikan pedoman penyebutan dan pelafalan bagi setiap bangsa Indonesia, yang tidaklah mengurangi segala arti yang terkandung di dalamnya.

Sang Maha Tuan = Tuhan
Tuan adalah jabatan bagi seseorang yang mempunyai kuasa, mempunyai otoritas penuh, mempunyai kepemimpinan penuh, dan mempunyai kedaulatan yang penuh dan tidak terbantahkan oleh orang yang dikuasainya, dalam otoritas penuhnya, dipimpinnya dan dalam kedaulatannya. 

Kemudian bila di sertai dua kata lainnya, yaitu Sang dan Maha, maka akan menjadi SANG MAHA TUAN, yang berarti: Beliau (Dia) yang Sangat berkuasa, mempunyai otoritas penuh dalam memimpin dan berkedaulatan atas kehidupan segenap ciptaan-Nya. Dan mempunyai makna mendalam, bahwa Sang Maha Tuan adalah Suatu (pribadi) yang lengkap, kepenuhan, sempurna dalam segala KEMAHAAN-Nya.

Kata pemersatu ini, saya ulangi TIDAK mengurangi arti ataupun makna dari berbagai keragaman nama-nama Beliau yang diberikan oleh bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Bahkan memiliki suatu kepenuhan makna yang menjadikan cerminan kehidupan keberagaman bagi setiap suku bangsa yang hidup dan berkehidupan di Negara Indonesia.

Mengapa bisa demikian, bukankah dipersatukan berarti menyeragamkan? bukankah seragam maka berarti mengkerdilkan keberagaman?
Saudaraku, bukan demikian yang seharusnya kita pikirkan.
Namun para pendiri Negara kita, telah berpikir secara bijak, menyikapi kemungkinan-kemungkinan negatif yang berkembang di dalam kehidupan ini. Oleh karena itulah, Indonesia yang notabene negara yang berdiri berazaskan hukum, mendasarkan ideologinya, dan mengaturnya baik itu pada Sila Pertama Pancasila dan juga dalam UUD 45.

Dipersatukan bukan berarti DISERAGAMKAN!
Seragam memang bagus dipandang, indah dilihat, dan elok diperhatikan, NAMUN taukah kita? bahwa seragam terkadang membuat kerdil cara hidup kita, mematikan kebebasan kita.
kata persatuan untuk junjungan tertinggi kita, yaitu TUHAN, bukan untuk PENYERAGAMAN, melainkan lebih bermakna menghubungkan kesamaan pandang ataupun presepsi kita memandang sosok junjungan tertinggi masing-masing daripada kita, dan BUKAN PENYERAGAMAN dalam penyebutan. Indonesia TIDAK pernah mewajibkan bahkan memaksa bangsanya,  untuk harus menyebut TUHAN sebagai nama junjungan tertinggi bagi bangsa Indonesia.

Pemerintah Indonesia memberikan kebebasan sebebas-bebasnya kepada setiap pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang hidup di dalam negara ini, untuk memberikan kehormatan bagi junjungan tertinggi masing-masing, dengan berbagai nama.

Saudaraku, apakah kita masih mengingat selogan Negara kita?
iya benar:
"Bhineka Tunggal Ika" yang diambil dari sepenggal ayat dalam kitab Sotasoma, karangan empu Tantular. Yang mempunyai makna: "Berbeda-beda tetapi tetap satu juga", apakah kita masih ingat itu?

Negara Indonesia berdiri atas dasar keberagaman, perbedaan-perbedaan, dan kekayaan dalam warna budaya, bahasa, dialek, serta suku bangsa. Kita tau kita hidup dan berkehidupan ditengah kemajemukan yang ada nan Indah. Meskipun Berbeda, kita tetaplah satu. "Roh" itulah yang menjadi nyawa dalam makna kata TUHAN... meskipun berbeda-beda penyebutan dalam setiap sukunya, dalam setiap bahasa dan sialeknya, dalam kepercayaan dan agama setiap bangsanya, namun tetap sama. Tetap sama yaitu menunjuk arti kepada junjungan tertinggi yang merupakan wujud keterwakilan setiap perbedaan yang ada dalam negara Indonesia.




Indah bukan??
Tentu saja indah sekali, harmonis dan begitu MENDAMAIKAN. Itulah yang diharapkan bisa terjadi, sedang terjadi, dan terus akan terjadi dalam negara ini. 

Hal sesederhana itu, bisakah mendamaikan? Bagaimana bisa !?
saudaraku, tentu saja sangat mendamaikan setiap kita.
mari kita buat suatu contoh, adalah suatu suku bangsa di Indonesia yang menyebut junjungannya dengan sebutan "A", dan ada pula suatu kepercayaan lokal yang menyebut junjungannya dengan sebutan "B". Diluar itu semua saudara, ternyata ada pula agama yang juga mempunyai nama terhadap junjungannya, yang disebut dengan sebutan "C" (maaf: A, B, dan C tentulah bukan nama sebenarnya, ini hanyalah illustrasi agar tidak menyeret isu SARA, terima kasih ^_^ )

"A" dianggap suku bangsa itu, merupakan sebutan yang paling benar, dan sangat terhormat;
"B" juga demikian, dianggal oleh penganut kepercayaan lokal merupakan sebutan yang paling benar;
"C" juga demikian, merupakan sebutan yang juga paling benar oleh pemeluk suatu agama.

dari pola pemikiran, dan adanya sikap ingin menghormati junjungan masing-masing, maka akan berdampak adanya gesekan-gesekan yang berujung pada tindakan anrakis, demi suatu kehormatan pada junjungan masing-masing. Oleh karena itu, untuk meredam hal yang demikian, pemerintahan kita, dengan bijaksana MENJEMBATANI pola pemikiran setiap warga, untuk mau menyadari akan keberadaan kemajemukan yang ada, toh sebutan kepada masing-masing junjungan yang dipercayai adalah sama-sama TERHORMAT-nya, sama-sama MULIA-nya, sama-sama AGUNG dan sebagainya.

Dengan pengertian yang demikian, kita belajar akan:
  1. Kesadaran hidup, menyadari akan arti pentingnya hidup bersatu, hidup rukun, hidup sebagai PENCIPTA KEDAMAIAN (bukan hanya sebagai pencari kedamaian)
  2. Rendah Hati, kita diharapkan mampu mengendalikan ke-ego-an kita, mau melihat kedalam dan keluar diri kita, akan adanya rasa yang sama antar kehidupan berbangsa dan bernegara.
  3. Mengedepankan Pemikiran, jangan kita kembali menjadi bangsa yang non-intelektual, kolot, tidak cepat tanggap, menutup diri, dan kerdil dalam pemikiran. Kita adalah bangsa yang majemuk, maka kita harus mengutamakan kehidupan bersama dengan mengedepankan pemikiran rasional, demi kedamaian.
  4. Bertindak bijak, tindakan diawali daripada pemikiran, maka kita diharapkan mengawalinya dengan berpikir bijaksana, untuk dapat mempraktikkan tindakan-tindakan yang bijaksana. Seperti toleransi, seperti menghargai.
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, adalah pengingat bagi kita semua, bahwa Perbedaan bukanlah penghalang kita untuk tetap menghormati, menghargai dan menyadari keberadaan aneka ragam perbedaan yang mewarnai negara Indonesia ini.

Demikian kiranya, suatu persoalan sepele dalam penyebutan nama TUHAN pun, seharusnya tidak menjadi gusar bagi kita. Karena kita sudah mempunyai bekal pemikiran tentang keberagaman. Berbeda-beda istilah, sebutan, dialek, tulisan akan tetapi tetap satu makna, tetap satu tujuan, untuk junjungan tertinggi, TUHAN. Dan TUHAN sebagai pemersatu bagi keberagaman yang ada, betapa mendamaikannya...

Menjadi agen pendamaian dalam kebhinekaan merupakan cara kita mempertahankan kerukunan dan keamanan di Negara yang kita cintai bersama ini. Marilah kita bersama-sama menjaganya, agar tetap tercipta suasana yang indah dalam kerukunan keberagaman. 

Salam Keseimbangan Antar Ciptaan



Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------