Sunday, November 4, 2012

Kisah Paijah TKW Arab Saudi – Part II


“Paijah and The Cambers of Secret”


Pak Karjan mencoba membangunkan Paijah yang rupanya sedang berpura-pura pingsan, dengan modus agar Pak Karjan membopong Paijah dan menaruhnya lembut dikasur yang empuk dan dan dan…. (Sensor) (maaf ini bukan blog dewasa tauukkk), ternyata lamunan dan impian Paijah kandas sudah. Bukannya diperlakukan manusiawi, malah-malah Paijah di seret secara paksa, Pak Karja memegang erat salah satu tangan Paijah (tentunya dengan sarung tangan yang sudah disterilisasi), dengan tergopoh-gopoh seperti menyembunyikan mayat, Pak Karjan menyeret Paijah tepat di bawah kaki Siti Dhenok. Wajah Paijah dihantamkan luar biasa keras di ubin, dan hidungnya tepat mencium kuku jempol siti yang sudah dikutex merah maroon, betahtakan “Prada”maroon swarosky, high heel kesayangannya.

Siti mengibaskan wajah lusuh itu, dia hentakkan sambil berjingkat rempong-serempong-rempongnya… dia kibas-kibaskan tangan, ambil pasir untuk menghapus najis besar yang melanda Siti Dhenok. Dan Siti-pun menyuruh security tampan itu untuk mengguyur wajah lusuh Paijah, dengan bekas-bekas-air comberan (air comberan kuadrat, sudah difermentasikan selama tujuh bulan lebih 5 minggu). Mencium aroma menyengat dan sangat khas itu, Paijah langsung bangun, lari palang pukang ke halaman depan warung, salah satu tangannya menopang badannya yang membungkuk, dan keluarlah air berwarna dari dalam dirinya… dia mual sejadi-jadinya.. sambil koprol dan menari hula-hula senari-narinya… sumpahh bau banget… air comberan apa sihh ini, tanyanya agak keras… sambil tetap menahan mual dan muntah.
Pak karjan menyahut, “emmm air bekas nyuciin orang utan Sumatra bell gembelll…. “ ujarnya sambil tertawa cekikikan bersama Siti Dhenok disampingnya…


Setelah selesai ritual mual dan muntah, Paijah diguyur oleh Pak Karjan dengan air PDAM yang debitnya mulai redup (maklum musim kemarau guys), dan dirasa sudah agak harum, dan berganti pakaian, Paijah ditanya oleh Siti Dhenok. Diapun mengungkapkan isi hati dan maksud kedatangannya ke rumah Ndoro Siti. Kembali deh, bibir Siti nyungir kayak Kuda kepang makan beling… dengan cetus dia bertanya ke Paijah “Beneran… eluu mau kerja di warung guwehhh” katanya sambil membelakangi Paijah dengan judesnya… suara langkah Highheelnya “cetok-cetok-cetok” memekakan telinga, seperti dosen killer sedang ngawasin ujian Alogaritma….

Paijah tertunduk lesu, sambil bergetar karena kedinginan plus meriang akibat beberapa hari bergadang liat bola sama bapak-bapak Dukuh Mojowetan(agar menang taruhan gitu)… “saya berniat sungguh ndoro…., ikut kerja disini” aksen jawa yang sungguh  kentara. Siti Dhenok lantas menatap wajah Paijah yang memelas, dan berkata “ellluhh itu bisanya apahhh… ha ha” “brettttt…..” sambil membuka kipas tangan Siti berlalu lalang di depan Paijah.

“Banyak ndoro… saya bisa segala hal… bisa masak, bisa nyuci piring, bisa nyuci baju, nyuci mobil ndoro.. bahkan nyuciin pak karjan juga bisa ndoro” senyum smuringah disela kelesuan terbit di bibirnya….
“Whattt !!!! ellu mau mandiin pak Karjan juga…?!, enak aja… Karjan milik guwehhh” sambil telunjuk Siti dipelantingkan di dahi Paijah… “Ya sudah.. ya sudah… daripada ellluhhh bikin badmood seharian…. Elluhh guwehh terima kerja disini, tapi ingat… patuhi segala aturan ditempat ini… Okey???” lanjut Siti, menerima permohonan Paijah.

“Terima kasih banyak.. Ndoro Siti, terima kasih” berkali-kali Paijah menciumi kaki Siti, dan berkali kali pula Siti Menghindar, dia gag mau mandi besar untuk yang kedua kalinya..
“Ndoro Siti, memang syaratnya apaan thoo ndoro?” Tanya Paijah..
“Okeyy kalo ellluh udah tanya, guwehh jawab… 1. Ellu kudu bisa buat pelanggan tertarik datang kemari, 2. Ellu harus giat bekerja disini…. 3. Kudu loyal, dan bisa menjaga rahasia resep yang ada… dan terakhir yang keempat…..” Siti terdiam sesaat.

“Yang keempat apaan too ndoro?” Paijah yang masih bersimpuh dibawah kaki Siti, penasaran dibuatnya.
“Emmmm… yang keempat, jangan sekali-kali elluu ngintip, atau nguping, atau malah masuk ke kamar belakang …. Okeyy Paijah!!!!? Bisa dimengerti!?”
“Owalahhh… gitu saja kok… gampang ndoro… bisa bisa” Paijah menganggung setuju…. Dan dia sangat bahagia diterima kerja di warung Ndoro Siti Dhenok.

“Lantas… mulai kapan saya bisa bekerja di sini, ndoro siti….!? “ tanya Paijah kembali.
“Yahhh hari ini,…… ellu bisa langsung capcus kerja…, okey yahh… ntar ellu ketemu sama menejer aku.. Pak Asep yahh… dia akan memberi kamu baju kerja…. Guwehh ke belakang dulu, sebentar lagi Asep datang kok” jawab Siti sambil berjalan sexy masuk ke dalam rumah.. (kebetulan warung makannya berada di teras rumah yang sangat luas)

Kebahagian terpancar dari wajah Paijah, dia diterima kerja di warung yang terhitung sangat popular di Dusun Mojowetan, ada juga sih warung makan lain yang juga cukup ramai, warung milik ibu Slamet Mugi Rahayu. Tapi entah mengapa kurang banyak diminati, padahal kalo dirasa-rasakan menunya lebih komlit di warung Ibu Slamet… tiba-tiba dari arah belakang Paijah, ada seseorang yang menepuk bahunya… dan sontak saja Paijah kaget terkentut-kentut… ada kesan mistik yang dia rasakan… Oww rupanya Pak Asep…

“Paijah.. ya…?? abdi tehh Asep, meneger di warung ini…, tadi abdi teh sampun dipangertosken ama Ndoro Siti, soal Paijah… dan ini….” Pak Asep menyodorkan baju seragam untuk Paijah. “lekas dipake ya…. Abdi tehh ada kaparluan saness pisan” dan sekonyong-konyong Pak Asep pergi meninggalkan Paijah sendiri. Paijah merasa merinding, ketika Pak Asep datang tanpa derap lagkah kaki dan menghilang tanpa bekas saat berpamit pergi. Ya sudahlah yang penting Paijah mendapatkan seragam kerja… Paijah celingukan bingung, melihat sekitar warung, nampaknya tidak ada tempat untuk dia dapat mengganti bajunya.. Ahh malu juga ya, masak dia harus ganti di tempat umum… Paijah mencari ruangan ganti, agar privasinya tetap terjaga… Dia berlahan mengendap, kedalam rumah… dan dia tidak menemukan siapapun disana, Ndoro Siti, ataupun Pak Karja, bahkan Pak Asep… meskupun batinnya bertanya, namun dia tetap menatap pada tujuan.. “ganti baju”.

Di ujung rumah, terdapat satu ruangan yang cukup kecil, dibandingkan ruangan-ruangan lainnya, dan dia mencoba membuka perlaham… dann… aman, gag ada siapapun yang melihat Paijah masuk kedalam… dia tampaknya lupa dengan janjinya kepada Ndoro Siti dhenok, dan ketika dia tersadar, Paijah sudah berada di dalam ruangan tersebut.. yang adalah “Kamar Belakang”.

Paijah dengan heran melihat sekitar, ruangan ini Nampak biasa saja, dan memang hanya ditemani sinar lampu temaram bholam 5 watt.. tapi bersih dan sedikit pengap, karena gag ada jendela atupun ventilasi. Yang bikin aneh adalah, banyak banget kantung-kantung yang biasa dipake tidur pas kemah-kemah.. sepertinya ada isinya.. di taruh berjajar disekeliling ruangan. Tanpa menggubris hal itu, paijah berganti baju… kebaya putih sexy, dan jarit mini yang sungguh mini, mepet dan terlihat sempit… dia tata kembali konde cempol di kelapanya dihadapan cermin yang sudah kusam… Taraaa… diapun sedikit terlihat seperti manusia… pada umumnya…

Tiba-tiba, salah satu kantung tidkur itu bergerak… bergerang perlahan namun pasti, bergetar-bergetar seakan mengetahui ada Paijah di dalam ruangan tersebut. Paijah ketakutan, dan dengan extra lebay dia menutup matanya sedangkan tangan satunya mencoba membuka resleting kantung tersebut… “kreeeekkkkk….” Kantung sedikit terbuka, dan…. “Astaga………!!! Pak Abdullah… “ Paijah terperanjat kaget, dan terduduk di depan kangtung tersebut, dia melihat Pak Abdullah yang adalah suami Ndoro Siti Dhenok dalam keadaan lemas, pucat pasi, dengan tatapan mata yang kosong… menatap Paijah dengan nanar tanpa bisa berkata satu patah katapun…. Pak Abdullah diisukan telah meninggal karena kecelakaan di kapal very di selat Sunda… dan mayatnya tidak diketemukan.. yang membuat Paijah kaget adalah, yang didepannya saat ini adalah Pak Abdullah, asli… bukan sekedar ilusi semata…

“Ada sesuatu yang tidak beres dari gelagat Ndoro Siti, jika ada pak Abdullah di dalam kantong tidur ini… maka di kantong tidur lainnya, pasti juga ada isinya” ucap Paijah dalam hati.
Dari arah luar, terdengar bunyi derap langkah Ndoro Siti yang sangat khas… dan Paijah belum sempat memastikan isi di dalam kantong tidur lainnya… Pak Abdullah, dengan isyarat menyuruh Paijah keluar dengan hati-hati… dalam keadaannya yang sangat lemas, Pak Abdullah menyuruh Paijah menutup kembali resleting dan keluar dengan sangat hati-hati…

Beberapa menit kemudian, setelah dirasa… aman.. Paijah mencoba mengintip, dan keluar perlahan, sangat pelan… dan….

---Kelanjutan kisahnya, ada di Paijah TKW Arab Saudi-Part III, klik disini yahhh ........

No comments:

Post a Comment

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------