Wednesday, August 20, 2014

Masyarakat Jawa Kuno, Kontak dengan Alien dari Bulan - Kajian Kisah Nawang Wulan

Benarkah Nawang Wulan adalah Alien??


Aku sangat yakin, bahwa Nawang Wulan adalah alien, atau makhluk cerdas, yang telah berperadaban lebih maju, berkebudayaan yang maju dengan teknologi yang super canggih daripada peradaban manusia Bumi. Nawang Wulan, pasti memiliki koloni yang berada di Bulan, lebih tepatnya berada di sisi gelap bulan (Dark Side of the moon) atau bahkan di dalam "Rongga Bulan", dengan peradaban yang super canggih, koloni tersebut berhasil menyebrang ke planet-planet lain, dan melakukan kontak dengan masyarakat planet lokal setempat, termasuk kontak dengan manusia bumi. Kontak itu pernah terjadi, saat Jaka Tarub dengan tidak sengaja mengintip Nawang Wulan saat mandi di dana Toyawening, bahkan menghasilkan putri hubungan kawin campur antar ras-planet. Namun, alangkah bodohnya kita, kita tidak lekas sadar, dan hanya menganggap kisah Dewi Nawang Wulan, sebagai kisah dongeng/folklore samata, dan terlelap tertidur setelah kisah tersebut selesai dibacakan.


Kisah ini seringkali dikisahkan oleh almarhum simbah uthi (nenek.red) dari ibu saya, simbah Gutjik (Gucik) namanya.  Dan moment yang paling berkesan, kala itu, saat aku masih berusia 7 (tujuh) tahun, tepat saat awal pertama bersekolah dengan seragam putih merah. Pada malah hari, kedua orang tuaku mengajakku untuk berkunjung ke rumah simbah. Rumah simbah lumayan jauh daripada rumah tinggalku, dan kala itu kami hanya mengendarai sepeda motor, karena hanya kendaraan itulah yang keluarga kami miliki. Rumah simbah berada di pinggiran kota, dan terletak jauh daripada keramaian. Simbah uti (nenek), tinggal bersama dengan adik perempuan ibuku, dan simbah kakung sudah lama meninggal dunia karena sakit saat ibuku bersekolah di SMA. Partodikromo Sudjak namanya, simbah uthi meyakini bahwa mbah kakung sudah tenang di alam langit. Yang letaknya jauh diantara bintang-bintang.

Kala itu, saat kami sowan (bertandang.red) ke rumah simbah uthi, beliau sedang asik menikmati indahnya langit malam itu. Bersama dengan ibu-ibu dan simbah-simbah perempuan duduk melingkar di teras depan rumah, mengelilingi perapian kecil, yang cukup hangat untuk menghangatkan tubuh kami dari dinginnya malam itu.

Simbah uthi, menyambut kedatanganku dengan sangat ramah, raut mukanya begitu lembut dan penuh kehangatan. Saat diriku turun dari boncengan depan motor, simbah beranjak berdiri, menyambut ku yang sedang berlari kecil menghampiri beliau. Didekapnya tubuh mungilku, dan mengusap rambutku lembut, dan berkata: "Kok sowe to le, ora sowan simbah, simbah nganti kangen (kok lama ndak main, simbah sampai kangen)" katanya sambil menatap kedua buah mataku. Aku hanya tersenyum kecil dan terlarut dalam dekapannya yang sangat lembut.

Aku lihat, bapak dan ibukku menghampiri simbah dan sungkem kepadanya, dan berjabat tangan kepada ibu-ibu dan simbah-simbah didepan teras, kemudian diajaknya kami masuk.

Bingkisan untuk simbah telah dihaturkan oleh ibuku kepada bulik (tante.red), dan dibawanya masuk ke dapur. Sedangkan kami saat itu duduk di ruang tamu. Suasana yang sangat sederhana, klasik, khas bangunan jawa yang tak lepas daripada material kayu jati.

Aku penasaran dengan aktifitas simbah uthi, di saat kami datang. Simbah bersama-sama dengan para tetangga, menghangatkan diri di dekat perapian kecil, di depan rumah. Lantas aku bertanya: "Mbah bolehkah aku ikut ke depan?"

Simbah uthi menaruh wedang hangat, di meja tamu untuk kami semua. Dan ku ingat senyumnya yang manis, dan anggukannya yang lembut, memperbolehkan ku ikut bergabung di dekat perapian.

Simbah mengajakku, aku duduk di dingklik (kursi kecil, tanpa sandaran, khusus untuk duduk semi lesehan) sebelahnya, dan beliau memeluk punggungku dari belakang.

Kulihat, wajah ibu-ibu dan simbah-simbah yang masih asing bagiku, beberapa diantara mereka ada yang mengusap pipiku, ada yang memegang tangan kecilku, dan ada yang bertanya nama. Kala itu, aku mendadak menjadi pusat perhatian.

Adalah kenangan yang tak terlupakan, simbah menunjuk ke langit. Menunjukkan kepadaku sebuah bintang yang terang berpijar. Kalau tidak salah, salah satu bintang itu, berada dalam konstalasi rasi bintang "banyak angkrem", simbah uthi percaya, bahwa simbah kakung saat ini sedang melihat kita dari atas sana. Dari suatu tempat di kejauhan itu, simbah kakung selalu mengawasi dan menjaga kita. Karena aku adalah bocah yang selalu ingin tahu, maka ku tegaskan lagi, "berarti simbah kakung ada di bintang itu" kataku takjub". Simbah uthi tersenyum dan mengelus rambutku, katanya "Simbah kakung ada jauh diatas sana".

Untuk sedikit mengalihkan pikiranku, simbah uthi menunjuk ke arah benda besar bersinar, yang kala itu berada agak dekat dengan kami, simbah bertanya: "Nah kalo itu apa namanya?", sepontan dengan cepat aku menjawab: "Bulan mbah, kali itu aku tau" jawabku sambil menunjuk diri. Dan suasana sepontan menjadi hangat, dengan gelak tawa ibu-ibu, dan simbah-simbah disekelilingku.

Simbah kembali bertanya, sambil mengangkatku dari dingklik ke atas pangkuannya: "apakah tau tentang Dewi Nawang Wulan?" Tanyanya lembut, sambil mendekatkan bibirnya yang lembut, pada telingaku. Akupun menggeleng, tanda belum pernah mendengarnya.

Dan simbah pun mengawali kisah Nawang Wulan, demikian:
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alkisah diceritakan turun temurun, suatu kisah sejarah peradaban umat manusia di pulau jawa. Adalah Jaka Tarub, seorang pria rupawan, gagah perkasa. Yang sudah cukup umur untuk mebina rumah tangga. Namun oleh karena dia pernah bermimpi, akan menikahi seroang perempuan cantik dari khayangan, sehingga dia memasang standar nilai yang cukup tinggi, bagi mempelainya kelak. Bu Milah adalah ibu yang cukup khawatir akan masa depan anak semata wayangnya, apalahi setelah sepeninggal suaminya. Bu Milah hanya ingin agar Jaka Tarub lekas menikah, agar kelak Bu Milah bisa menimang cucu. Namun nasib berkata lain, Bu Milah pergi menyusul suaminya. Bu Milah meninggal dunia, saat tidur menunggu Jaka Tarub pergi berburu menjangan di hutan. Dari kematian ibunya inilah, Jaka Tarub menyesal, oleh sebab belum mampu memenuhi kekinginan, memberikan cucu untuk ibunya.

Dari rasa kegelisahannya, Jaka Tarub berhari-hari menghabiskan waktunya di hutan untuk berburu. Tujuannya agar dia bisa menenangkan hati dan pikirannya. Yang kini hanya tinggal sebatang kara.

Pada suatu hari, dia pergi ke sebuah hutan, bernama hutan Wanawasa, matahari sudah berada dipuncaknya, namun tidak ada satu hewan buruanpun yang didapat. Jaka Tarub hanya melamun, dan terus melamun. Dan diapun merasa haus, maka pergila ia menuju ke danau ditengah hutan belantara. Danau Toyawening namanya, danau yang sangat tenang dan jernih, yang menjadi sumber kehidupan bagi makhluk dihutan Wanawasa. Saat Jaka Tarub mendekati danau, terdengar sayup-sayup ada gelak tawa dan canda gadis-gadis, yang sepertinya sedang mandi di danau. Jaka Tarub merasa heran, mana mungkin di tengah hutan belantara ini, ada gadis-gadis yang sedang bercanda dan tertawa-tawa. Dia memutuskan untuk melihat dengan sembunyi-sembunyi, dibalik pohon, dan terkejutlah ia, melihat tujuh sosok gadis yang sangat cantik. Yang tak lain dan tak bukan adalah bidadari yang turun dari khayangan.

Gadis-gadis berparas cantik itu rupanya mengenakan baju beraneka warna, yang berbeda satu dengan yang lain. Seperti dalam mimpi Jaka Tarub, besar harapannya untuk dapat memperisteri salah satu diantara mereka.

Muncul niat yang buruk dalam hatinya, Jaka diam-diam mendekati tumpukan baju yang diletakkan disebuah batu besar. Dia mengambil baju dan selendeng berwarna merah. Kemudian dia bawa pulang, dan kembali ke danau Toyawening, dengan membawa baju milik mendiang ibunya.

Hari sudah mulai sore, Jaka mengamati dari balik pepohonan. Bidadari yang cantik itu, hendak pulang, kembali ke khayangan. Namun terkejutlah salah satu diantara mereka, yang adalah bernama Nawangwulan. Oleh karena didapatinya baju warna merah miliknya hilang, beserta selendang untuknya dapat kembali pulang ke khayangan. Tanpa baju dan selendang itu, dia tidak akan bisa terbang.

Keenam teman Nawang Wulan, sudah mencoba mencari namun tidak ketemu, dan akhirnya mereka pulang meninggalkan Nawang Wulan sendiri. Nawang Wulan meratapi hidupnya yang mau tidak mau, harus tinggal di Bumi. Dia berjanji, barang siapa ada orang yang memberinya pakaian, jika lelaki akan dijadikan suaminya, dan bila perempuan akan dijadikan saudaranya.

Ketika itu juga, Jaka Tarub mencoba memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannyan dan tanpa melihat Nawang Wulan, dia memberikan baju dari mendiang ibunya agar dipakai oleh Nawang Wulan. Nawang Wulan berterima kasih atas baju yang diberikan, dan sesuai dengan janjinya, maka Jaka Tarub harus menjadi suaminya.

Kehidupan Jaka Tarub sangatlah baik, dan mereka berdua dikaruniai seorang putri yang cantik, yang diberi nama Nawangsih. Jaka keheranan melihat lumbung padi miliknya tidak pernah habis, bahkan setiap panen tiba, lumbungnya selalu bertambah, sampai-sampai tidak muat untuk menampung padi kembali.

Pada suatu kali, Nawang Wulan hendak pergi sebentar, meninggalkan Nawangsih dan Jaka, untuk membeli sesuatu di pasar. Sebelum pergi Nawang Wulan berpesan pada Jaka, agar nasi yang dimasak dalam kukusan tidak boleh dibuka tutupnya, sampai Nawang Wulan sendiri yang membukanya.

Namun dirasa Jaka, menanak nasinya sudah terlalu lama, dia ingin melihat keadaan nasinya, sudah matang atau malah sudah gosong. Betapa terkejutnya dia, bahwa di dalam kukusan hanya ada sehelai batang padi, dan beberapa bulirnya. Melihat kejadian itu, Nawang Wulan marah, oleh sebab Jaka melanggar janjinya. Pelanggaran yang dilakukan oleh Jaka berdampak pada hilangnya kesaktian Nawang Wulan, untuk dapat mengolah sehelai batang padi menjadi sewakul penuh nasi pulen.

Karena itulah, Nawang Wulan meminta Jaka untuk membelikan lesung, agar Nawang dapat menumbuk padi, untuk dijadikan beras. Hari berganti bulan, persediaan padi di lumbung semakin berkurang, dan terus berkurang. Dan tinggalah beberapa gabah di dasar lumbung. Ada sesuatu hal yang menarik perhatian Nawang, di dasar lumbung, dia mencurigai ada sebuah benda yang disembunyikan diantara tumpukan gabah padi.

Ternyata benar, bahwa dibawah tumpukan gabah itu, terdapat pakaian dan selendang yang selama ini di carinya. Dia merasa tertipu oleh suaminya sendiri, Nawang merasa telah dibohongi oleh Jaka Tarub.

Saat Jaka sedang pergi berburu, siang itu Nawang mengajak putrinya untuk terbang ke khayangan, meinggalkan rumah Jaka Tarub. Sesampainya Jaka di rumah, dijumpainya rumah dalam keadaan sepi, tidak ada Nawang Wulan dan juga puterinya.

Jaka melamun, dan khawatir, menunggu sampai larut malam. Tiba-tiba dari arah langit, Nawang Wulan turun dari khayangan, menggendong Nawangsih yang sedang tertidur pulas. Dengan baju dan selendang komplit dia kenakan, Nawang Wulan tampak cantik jelita, dan Jaka Tarub terperanjat kaget, saat dia mengetahui bahwa Nawang Wulan telah menemukan pakaiannya.

Nawang Wulan menyesal telah mempercayai Jaka Tarub, dan saat itu juga hubungan mereka putus, dan Nawang tidak lagi menganggap Jaka Tarub sebagai suaminya. Perihal Nawangsih, dia menitipkan anaknya agar diasuh oleh Jaka, oleh sebab, di khayangan manusia tidak dapat tinggal disana.

Sebelum meninggalkan Jaka dan Nawangsih, Nawang Wulan berpesan, apabila Nawangsih ingin bertemu dirinya, maka bakarlan satu selai padi. Namun Jaka Tarub harus meninggalkan Nawangsih di dekat padi yang terbakar itu. Karena Nawang Wulan akan turun dari Khayangan, dan tidak mau bertemu dengan Jaka Tarub.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kisah ini sungguh mendarah daging, dan menjadi bagian daripada kehidupanku seterusnya. Oleh sebab kisah itulah yang mengiringi tumbuh kembang, dan juga pemikiranku. Aku sangat meyakini bahwa kaum langit itu, sungguhlah ada, dan nyata benar adanya.

Aku yakin, saat simbah uthi bercerita tentang kisah ini, sama sekali tidak berharap agar aku mempercayai kisah ini secara nyata. Namun apalah dikata, bahwa mungkin saja apa yang dikisahkan ini, bukanlah kisah sekedarnya, atau dongeng sebelum tidur belaka.

Bisa jadi kisah ini, adalah kisah yang sengaja diceritakan turun temurun, sejak Pulau Jawa masih dalam peradaban muda, yang dikisahkan melalui lisan, dan berkembang menjadi sebuh dongeng. Karena tidak adanya fakta dan data otentik, yang membenarkan sejarah daripada kisah tersebut.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bagiku untuk tetap menganalisisnya.

Mari kita runtut atas kesamaan cerita yang berada di belahan Dunia lainnya,

Di China Misalnya,
source klik
Adalah kisah serupa, yang mengkisahkan antara lelaki penggembala Niu Lang, dan wanita penenun Zhi Nu, yang mana Niu lang mencuri selendang Zhi Nu saat dia pergi mandi di danau, akhirnya Zhi Nu menikahi Niu lang, namun takdir berkata lain, Kaisar Giok memutuskan hubungan mereka, karena manusia dan dewa tidak bisa bersatu. Pada akhirnya pada tanggal 7 bulan 7 kalender China, mereka berdua bertemu setahun sekali, melalui jembatan yang dibuat oleh “burung-burung wallet”.










Versi lain dari kisah ini di Jepang lebih mirip dengan versi yang terdapat di Cina, yang dikenal dengan kisa Hagoromo.
source klik
Adalah Mikeran seorang perjaka yang menemukan pakaian bidadari di ladangnya. Tanabata, bidadari adalah pemilik pakaian tersebut, kemudian menjumpai Mikeran karena mencari pakaiannya. Mikeran berbohong dan mengatakan ia tidak menemukan pakaian sang bidadari namun ia menawarkan bantuan untuk menolongnya mencari pakaian tersebut. Oleh karena kebaikan hati Mikeran menawarkan bantuan kepada Tanabata, sang bidadari itupun jatuh hati padanya, dan mereka menikah, memiliki beberapa orang anak. Pada suatu ketika salah satu dari anak mereka menemukan pakaian sang bidadari yang telah lama disembunyikan oleh Mikeran, Tanabata kecewa dan marah oleh sebab telah dibohongi oleh Mikeran.
Tanabata memutuskan untuk meninggalkan mereka semua. Mikeran rindu ingin berjumpa dengan Tanabata, dan dia berusaha membuat seribu anyaman sepatu jerami, namun usahanya gagal, dan mereka tidak bisa bersatu kembali. Mereka berdua hanya bertemu setahun sekali, yaitu pada hari ketujuh pada bulan ketujuh, ketika bintang Altair dan Vega saling bertemu.

Ada juga kisah yang hampir mirip, di dataran eropa.
sorce klik
Adalah seorang pangeran yang gemar berburu, dan melihat adanya tujuh ekor angsa berwarna putih cantik yang sedang berenang riang di sebuah danau. Yang konon ceritanya, angsa-angsa ini sering mandi di saat bulan purnama tiba, dan pantulan sinarnya menerangi danau tersebut. Swan Lake adalah nama danau tersebut, yang saat ini dikenal melalui cerita dongeng turun temurun. Angsa-angsa canti tersebut, ternyata jelmaan peri yang cantik jelita. Pada suatu malam, sang pangeran mengendap-endap mengintip di semak-semak di tepian danau. Pangeran begitu terkejut, ketika angsa-angsa nan cantik itu, melepas pakaian angsanya, dan beralih rupa menjadi peri yang cantik. Pangeran berusaha mengambil salah satu pakaian angsa itu, yang mengakibatkan salah satu peri tidak dapat kembali ke bulan. Pangeran dan peri itu akhirnya menjadi sepasang suami isteri, dan memiliki anak. Tidak disangka salah satu anak mereka menemukan jubah ajaib “pakaian angsa” yang disembunyikan ayahnya. Pada akhirnya Peri cantik itu kembali ke tempat asalnya, di langit, dan tidak kembali lagi.

Kisah-kisah serupa juga terjadi di beberapa daerah di dunia, seperti di Korea: Kyon-wo dan Chik-nyo, di Vietnam: Nguu Lang dan Chuc Nu, di Filipina: Seven Young Sky Women (Tujuh Perempuan Langit)

Mengapa ini semua begitu sangat mirip, dan terdapat benang merah yang seakan menghubungkan semuanya. Adanya kesamaan cerita, adanya kesamaan konsep makhluk langit, suatu tempat di langit yang khusus di tinggali oleh makhluk-makhluk langit, dan kecintaan mereka terhadap danau di bumi.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pernah suatu ketika, simbah uthi berkata kepadaku, bahwa: ada suatu tempat di langit sana, yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan manusia, bahkan di bulan. Awalnya aku anggap hanyalah suatu ucapan wejangan hikmat dari seorang bijaksana kepada cucunya, agar kita tetap merasa diri kurang dalam ilmu, karena masih ada suatu hal yang lebih besar di luar sana. Tapi dari perkataan sederhana itu, mendorongku untuk berpikir diluar batas. Akankah ada kehidupan makhluk cerdas selain manusia, di bulan sana??

Jikapun terdapat kehidupan cerdas di Bulan? Apa buktinya?
Dari hasil pembacaan buku ciptaan Don Wilson: Benarkah Bulan adalah “Pesawat Ruang Angkasa” Kita Yang Luar Biasa, terdapat beberapa rangkuman yang mengejutkan:

Bulan adalah Benda Langit yang Dahsyat
Ku sampaikan demikian oleh karena, ukuran bulan adalah seperempat kali ukuran daripada bumi, ukuran ini sangatlah begitu besar. Bandingkan saja ukuran satelit alami yang mengitari Jupiter, yang terbesar ukurannya hanyalah seper selapan belasnya saja. Dan fenomena bulan ini sungguhlah mustahil terjadi dalam keseimbangan cosmik. Jika hukum cosmic benar terjadi, seharusnya bulan tidak mengorbit sebagai satleit bagi planet bumi.  Bulan dan Bumi dapat dikatakan sitem planet ganda yang mengorbit pada matahari. Keanehan terjadi bahwa bulan bisa sangat tepat tertangkap oleh medan magnet bumi, hal ini bisa terjadi apabila disengaja agar tertangkap. Oleh karena secara alamiah, satelit yang mempunyai ukuran seperempat ukuran daripada planet tumpangannya, tidak akan bisa tertangkap sempurna. Bahkan salah-salah, akan mengalami benturan dan tabrakan yang dahsyat.

Material penyusun bulan, sangat berbeda dengan bumi.
Penyusun bulan ternyata diteliti jauh lebih tua dibandingkan penyusun daripada bumi. Dan bagian permukaan bulan memiliki lapisan yang kebal terhadap suhu tinggi, yang mengcover seluruh bagiannya, agar lapisan di dalamnya tidak mengalami suhu ekstrim. Lapisan luar bulan yang memiliki titik leleh yang tinggi, seperti mineral asing  titanium-ironzirconium silicate dengan konsentrasi pada calcium dan yttrium, sedang ke delapan elemen lainnya lebih sedikit termasuk aluminium dan sodium, membuatnya kebal terhadap suhu ekstrim.

Bulan berukuran gembung sebelah
Tidak semua benda langit berbentuk bulat sempurna, seperti halnya bumi kita berbentuk bulat dan agat pampat di bagian kutub-kutubnya. Namun alangkah anehnya bentuk daripada bulan kita, yang mengalami gembung di bagian sisi yang tidak terkena gaya gravitasi dari bumi. Ukuran gembung tersebut tujuh belas kali dari sisi yang menghadap ke bumi. Hal ini bisa terjadi jika bagian dalam bulan memiliki struktur penopang yang sangat kokoh, yang tetap stabil walaupun terkena gaya gravitasi  oleh planet “tumpangannya”. Seharusnya benda angkasa yang gembung sebelah akan tidak stabil, dan cenderung mengalami posisi yang labil dalam solar sistemnya, namun tidak untuk bulan kita.

Misteri Kawah di bulan
Bulan merupakan satelit yang menumpang pada orbit bumi, yang secara teori tertangkap oleh medan magnetic bumi, sehingga bersama-sama mengorbit mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya. Jika demikian yang terjadi, mungkinkah terbentuk kawah-kawah yang sangat lebar di bulan? Bukankah, jika memang benar kawah tersebut terbentuk daripada aktivitas cosmic (benturan asteroid pada permukaan bulan), seharusnya hal tersebut tidak terjadi, dikarenakan asteroid yang seharusnya menabrak bulan sudah lebih dahulu terhisap daya tarik menuju bumi, dan kemudian terbakar pada lapisan atmosfera bumi. Namun entah mengapa terjadi begitu banyak kawah-kawah di permukaan bulan. Kemudian ukuran lebar kawah di permukaan bulan sangat tidak sebanding dengan kedalamannya, ada beberapa kawah yang selebar Negara Swiss, namun kedalaman kawahnya tidak lebih daripada tujuh mil. Kawah di permukaan bulan tidak lebih dalam daripada tujuh mil. Lantas yang membuat kita heran, ada material apa yang berada di tubuh bulan, yang mempunyai diameter 2160 mil ini?

Sisi Gelap Bulan yang sangat aneh
Kita ketahui bahwa sisi bulan yang setiap kali kita lihat, selalu menampakkan sisi yang sama. Yaitu sisi dataran berkawah yang kehitaman, membentuk pola seperi seorang ibu yang menggendong anaknya. Namun pernahkah kita ketahui sisi gelap bulan? Atau sisi bulan yang tidak pernah nampak dari bumi? Dari penelitian oleh seorang ahli bulan dari Soviet, menemukan keanehan bahwa sisi gelap bulan, mempunyai keadaan topografi yang jauh berbeda daripada sisi yang terang. Sisi yang gelap memiliki kontur yang terjal, berbukit-bukit curam, dan hanya sedikit terdapat kawah-kawah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa hanya terdapat kawah di sisi terang saja?

Berat Bulan sangat ringan
source klik
Bulan hanya memiliki kepadatan materi penyusunnya sekitar 60 persen daripada bumi.  Artinya bulan sangatlah ringan, dari bentuk dan ukuran yang seperempat kalinya bumi, bulan memiliki kepadatan yang sangat ringan. Dan ditarik sebuah hipotesa, jangan-jangan bulan mempunyai rongga di dalamnya?
Mengenai bulan yang berongga di tengahnya, anehnya, dua orang ilmuwan senior, Mikhail Vasin dan Alexander Shcherbakov dari Soviet Academy of Sceinces bisa mempertahankan teorinya. Seakan-akan teori mereka itulah yang paling cocok. Teori itu dimuat dalam majalah Sputnik, majalah periodik Soviet dalam Bahasa Inggris. Dalam teori itu dikatakan bahwa "Bulan bukanlah satelit Bumi secara natural, melainkan sebuah planetoid raksasa, yang dalamnya berlubang, yang diciptakan oleh suatu, mahluk yang mempunyai kebudayaan tinggi dalam bentuk dunia buatan yang mengorbit Bumi, dahulu kala tidak terhitung berapa lamanya."
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

source klik
Dari hasil pembacaan itu, kubentangkan hipotesa selebar-lebarnya. Dan berdecak kagum atas kebudayaan masa lampau yang bahkan tidak akan mampu dipikirkan oleh peradaban saat ini. Masakan bulan merupakan sebuah planet buatan masyarakat berperadaban tinggi di zaman lampau? Jika memang demikian adanya, untuk apa mereka membuat proyek yang super dasyat di masa itu? Lantas, mengapa saat masyarakat tersebut tidak menjalin interaksi yang baik dengan masyarakat modern di Bumi?

Atau bahkan sebaliknya??
Bulan adalah sebuah pesawat lintas semesta, yang membawa kehidupan bagi planet-planet yang terindikasi dapat dijadikan tujuan bagi perkembangan kehidupan. Bisa jadi, bulan merupakan lokasi keberadaan taman Eden, yang mana asal mula manusia bumi, berasal dari sana.

source klik
Segala sesuatu mungkin terjadi di alam semesta yang sangat raya dan misteri ini.
Pertanyaan yang mengganjal, jika memang di Bulan terdapat koloni makhluk berperadaban tinggi seperti Nawang Wulan, dengan teknologi super canggihnya, adalah: Entah mengapa, saat ini, mereka tidak berinteraksi dengan kita, makhluk bumi?, apakah mungkin mereka menganggap semua manusia bumi berlaku seperti Jaka Tarub?




Kisah dari Simbah Uthi ini, senantiasa dikenang di dalam setiap hati penduduk bumi, turun temurun. Dan berharap pada suatu ketika, manusia bumi dapat kembali bertemu dengan manusia bulan, entah kapan waktunya, ataukah perlu membuat jembatan untuk menyebarang ke sana? Hanya waktu yang mampu menjawabnya.

__ Salam Keseimbangan antar Ciptaan

No comments:

Post a Comment

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------