Friday, August 22, 2014

Yehezkiel diajak ke pangkalan koloni Makhluk Langit, dari Khaldean ke Himalaya !??

Yehezkiel Melihat Wahana Antariksa 
source klik

Mungkin kita dibuat berdecak kagum dan bahkan heran, mendapati adanya fakta-fakta menarik tentang kontak alien dengan manusia bumi, yang dapat kita temukan bahkan dalam tulisan-tulisan yang kita anggap suci (kitab suci keagamaan). Seperti yang saya posting kali ini, yaitu dalam Kisah Yehezkiel. Bagi kita yang memeluk agama Yahudi ataupun Kristiani, pastinya sudah tidak asing lagi bagi kita. Yehezkiel adalah seorang suci (diangkat dan diberi gelar sebagai seorang Nabi Israel), atau disebut utusan Tuhan, yang bertugas sebagai pembawa pesan illahi kepada umat manusia, terkhusus bagi umat Israel kala itu. Diperkirakan Yehezkiel pernah hidup pada 600 tahun sebelum masehi. Di zaman saat Yehezkiel bertugas, pada saat itu kerajaan Israel mengalami masa-masa yang sulit, yang mana Negara ini sedang dijajah oleh  Bangsa Babilonia, dan beberapa diantara Rakyat Israel harus mengalami nasib kurang beruntung saat mengalami pembuangan ke negeri Babel, menjadi seorang budak dan menjadi tawanan perang.
Kontak pertama dengan makhluk langit (angkasa luar; antariksa.red), diawali pada saat peristiwa langit terbelah, dan terlihat “suasa mengkilap” yang masuk ke atmosfer bumi disertai perubahan cuaca ektrim, adanya angin kencang dan juga petir yang menyambar-nyambar. Dari dalam suasa itu, atau wahana terbang itu, terdapat empat makhluk bersayap, yang masing-masing wajah mereka menyerupai: lembu, burung rajawali, singa, dan anak manusia. Pada bagian dalam (dada) mereka terlihat sesuatu seperti suluh (nyala api) yang aktif bergerak (bisa jadi itu semacam energy aktif penunjang hidup makhluk asing tersebut). Sedangkan dikisahkan oleh Yehezkiel, wahana terbang lintas planet (wahana antariksa.red) tersebut berbentuk seperti bola, yang dipermukaannya terdapat tonjulan-tonjolan yang disebut seperti “mata”. Wahana terbang tersebut dapat bergerak ke segala penjuru, dapat menggelinding di darat, dan juga terbang perlahan mengambang di angkasa. (1)

Wednesday, August 20, 2014

Pawai Pembangunan Memperingati HUT RI yang ke-69 Kabupaten Blora Tahun 2014


Gempita perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia Ke-69 juga memberikan semarak tersendiri bagi Kota Tempat Tinggalku, yaitu Kota Blora tercinta. Ditengah suasana terik matahari yang sangat menyengat, udara panas tak tertahankan tidak menghentikan niat dan semangat daripada peserta Pawai Pembangunan siang ini, hari Rabu 20 Agustus 2014. Pawai yang kurang lebih dimulai pada pukul 08.00 WIB, dengan garis start di depan Rumah Dinas Kabupaten, dan diakhiri di Gedung DPRD Blora. Melalui rute yang agak jauh, yaitu: Aloon-aloon Kota Blora, berjalan ke arah Timur melalui Jl. Pemuda, Melalui bundaran Tugu Pancasila ke arah Selatan, menuju SMP Negeri 2 Blora, kemudian melaju ke arah Barat melalui Jalan Kolonel Sunandar sampai dengan perempatan Jalan Nusantara, melaju ke Utara melalui jalan Nusantara menyebrangi perempatan Panin Bank, ke arah Utara melaju terus ke Jalan K.H Ahmad Dahlan, kemudian ke arah Timur, melalui tanjakan aloon-aloon ke arah Utara melalui Jalan Gunung Wilis, disambung ke arah Timur melalui Jalan Dr. Sutomo, dan sampailah dipertigaan Kejaksaan dan berbelok ke Utara, mnuju ke Gedung DPRD Blora. Para peserta pawai dilepas dari depan Rumah Dinas Bupati, disana menampilkan atraksi terbaik masing-masing, dan dilanjutkan atraksi kedua dipertunjukkan di depan podium bertempat di depan Kantor Setda Jalan Pemuda.

Masyarakat Jawa Kuno, Kontak dengan Alien dari Bulan - Kajian Kisah Nawang Wulan

Benarkah Nawang Wulan adalah Alien??


Aku sangat yakin, bahwa Nawang Wulan adalah alien, atau makhluk cerdas, yang telah berperadaban lebih maju, berkebudayaan yang maju dengan teknologi yang super canggih daripada peradaban manusia Bumi. Nawang Wulan, pasti memiliki koloni yang berada di Bulan, lebih tepatnya berada di sisi gelap bulan (Dark Side of the moon) atau bahkan di dalam "Rongga Bulan", dengan peradaban yang super canggih, koloni tersebut berhasil menyebrang ke planet-planet lain, dan melakukan kontak dengan masyarakat planet lokal setempat, termasuk kontak dengan manusia bumi. Kontak itu pernah terjadi, saat Jaka Tarub dengan tidak sengaja mengintip Nawang Wulan saat mandi di dana Toyawening, bahkan menghasilkan putri hubungan kawin campur antar ras-planet. Namun, alangkah bodohnya kita, kita tidak lekas sadar, dan hanya menganggap kisah Dewi Nawang Wulan, sebagai kisah dongeng/folklore samata, dan terlelap tertidur setelah kisah tersebut selesai dibacakan.

Tuesday, August 19, 2014

Sudah benarkah persembahan kita, kepadaNya?



::: picture source: klik:::
Sebagai masyarakat beragama, pastinya kita tidak lepas dari istilah persembahan, yang adalah ungkapan syukur kita atas berkat dan anugerah dari Yang Esa. Bahkan bagi sebagian kita persembahan menjadi tiang utama dalam sebuah ritual keagamaan. Ada pula yang mempunyai kepercayaan bahwa, jika kita tidak bersembah maka akan dilaknat oleh Yang Kuasa. Tidak dipungkiri, adanya keakuan dalam melakukan persembahan yang terselip di dalam ritual, ada juga keinginan untuk disorot oleh masyarakat banyak dalam melakukannya, tak jarang hal tersebut menjadi jurang pemisah antara kaum yang mampu bersembah dan yang tidak mampu melakukannya. Di lain sisi, ada juga kaum fondamentalis yang bahkan lebih ektrim memaknai soal persembahan kepada Tuhan. Kaum ekstrimis ini percaya bahwa: persembahan yang benar adalah dengan mengkorbankan nyawanya demi Tuhan, dan berjalan di jalan Tuhan?! Benarkah demikian??

Nah, dari beberapa realita yang ada diatas, bagaimanakah sebaiknya sikap kita? Dari sinilah pembahasan dimulai, dalam bingkai persembahan yang benar, yang layak diberikan kepadaNya.

Saturday, May 17, 2014

Kematian adalah Awal dari Kehidupan


Pada postingan yang lalu, saya pernah menuliskan mengenai pengalaman saya dan ketakutan saya mengenai kematian (link), bahkan bayangan-bayangan tentang kematian yang selalu merasuki diri, sehingga membuat suasana kecemasan yang teramat sangat. Dan jika saya boleh jujur, itu sangatlah mengganggu.
Semua orang di dunia tanpa terkecuali pasti takut mati, jikapun ada yang tidak takut mati, kemungkinan yang terjadi adalah selama hidupnya mungkin dia sudah “mati”. Tentu saja mati dalam hidup itu bukanlah makna sebenarnya. Manusia normal, sehat jiwa, mental, dan raganya pasti mengalami ketakutan akan kematian. Hal ini dikarenakan, manusia ingin memperlakukan kehidupannya dengan sebaik-baiknya, sehingga dia takut mati.

Jika saya tidak takut mati, pastilah saya akan menyebrang jalan dengan sangat sembarangan, tanpa menoleh kanan dan kiri. Akan sekonyong-konyong menyebrang, karena saya TIDAK TAKUT MATI!
Lebih gila dari itu adalah, jika saya tidak takut mati, maka saya akan makan makanan sembarangan, apapun itu dapat saya makan. Entah itu makanan yang baik ataupun beracun, karena saya TIDAK TAKUT MATI!
Dan yang gila lainnya, jika saya tidak takut mati, saya akan masuk kedalam lingkungan preman, lingkungan para brandal, rampok dan orang-orang yang bengis lainnya, kemudian saya coba lecehkan kekasih dari salah seorang diantaranya. Niscaya saya akan mendapatkan hadiah bogem mentah, dan bisa-bisa saya digantung di tengah alun-alun kota, karena saya tidak takut mati.

Ketakutan akan kematian, adalah wajar.

Tanpa mengurangi rasa kepercayaan diri, ataupun iman. Karena kita sebagai manusia hanya sekali mengalami KELAHIRAN, sekali mengalami KEHIDUPAN, dan hanya sekali mengalami KEMATIAN.
Walupun wajar ketakutan akan kematian itu, namun tidak untuk menerus dipikirkan. Kita dewasa, dan dengan jujur menyadari bahwa kita pasti mati. Sehingga tak perlu lagi ditakutkan dan tak perlu dikhawatirkan. Lantas, bagaimana sebaiknya sikap kita?

Anggap saja, dunia ini adalah panggung perlombaan. Siapa yang terbaik, akan membawa pulang hadiah, kenangan baik, dan cerita yang baik pula. Pada saat perlombaan berakhir, dan saat itu pulalah, kita harus pulang dan membawa sejuta kenangan selama masa perlombaan dengan baik, penuh syukur dalam ketenangan. Ketika perlombaan berakhir, dan setiap orang harus pulang,  maka banyak cara dan beragam jalan yang mereka tempuh. Ada yang lebih memilih untuk berjalan kaki menyusuri trotoar, ada yang dengan berlari kencang karena tak sabar ingin sampai rumah, ada yang naek sepedah, ada yang mengendarai motor, mobil, pesawat, kapal laut, dan beragam cara yang ditempuh dengan tujuan RUMAH.

Tidak ada Tempat yang lebih indah dibandingkan RUMAH kita.

Dunia adalah panggung perlombaan, setiap manusia berlomba-lomba melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri lebih dahulu, untuk kebaikan bersama. Tak dipungkiri, bahwa dalam perlombaan pasti ada permasalahan, intrik, dan bumbu-bumbu menarik, ada pula kebahagiaan, ada pula kesedihan. Ada keberhasilan, ada pula kegagalan. Apapun yang kita rasakan, ingin rasanya bergegas sampai di rumah, untuk mencurahkan segala hal yang telah kita jumpai selama dalam perlombaan. Tidak ada tempat yang lebih indah daripada rumah  kita.

Adalah suatu kisah:
Seorang ayah mempunyai  dua orang anak, sebut saja SULUNG dan BUNGSU.
Pada suatu ketika si BUNGSU meminta hak atas harta warisannya, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah guna menghambur-hamburkan kekayaannya. Dia menghamburkan harta miliknya kepada para perempuan-perempuan nakal, membenamkan dirinya dalam pesta pora penuh kemabukan duniawi, dan membuat dunianya penuh dengan hawa napsu dunia. Selang beberapa waktu, si BUNGSU menyadari bahwa hartanya kini telah habis, dan tidak bersisa. Teman-temannya yang dulu sangat menghargainya, kini telah pergi jauh meninggalkannya, karena si BUNGSU sekarang dalam kondisi melarat. Hari-harinya kini tak semewah dan semegah dulu. Saat dia lapar, dia hanya bisa meminta kepada seorang majikan untuk memberikan kepadanya sisa-sisa makanan, namun tidaklah dia dapatkan. Dan betapa terharunya dia, ketika ada seorang peternak babi, yang memperbolehkan ia untuk mengisi perutnya dengan ampas makanan, yang dimakan pula oleh ternak babi.

Hidupnya kini jauh lebih sengsara, dan dia sangatlah malu untuk pulang. Karena ayahnya pasti tidak akan mengakui dia kembali sebagai anaknya. Hari-demi hari si BUNGSU mengisi hidupnya dengan bekerja di peternakan babi, dan sampailah ia di ujung kesabarannya. Dia memutuskan untuk berhenti, dan kembali pulang ke rumah ayahnya. Tidak perduli apapun yang akan terjadi padanya, karena dia menyadari hidup sebagai budak pun, dirumah ayahnya, jauh lebih mulia disbanding hidupnya saat ini.

Si BUNGSU menguatkan tekatnya, dan sampailah dia di depan rumah ayahnya, dengan rasa malu, dia menatap ke pintu gerbang rumahnya. Tampaknya SANG AYAH sudah sejak lama menanti-nantikan kedatangan anaknya yang BUNGSU itu, dari kejauhan SANG AYAH berlari dan menghampiri anaknya yang telah lama hilang, merangkulnya, menciumnya dan menyuruh pelayan-pelayan untuk mengganti pakaian dan kasut yang telah kumal ia kenakan. Bahkan SANG AYAH membuat pesta penyambutan, yang sangat meriah guna ucapan syukur atas kepulangan anaknya yang BUNGSU.

Tidak ada tempat yang lebih indah daripada di rumah, oleh karena dirumah kita bisa beristirahat dengan tenang, dan kita tidak perlu takut, tidak perlu malu untuk mengakui segala hal yang telah kita perbuat.
Pada suatu saat nanti ketika kita pulang, maka “SANG AYAH” akan tetap berbelas kasih, berbaik hati menyambut setiap anak-anakNya yang pulang dalam kebaikanNya.


Yang awal adalah yang akhir, dan yang akhir adalah yang awal.

Kita tidak perlu kawatir tentang bagaimana, kapan, dimana kita mati. Karena kematian adalah wajar, dan mari menyikapinya secara wajar-wajar saja.
Mobius spiritualitas, mengingatkan kita bahwa “Awalan adalah akhiran, dan akhiran adalah awalan”. Mungkin saat ini kita menyangka bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Kematian bukanlah akhir, namun awalan untuk kehidupan baru.
Sering pikiran kita dirundung kekawatiran dan ketakutan akan kematian, namun cobalah mulai saat ini, kita tidak perlu lagi terlalu mencemaskan hal itu.

Cobalah kita memikirkan bahwa, kematian adalah cara dunia ini untuk menyusun kehidupan selanjutnya. Artinya bahwa dengan kematian kita, maka akan muncul, akan lahir kehidupan-kehidupan baru yang akan mewarisi kehidupan, daripada unsur-unsur kematian kita.
Semua manusia yang mati, pasti akan membusuk raganya, system organnya pasti tidak akan lagi bekerja. Oleh karena tidak ada keseimbangan penyusun kehidupan. Otakknya juga akan membusuk sama seperti setiap organ-organ yang lain (kecuali tulang belulang). Setiap memori akan terhapus, oleh karena otak sudah terurai. Unsur-unsur hara akan terurai dan larut dalam tanah dan air, masuk kedalam siklus bio-geo-kimia. Unsur-unsur yang tepat, diserap kembali oleh tumbuh-tumbuhan untuk menyokong kehidupannya, begitupula dimanfaatkan oleh serangga, dan makhluk-makhluk detrivor (pemakan detritus, atau pemakan remah-remah organis). Unsur dalam kematian manusia, larut dalam bagan aliran kehidupan lain, guna menyokong kehidupan baru.

Kematian bukanlah akhir, namun adalah suatu gerbang baru untuk kehidupan-kehidupan yang baru, yang lahir dari kematian kita.
Kita tidak perlu menyesali yang telah tiada, karena dari ketiadaan itu, banyak bermunculan suatu keberadaan baru dalam beragam jenis, warna, dan rupa. Sebaiknyalah kita bersyukur senantiasa, karena alam ini telah mengatur dirinya dengan sebaik-baiknya. Mari kita coba membayangkan sejenak, jika setiap makhluk di planet bumi ini semuanya kekal?, lantas cukupkah unsure-unsur di bumi ini menyokong sekian banyak kehidupan? TIDAK !!! yang akan terjadi adalah banyaknya penyakit, meningkatnya polusi dan pencemaran, banyaknya tingkat kriminalitas, banyaknya konflik, banyaknya perang, dan lebih mengerikan dari itu semua adalah kita akan mengalami krisis multi-dimensi, mengalami krisis air bersih, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis budaya dan sebagainya.


Maka baiklah kita tetap berfikiran wajar, dan menyandarkan hidup kita yang singkat ini, dengan perbuatan-perbuatan baik,  dalam perlombaan kebaikan di dalam kehidupan.


____Salam Keseimbangan antar Ciptaan

Banyak Jalan Menuju Sorga


Ketika tulisan ini berhasil di posting, pasti akan menimbulkan reaksi, entah itu pro ataupun kontra. Baik pro ataupun kontra, saya tidak sama-sekali mempermasalahkan hak para pembaca sekalian, karena itulah arti kemerdekaan. Saat saya menulis ini, saya sama sekali tidak menginginkan adanya orang yang menyetujui, atau membenarkan pemikiran saya. Ini hanyalah ekspresi saya, melihat keadaan Indonesia yang majemuk. Terlebih akan saya soroti dalam kajian agama.

Tak ada satupun manusia beragama yang tidak mengenal dogma sorga ataupun neraka. Keduanya merupakan tempat yang akan manusia tuju setelah kematian. Seingat saya, itulah yang diajarkan dalam dogma agama. Doktrim sorga dan neraka terasa sangat kental, saat kita mempelajari teks-teks religius dari agama-agama Samawi, atau agama-agama Pewahyuan, diantaranya: Yahudi, Kristen dan Islam. Dalam ketiga agama agung inilah kita dapat bersentuhan langsung dengan konsep pemikiran, tentang sorga dan neraka.

Tuesday, May 13, 2014

Beragama namun seperti "tidak berTUHAN"


Dewasa ini saya kerap kali menyaksikan baik itu secara langsung, ataupun melalui media cetak, media elektronik, ataupun dalam media internet, adanya tindakan-tindakan anarkistis yang dilakukan oleh orang-orang yang mengatas namakan agama. Saya sangat keheranan, dengan atribut keagamaan yang komplit, dengan bahasa-bahasa kekhasan dari keagamaan tertentu, bahkan dengan membawa-bawa simbol agama tertentu, orang-orang ini seolah lupa bahwa mereka adalah hamba Tuhan. Dengan berbuat anarkis melakukan perusakan, melakukan tindakan nekad memukul orang lain yang dianggap musuhnya, bahkan pernah suatu ketika saya menyaksikan mereka yang mengaku taat dalam agamanya, membakar hidup-hidup orang lain yang saat itu berbeda keyakinan dengannya.

Bukankah dalam agama diajarkan suatu nilai kebenaran?, bukankah di dalam agama selalu ditekankan perbuatan moral yang luhur? Akhlak yang mulia? Pantaskah perbuatan yang mereka lakukan tersebut?

Hanya "beragama saja" tanpa pengetahuan, membentuk moral yang eksklusif. Masyarakat beragama saat ini, saya mencoba menilai, mereka hanyalah beragama saja, tanpa adanya bekal pengetahuan. Hal ini sungguhlah sangat berbahaya, oleh karena masyarakat mudah dihasut, mudah diprovokasi dengan iming-iming pahala sorga. Selain itu, masyarakat ditekankan teror yang menakutkan akan panasnya api neraka, bila mereka tidak menjalankan anjuran dari agamnya. Inilah yang menjadi masalah kita bersama.

Sebagian besar masyarakat beragama di Indonesia, hanya beragama saja, alias hanya menjalankan aturan agamanya secara harafiah (tertulis), namun mereka tidak memahami apa maksud dari yang tertulis tersebut.
Inilah bahayanya, jika kita hanya "beragama-saja".

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------