Sunday, October 26, 2014

Mencari Tuhan


Perjalanan panjang manusia dalam menapaki kerasnya hidup, selalu berakhir pada penyerahan diri kepada TUHAN. dari masa ke masa, dalam serentetan panjang kehidupan, generasi ke generasi, dalam perkembangan peradaban manusia TUHAN selalu ada menghiasi kajian spiritual ataupun naskah-naskah kuno umat manusia.

Siapa Tuhan itu?
Manusia selalu takut dan kawatir, lebih-lebih terhadap sesuatu hal yang tidak diketahuinya, sesuatu hal yang misterius baginya. Kadangpula ketakutannya pun tidak beralasan, ketakutannya bersifat abstrak. Ketakutan dan kekawatiran inilah yang membuat manusia mencari sandaran hidup, mencari perlindungan terhadap hidupnya.

Saya pernah mencoba untuk berpikir, saat awal mulanya makhluk yang bernama manusia ini memulai menemukan hidup yang baru, disaat kemampuan otaknya mulai bekerja.Mungkin disaat itulah manusia merasakan ketakutan yang teramat dahsyat, saat manusia menyadari akan keberadaan dirinya, menyadari akan keberadaan lingkungannya, menyadari akan daratan, tumbuhan, makanan, bagaimana bertahan hidup, bagaimana meneruskan keturunan, bagaimana cara untuk berperadaban. Dan terlebih manusia bumi sadar bahwa mereka adalah manusia, dan bukan hewan.


Tingkat kesadaran mula-mula inilah yang membuat diriku tertegun sejenak.
Pasti disaat itu makhluk yang berjenis manusia merasakan tekanan yang begitu besar, begitu kuat, rasa takut yang teramat sangat, kawatir dan segala hal yang digambarkan dalam pemikirannya.

mengapa demikian, 
sebelum manusia mampu menyadari akan dirinya, manusia hanya berlaku secara insting dan naluri saja, tidak ubahnya seperri perilaku hewan. Dia lapar lantas makan, tidak mengerti apa itu makanan yang baik atau yang beracun, yang penting bisa mengenyangkan baginya. Saat dijumpai bahwa makanan tersebut beracun, yang mereka lakukan kemudian adalah tidak memakannya kembali. Manusia saat itu juga berkembang biak, namun secara naluri, seperti hewan pada umumnya. Namun ketika tingkat kesadaran dirinya mulai berkembang, kepalanya mulai terisi oleh sebuah kesadaran, dan rasa yang tidak pernah manusia pikirkan sebelumnya, diikuti dengan getaran dan goncangan yang dahsyat dalam pemikirannya, bahwa manusia mulai sadar benar akan keberadaannya.

Manusia yang sadar inilah lantas semakin berhati-hati dalam dia hidup, dalam makan, mereka mulai tahu teknik mengolah makanan, dan kemudian mereka memelihara kehidupannya menjadi lebih manusiawi. Manusia mulai kawatir akan sesuatu hal ketika melihat salah seorang dari kelompoknya ada yang terkulai lemah tak berdaya, dengan bahasa tubuh seadanya, manusia ini memahami bahwa anggota kelompoknya telah mati.
Perenungan demi perenungan semakin mempertajam pemikirannya, dia tau akan kematian, dia tau akan kelahiran, dia tau akan hidup. Kesadaran akan alam, kesadaran akan langit, kesadaran akan benda-benda angkasa, kesadaran akan berkomunikasi, dan berbudaya dan berbahasa, serta berperadaban.

Sebagai ketua dari kelompoknya, manusia ini harus dapat menjaga kelompoknya tetap hidup dan berkehidupan, oleh karenanya dibentuklah adanya suatu tatanan kehidupan, norma dan hukum. Mulailah adanya ajaran, keyakinan, dan agama.

Dengan adanya aturan hidup. Membuat manusia lenih teratur dan teratar dalam menjalankan kesepakatan hidup bersama. Ketika hal itu dituruti dan dipatuhi bersama, maka kehidupan akan tetap berjalan harmonis. Kala itu terjadi, banyak diantara mereka yang kemudian membentuk kelompok baru dengan satu pemimpin kelompok di dalamnya. Melakukan eksplorasi di permukaan bumi, bahkan melakukan pengamatan di tepian luasnya samudera raya. Satu-satunya hal yang mendorong mereka, adalah rasa keingintahuan yang tinggi.

Manusia ini sangat suka melihat keindahan alam di pegunungan, di sungai, hutan yang asri. Akan tetapi saat malam tiba, gelap menyelubungi udara, tak ada satupun manusia yang berani keluar dari tempat tinggalnya. 
pernah suatu ketika ada batu meteor jatuh menimpa ladang ilalang terbakarlah semak duri dan rerumputan, manusia-manusia itu lari tunggang langgang karena takut. Mereka pikir dewa sedang marah, lantas menghujani mereka dengan sebongkah batu besar yang menyala-nyala. Mereka belum mengenal tentang api, mereka hanya tau bahwa ini semua kemarahan dewa, sesuai dengan sistem kepercayaan yanh mereka bangun. Sang pemuka agama mereka, atau disebut shaman, menegaakan agar jangan sampai membuat dewa marah.

Mereka akhirnya berpindah tempat karena takut,
namun satu yang mereka pelajari adalah, api !!!
bahwa api dapat menerangi gelapnya malam.

Mereka mengira-ira dan mencoba mempraktikan kondisi awal terciptanya api,
awalnya dengan menghantamkan sebongkah batu besar pada sebongkah yang lain dari ketinggian, dan beberapa kali mencoba akhirnya munculah percikan kecil, namun lekas padam.
Demikian mereka ulangi dengan menambah ilalang kering sebanyak mungkin disekitar bongkahan batu dibawah, seketika bongkahan batu dari atas di lemparkan, percikan api terhambur dan membakar ilalang kering, mereka bersorak girang !!! Api !! Api !!!
semakin berkembang, dan mereka tau, bukan soal besar atau tingginya jarak hantaman, namun adanya benturan dari dua benda yang keras, akan menghasilkan percikan api. Lambat laun, mereka mengenal teknik menciptakan api, yang kemudian dilengkapi dengan getah tumbuhan terentu agar nyala api tetap awwt, dan malam-malam mereka kini sudah tidak lagi gelap.

Perjalanan panjang tak berujung terus manusia tempuh, untuk menguak tabir misteri tentang kekuatan Maha diluar jangkauan nalar manusia. Saat manusia melihat lautan yang membentang luas, mereka ingin tahu ada apa diujung lautan sana.

Rasa penasaran manusia ini, terus berkecamuk di dalam batinnya. Sehingga membawa mereka jauh kedalam perenungan dan kesadaran. Bahwa mereka adalah makhluk yang sangat lemah. Bayangkan saja, ketika malam datang, taburan bintang di angkasa membentang luas tak terbatas. Manusia sangat kagum dan takjub akan apa yang mereka lihat dan saksikan. Ketika bulan purnama menyapa mereka, mereka keheranan, akan adanya benda penerang raksasa yang tak terjangkau, namun terasa dekat. Akankah disana dewa berada? 

Ataukah dewa sedang memandangi kita melalui matahari, ketika sinarnya menyapa manusia dipagi hari, dan terbenam di malam hari. Manusia mulai sadar, dan membawa hidupnya dalam spiritual pada level yang lebih tinggi.

Perenungan manusia, tetap terus berlanjut. Sebenarnya darimanakah kehidupan ini berasal, dan ketika kematian datang, kemanakah mereka pergi? Dan untuk memberikan kelegaan bagi mereka yang telah ditinggalkan oleh kerabatnya melalui kematian, mereka mulai membentuk suatu dogma bahwa: setiap manusia yang mati, pastilah mereka akan bersama dengan dewa. Dan untuk menghormati cinta kasih dewata, manusia membentuk suatu ritual keagamaan.

Yang mana ritual tersebut, merupakan ungkapan syukur mereka atas kebaikan, keberuntungan, kesehatan, dan kebahagiaan yang manusia alami selama hidupnya.

Evolusi terjadi juga pada sistem kepercayaan, dan juga terjadi dalam keagamaan yang manusia buat. Konsep tentang ketuhanan juga mengalami evolusi, seiring dengan evolusi pengetahuan, evolusi sosial, evolusi norma dan aturan-aturan. Setiap ada perkembangan, disitu lah terdapat perubahan dan evolusi. Awalnya mereka hanya mempercayai adanya satu Tuhan, namun perkembangannya kemudian, mereka mempercayai adanya banyak sekali kekuatan maha diluar kehidupan manusia. Bisa jadi itu di laut, di gunung, di hutan, di gua, di sungai, dan banyak sekali tuhan-tuhan yang mereka sembah melalui alam yang terlihat. Itulah yang mendasari konsep Dinamisme.

Kemudian mereka juga meyakini bahwa leluhur mereka yang telah mengalami kematian, berarti mereka sudah bertemu dewa. Sehingga para leluhur yang telah tiada juga patut untuk di sembah, dan munculah konsep Animisme.

Pengertian animisme dan dinamisme tidan hanya terikat pada pemahaman itu saja. Manusia melakukan ritual keagamaan dalam kesunyian tanpa ada suara dan gerakan itulah Animisme, yaitu ritual batin. Kemudian jika dilakukan dengan melakukan gerakan, suara, nyanyian, kidung, madah, dan sebagainya itu dinamakan Dinamisme. Karena ritual tersebut bergerak dengan dinamis.

Sistem kepercayaan guna mencari kebenaran akan Tuhan, terus berlangsung. Bahkan hingga saat ini, dimana agama berlomba-lomba menjadi yang pertama, yang paling sempurna dalam memberikan gambaran yang nyata akan keberadaan Tuhan.

Namun demikian, apakah hanya ada satu sistem kepercayaan saja yang benar?!
Tentu saja tidak, karena kita, manusia, tidak tau apa yang sedang kita perbuat. Satu hal yang ingin ku katakan, bahwa: berbicara tentang Tuhan, tidaklah sesempit pemikiran bahwa: Gajah adalah hewan mamalia yang besar, dan mempunyai gading yang keras.

Tuhan tidak dapat disandingkan dengan apapun, dan tidak dapat diuji menggunakan metode apapun. Tuhan hanya dapat dilihat dengan menggunakan kacamata iman. Iman adalah kacamata yang membuat pemakainya nyaman dalam memandangi Tuhan. Jadi bisa dikatakan, Tuhan adalah suatu realita yang tidak dapat di jangkau oleh akal dan pemikiran manusia.

Manusia hanya mencari jalan menggapainya, dan apapun jalan menuju ke sana, semuanya baik dan benar adanya. Terlebih jalan-jalan tersebut merupakan penyempurnaan dari ritual kuno, ritual purba yang secara lisan ataupun tulisan, diturunkan oleh leluhur manusia bumi, kepada keturunannya dimasa mendatang.

Jadi, jalanilah apa yang bisa kita jalani saat ini. Mungkin saja dimasa depan, sistem agama yang saat ini kita peluk, tidak lagi relevan. Dan bersiaplah menjalani masa depan keagamaan modern yang sama sekali berbeda,dengan pengenalan tentang konsep Ketuhanan, yang juga akan mengalami evolusi.

Yang pada awalnya Tuhan di kenal di suatu gunung tertentu, berevolusi menjadi Tuhan yang ada di dalam segala hal, kemudian berkembang menjadi Monotheistik, Politheistik, Pantheistik, bahkan akan selalu berubah sejalan dengan peradaban umat, yang bernama manusia.

Selama masih ada pemikiran, maka akan tetap terus ada perubahan. Satu hal yang akan terus berubah adalah, perubahan itu sendiri.

--Salam Keseimbangan antar Ciptaan

No comments:

Post a Comment

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------