Tuesday, February 3, 2015

Selamat Natal?? Oooww yaaa? Seperti itu...!!! Lalu ??


Saat Natal 2014 tiba, saya merasa terjebak dalam perasaan yang aneh. Biasanya, semangat Natal membuat saya ingin menghabiskan pulsa SMS atau telepon untuk mengucapkan "Selamat Natal" kepada teman, keluarga, atau rekan kerja yang merayakan hari kelahiran Yesus Kristus pada 25 Desember. Namun tahun ini, saya tidak memiliki dorongan yang sama.

Bukan berarti saya menjadi acuh tak acuh terhadap Natal. Perasaan saya berubah tahun ini, dan dorongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tradisional yang saya lakukan setiap tahun tampaknya memudar. Saya merasa terputus dari perayaan yang sebelumnya membuat saya bersemangat dan penuh energi.

Saat saya mengamati sekitar, saya sadar bahwa yang paling diuntungkan dari keramaian Natal ini tampaknya adalah penyedia layanan telekomunikasi. Mereka akan meraup keuntungan besar dari lonjakan komunikasi selama musim liburan. Keberhasilan bisnis mereka pada Natal sangat bergantung pada volume SMS dan panggilan telepon, menjadikan mereka pemenang terbesar dari perayaan ini.

Di pusat-pusat perbelanjaan dan toko-toko di kota saya, suasananya semakin meriah dengan atribut Natal—pohon Natal yang berkilauan, topi merah dengan pom-pom putih, bando tanduk rusa, syal merah dan hijau, serta berbagai fashion Natal yang glamor tertata rapi di jendela-jendela toko. Pemandangan ini sangat mencolok dan terasa seperti pertunjukan besar.

Namun, saya mulai bertanya-tanya, apakah inilah Natal yang sebenarnya? Pemandangan kemegahan ini membuat saya mempertanyakan apakah semua ini memiliki makna yang lebih dalam, ataukah hanya sekadar pertunjukan yang mengesankan mata tetapi kosong makna.

Makna yang Sebenarnya

Dalam keheningan malam, di tengah hiruk-pikuk musik Natal yang keras dan tepuk tangan lelah dari kerumunan yang sudah jenuh dengan perayaan berulang, saya mulai merenungkan: apakah ini benar-benar Natal? Siapa atau apa yang sebenarnya kita rayakan? Apakah kita merayakan formalitas atau spiritualitas? Keriuhan atau kesadaran?

Mari kita kembali ke sekitar tahun keempat sebelum Masehi. Bayangkan Maria, ibu Yesus, yang berjuang mencari tempat untuk melahirkan. Maria dan tunangannya, Yusuf, tidak menemukan tempat yang layak untuk melahirkan Yesus. Mereka tidak disambut dengan musik yang keras atau pakaian mahal. Tidak ada dekorasi mewah untuk kelahiran Yesus. Bayi Yesus hanya disambut oleh para gembala, hewan ternak, dan dibaringkan di palungan tempat makan ternak.

Saya membayangkan suasana tersebut sangat sederhana dan keras. Penerangan minimal hanya berasal dari api yang redup, dan ketidaknyamanan saat itu—gigitan nyamuk, gatalnya jerami di kulit, dan bau kotoran hewan—sangat kontras dengan kemewahan yang sering kita asosiasikan dengan Natal saat ini.

Irama Perayaan Modern

Melihat bagaimana banyak uang dihabiskan dan makna sejati Natal sering kali dilupakan, saya merasa bahwa kita mungkin menjadi orang-orang yang munafik. Natal bukanlah tentang musik yang indah, pujian yang megah, atau khotbah yang berapi-api. Natal bukanlah tentang dekorasi yang mewah, baju baru, atau perhiasan mahal. Natal bukanlah tentang door prize yang mahal atau berapa banyak uang yang kita habiskan untuk perayaan ini.

Natal seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang kita belanjakan atau seberapa megah perayaan kita. Esensi Natal terletak pada semangat yang lebih dalam—sebuah panggilan untuk menghadirkan kedamaian, cinta, dan kebaikan dalam hidup kita. Tanpa memahami dan menerapkan semangat kelahiran Yesus dalam diri kita, kita belum benar-benar merayakan Natal.

Yesus tidak memerlukan nyanyian yang indah, pakaian yang bagus, tarian yang memukau, atau perayaan yang mewah. Apa yang Yesus inginkan adalah umat manusia untuk membawa damai, kebahagiaan, dan kebaikan kepada semua orang, terlepas dari agama atau kepercayaan mereka.

Refleksi Pribadi dan Kritik Terhadap Konsumerisme

Ketika saya memikirkan Natal, saya tidak bisa tidak merasa bahwa perayaan ini telah mengalami perubahan besar dari makna aslinya. Natal seharusnya menjadi waktu untuk introspeksi dan perenungan, bukan hanya sekadar waktu untuk belanja dan pesta. Dalam masyarakat modern, perayaan Natal sering kali dipenuhi dengan konsumerisme yang berlebihan. Iklan-iklan Natal menghiasi televisi dan media sosial, mempromosikan barang-barang mewah yang seolah-olah menjadi esensi dari perayaan tersebut.

Kita hidup di dunia di mana komersialisasi Natal sering kali mengalihkan fokus dari makna spiritualnya. Kita dikelilingi oleh tekanan untuk membeli hadiah mahal, menghias rumah dengan dekorasi yang glamor, dan merayakan dengan pesta yang megah. Semua ini bisa menjadi distraksi dari esensi sebenarnya dari Natal.

Saya juga mulai mempertanyakan apakah perayaan Natal yang mewah ini benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Yesus. Apakah kita menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk mengkonsumsi dan merayakan, sementara esensi sejatinya—kedamaian, cinta, dan kebaikan—sering kali terlupakan?

Natal seharusnya menjadi waktu untuk memperbaiki hubungan, berbuat baik kepada orang lain, dan menunjukkan kasih sayang. Alih-alih membuang-buang uang untuk barang-barang yang tidak benar-benar diperlukan, kita harus lebih fokus pada bagaimana kita dapat memberikan dampak positif dalam hidup orang lain.

Pembelajaran dari Sejarah Natal

Mari kita renungkan kembali latar belakang historis dari Natal. Kelahiran Yesus Kristus terjadi dalam kondisi yang sangat sederhana dan penuh kesulitan. Maria dan Yusuf menghadapi tantangan besar dalam mencari tempat untuk melahirkan. Mereka tidak mendapatkan fasilitas yang layak atau penyambutan yang meriah. Sebaliknya, mereka menerima kehadiran sederhana dari para gembala dan hewan ternak, serta tempat tidur Yesus di palungan.

Keberadaan Yesus di palungan bukanlah simbol kemewahan, tetapi lebih kepada simbol kesederhanaan dan kerendahan hati. Ini adalah pengingat bahwa nilai-nilai utama Natal bukanlah tentang kemewahan atau materi, tetapi tentang cinta dan pengorbanan.

Menghidupkan kembali semangat kelahiran Yesus berarti kita harus kembali pada nilai-nilai dasar yang mendasari perayaan ini—kasih, damai, dan kebahagiaan. Ini berarti menempatkan fokus pada bagaimana kita dapat menunjukkan kebaikan kepada orang lain dan menjalani kehidupan dengan penuh empati dan rasa syukur.

Menerapkan Semangat Natal dalam Kehidupan Sehari-Hari

Untuk merayakan Natal dengan cara yang bermakna, kita harus memastikan bahwa semangat Natal tercermin dalam tindakan kita sehari-hari. Ini bukan hanya tentang bagaimana kita merayakan pada tanggal 25 Desember, tetapi bagaimana kita menjalani hidup kita sepanjang tahun.

Kita dapat memulai dengan melakukan tindakan kecil tetapi signifikan yang mencerminkan nilai-nilai Natal. Misalnya, kita dapat terlibat dalam kegiatan sukarela, membantu mereka yang kurang beruntung, atau hanya memberikan waktu dan perhatian kepada orang-orang yang kita cintai. Tindakan-tindakan ini adalah cara nyata untuk merayakan Natal dengan makna.

Selain itu, kita juga perlu merenungkan bagaimana kita dapat menyebarkan semangat Natal kepada orang lain. Ini bukan hanya tentang memberikan hadiah, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan, memberikan dukungan, dan menyebarluaskan cinta di sekitar kita.

Natal adalah waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri dan memperbaiki hubungan kita dengan orang lain. Ini adalah kesempatan untuk memaafkan, menyelesaikan konflik, dan memperkuat ikatan dengan keluarga dan teman. Dengan melakukan hal ini, kita tidak hanya merayakan Natal, tetapi juga menyebarkan semangat Natal dalam kehidupan sehari-hari.

Natal sebagai Waktu untuk Perubahan Positif

Kelahiran Yesus adalah simbol perubahan dan pembaharuan. Ini adalah kesempatan untuk memikirkan bagaimana kita dapat melakukan perubahan positif dalam hidup kita dan masyarakat. Natal harus menjadi pengingat bahwa kita memiliki kemampuan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik melalui tindakan kasih sayang dan kebaikan.

Kita juga harus mempertimbangkan bagaimana kita dapat lebih memperhatikan dan mendukung orang-orang di sekitar kita. Ini mungkin termasuk membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan, memberikan dukungan emosional, atau bahkan hanya menawarkan senyuman dan kata-kata yang baik.

Dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa semangat Natal tidak hanya ada selama satu hari dalam setahun, tetapi hidup dalam tindakan kita sepanjang waktu. Ini adalah tentang membuat dampak yang positif dalam hidup orang lain dan memperkuat nilai-nilai yang mendasari perayaan Natal.

Kesimpulan

Natal adalah waktu untuk merayakan lebih dari sekadar tanggal atau perayaan fisik. Ini adalah waktu untuk merenungkan makna yang lebih dalam dari kelahiran Yesus dan bagaimana kita dapat menghidupkan semangat Natal dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang penuh

Sunday, October 26, 2014

Tuhan dan Alien



Para skeptis, adalah mereka yang tidak mau mempercayai hal-hal apapun yang menurut mereka tidak dapat dipercayai oleh akal pikiran mereka. Skeptis mempunyai sudut pandang tersendiri dalam kenyamanan dalam mempercayai sesuatu. Bahkan pada kenyataannya para kaum skeptis tidak mau mempercayai walaupun kebenaran tersebut benar-benar telah dibuktilan secara otentik.

Pada awalnya saya merupakan, atau tergolong dalam person yang sangat skeptis dengan yang namanya ALIEN. Saya sangat tidak dapat meyakini bahwa alien adalah eksis dan benar-benar ada di dunia material.yang fana ini. Saya cukup mengira, bahwa alien hanya eksis dalam ranah perfileman Hollywood. Saya semenjak kecil sangat kental dan taat akan kisah dan praktik-praktik agama yang saya emban saat ini, dan dalam sistem kepercayaan tersebut saya tidak bisa mempercayai adanya makhluk lain di semesta ini, selain manusia dan makhluk-makhluk di planet bumi.

Dalam pelajaran atau theologi yang saya terima, bahwa bumi merupakan planet yang dirahmati oleh Sang Kuasa, hanya satu-satunya planet yang diberikan berkah olehNya, yaitu berkah adanya kehidupan di dalamnya. Bahkan secara khusus dikisahkan dalam suatu metafora spiritual, dalam salah sayu madah dikisahkan, bahwa penciptaan dengan central di planet bumi ini dilakikan dalam enam hari dan pada hari yang ketujuh, Sang Pencipta beristirahat untuk melakukan Perayaan Sabbath dan menguduskan ciptaanNya.

Dari dogma theologis tersebut, sangat sulit bahkan mustahil saya bisa berpikir akan adanya kehidupan lain, selain di planet bumi. Namun seiring berjalannya waktu, pengetahuan bertambah, begitupula kemampuan untuk pribadiku berpikir juga mengalami evolusi ke tingkat yang lebih baik.

Awalnya saya beranjak dari adanya film cartoon minggu pagi, yaitu: Dragon ball, yang mana mengisahkan bahwa Son-Gokku merupakan makhluk asing berpengetahuan dari planet luar bumi. Adapula Sailor Moon dan prajurit wanita penjaga tata surya "matahari". Selian itu ada serentetan filem yang berdampak sebagai budaya global, yang terindikasi memberikan pencerahan masa bagi yang menontonnya. Bisa dibilang: Distric Nine, Avatar Planet Pandora, Skyline, Jhon Charter, Transformers, Sign, Alien vs Predator, Alien and Cowboy, dan sebagainya.

Dan semakin tertantang lagi untuk belajar dari tulisan-tulisan kuno seperti Enuma Elish dari atefak Banilonia. Ada juga kitab Henokh, buku Urantia, adanya paham agama baru yang bernama Realianisme, yang mempercayai akan keberadaan Alien. Dan rasa penasaranku akan adanya bangunan megah luar biasa yang dibangun di zaman kuno dengan teknologi yang seharusnya super canggih, namun tidak mungkin terjadi sebab dibangun dalam peradaban manusia yang masih sangat primitif.

Dengan pengalamam pengetahuan tersebut semakin membuka cakrawala pemikiranku, bahwa alam semesta ini tidak hanya seluas bumi. Bumi kita hanya setitik debu yang super kecil diantara trilyunan bintang di alam semesta yang tidak terbatas. Sehingga peluang adanya planet serupa dengan bumi adalah sangat besar kemungkinannya. Sikap skeptisku berangsur-angsur memudar, dan beralih menjadi sangat tertarik dengan asanya kebudayaan peradaban modern yang dikemas dalam kepercayaan adanya Alien.

Lantas apa kaitannya dengan judul postingan kita kali ini?
Jika alien benar-benar ada dan eksis, akankah hal ini mempengaruhi kepercayaan kita akan adanya entitas yang MAHA yang sepanjang peradaban menyebutnya dalam beragam nama mulia, yaitu TUHAN??

Akankah nilai keberadaan Tuhan mulai luntur dengan adanya peradaban modern yang mempercayai adanya Alien?? 
TENTU SAJA TIDAK !!!

Dalam postingan saya saat ini, saya ingin menyuarakan apa yang sedang saya pikirkan. Kita tidak perlu khawatir akan adanya gelombang kepercayaan baru, yang diisukan akan merombak sistem keagamaan dunia. Itu semua belum tentu benar adanya.

Eksistensi Alien, malahan membuat kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi semakin kuat dan mendalam. Pengenalan kita kepada Tuhan memjadi semakin luas dan kita dibawa menuju level spiritual yang lebih tinggi daripada sebelumnya.

Alien merupakan ciptaan yang sama dengan kita manusia, namun mereka berhasil melakukan tahap demi tahap evolusi di dalam planet kampung halaman mereka untuk sebuah misi sebagai penguasa di planet tersebut. Mereka merupakan ras prime untuk planet mereka sendiri. Bahkan teknologi dan peradaban mereka bisa jadi jauh lebih canggih dibanding peradaban manusia bumi.

Kita tahu bahwa kita merupakan hasil daripada rantai evolusi yang memakan waktu ribuan bahkan jutaan tahun, yang merupakan saudara dari simpanse, gorilla, bonobo, kera dan primata lainnya. Namun karena satu-satunya yang mempunyai akal pikiran dan berkomunikasi melalui bahasa, kita dapat memenangkan seleksi alam, dan menjadi makhluk superior di planet bumi ini. Sama dengan hal tersebut, bisa jadi jauh di luar planet bumi adalah makhluk dari genus lain yang berevolusi dan menyesuaikan diri dengan habitatnya maka akan mempunyai wujud dan rupa yang sedikit berbeda katimbang manusia bumi. Atau bahkan mereka sudah menguasai teknologi android yaitu menggabungkan makhluk biologis dengan teknologi mesin yang terkomputerisasi. Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Atau bisa jadi alien cerdas tersebut, sudah mampu menguasai teknologi memecah sel-sel tubuh mereka sebesar partikel nano dan kemudian mampu merekonstruksi tubuh mereka kembali, sehingga mampu melaju pesat delalam kecepatan cahaya melintasi semesta yang tak terbatas. 

Sejak kapan peradaban canggih super maju, yaitu peradaban alien tersebut ada? Darimana mereka berasal? 

Sebenarnya kita tidaklah tau-menau perihal eksistensi mereka, namun mari kita sedikit berpikir, akan luasnya semesta kita yang tidak ada batasannya ini. Semesta yang tanpa ada batasan, yang tidak tau kapan awalan dan akhirannya, menimbulkan pertanyaan sekaligus misteri yang masih sulit untuk disibakkan. 

Namun satu yang pasti, segala sesuatu pasti ada yang mengawali. Seperti teori yang dikemukakan oleh Louis Pasteur, yang merupakan dalil dari hukum Biogenesis, yang demikian: 

"Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo, omne vivum ex vivo" 
Yang berarti: "semua kehidupan berasal dari telur, semua telur berasal dari kehidupan, dan semua kehidupan berasal dari kehidupan sebelumnya" 

Namun, bagaimana asal muasal kehidupan itu muncul? Masih juga dipertanyakan. Ada pula teori lain yang menyatakan bahwa kehidupan perdana muncul oleh sebab ketidaksengajaan, spontanaeous generation. Kehidupan muncul secara tiba-tiba dan spontan. Bahkan dalam beberapa penelitian mengatakan bahwa kehidupan muncul dari bentuk senyawa yang berasal dari benda mati. Teori tersebut dikenal dengan istilah Abiogenesis, atau Teori asal muasal kehidupan dari benda mati. 

Memang secara nalar rasional, kita masih sukar untuk menerima kebenaran tersebut. Hal itu dikarenakan kita lebih dahulu bersinggungan dengan theologi, atau dogma yang berasal dari sistem kepercayaan atau agama, yang memberi gambaran akan kuasa Sang Pencipta dalam melakukan penciptaan secara spektakuler dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada, atau Creatio Ex Nihilo. Hal ini hanya dapat hidup dan menjadi pegangan bagi kaum agamawan, yang notabene mengimani akan hal tersebut, dengan berbekal kepercayaan dan rasa nyaman belaka, yang pada kemudian hari tidak lagi mau untuk mencari kebenaran melalui disiplin ilmu-ilmu lainnya.

Segala metode yang digunakan untuk menyentuh zona misteri akan adanya Ras Kecerdasan lain di luar planet bumi,sudah dikerahkan dan diupayakan, namun sampai saat ini, itu semua masih dalam tataran Hipotesa tanpa bukti.

Kemudian dari dalam pemikiran ku, muncul sekelumit pertanyaan, jika memang benar Ras Cerdas di luar bumi itu benar-benar ada dan eksis, lantas apa tujuan mereka melakukan penjelajahan semesta dan mengeksplorasi planet-planet primitif dalam galaksi-galaksi muda? Atau setidaknya manusia bumi pernah mengalami kontak dengan ras Cerdas tersebut. Entah di zaman modern atau pada zaman kuno.

Beberapa jawaban kucoba untuk ulas dalam postingan kali ini, demikian:

1. Mencari sumber energi lain.
Mengapa demikian:
Hal ini mungkin dipengaruhi oleh karena, keterbatasan sumber daya alam yang terkandung di dalam planet mereka. Sehingga mereka berusaha untuk mencari energi lain, atau mencari alternatif energi di planet-planet yang mereka sinyalir terdapat cadangan energi yang melimpah. Atau ras Cerdas ini, hendak mencari logam-logam tertentu, seperti emas, yang berguna sebagai konduktor listrik yang paling baik diantara logam lainnya. 

Dari zaman dahulu, emas merupakan logam yang sangat tersohor di kelasnya, oleh sebab logam emas tidak dapat mengalami korosi (perkaratan), dan merupakan penghantar listrik yang sangat baik, karena sifatnya yang bebas hambatan. Sehingga energi listrik yang dialirkan melalui logam emas tidak mengalami pengurangan oleh karena, tidak adanya hambatan.

2. Membentuk Koloni Baru
Bisa jadi, ras Cerdas dari Galaksi atau planet lain, ingin mengembangkan koloni mereka. Membentuk suatu sistem peradaban yang maha luas, guna menguasai jagad raya. Atau hanya sekedar mempertahankan kelangsungan hidup ras cerdas itu sendiri. Bayang kan saja, ketika suatu makhluk bisa sampai pada fase Intelegensia dan berperadaban super modern dan canggih, pastinya memerlukan ribuan tahun, dan mengalami ratusan kali fase evolusi. Sehingga mereka tidak ingin Ras Mereka punah begitu saja. Mereka melestarikan Ras mereka dengan cara membentuk koloni baru disuatu planet yang layak huni lainnya.


3. Melakukan penelitian, dalam rangka menciptakan organisme cerdas yang baru.
Nah kalo yang ini, agaknya terlampau berlebih. Namun saya pernah berpikiran yang sama dengan pernyataan tersebut.
Bisa jadi Ras Cerdas yang melintasi antariksa dan menetap disuatu planet tertentu, hendak melakukan suatu percobaan. Dan percobaan itu dinamakan "Life Carier" atau Pembawa Kehidupan. Oleh karena kecerdasan, serta teknologi mereka yang super canggih, sudah barang tentu, dan bukanlah hal yang mustahil ketika mereka dapat melakukan suatu tugas untuk menciptakan suatu bentuk kehidupan baru, dari sebuah kehidupan primitif di sebuah planet yang belum berpenghuni.

Bisa jadi Dewa, atau Malaikat, atau penghuni langit yang dikisahkan dalam naskah-naskah suci, ataupun tulisan-tulisan keagamaan, merupakan sekelompok atau sekumpulan daripada Ras Cerdas yang berasal dari suatu tata surya yang jauh dari bumi, dan hendak menciptakan kehidupan baru di planet bumi yang kala itu masih sangat primitif.

Manusia bumi yang merupakan ras evolusi dari genus homo, dengan spesies sapiens. Bisa jadi merupakan rekayasa genetik suatu ras Cerdas, yang dikemudian hari disebut dengan istilah dalam ranah spiritual yang transenden, yang tidak dapat ditangkap oleh nalar primitif suatu pola peradaban manusia bumi yang kala ini masih sangat primitif.

Di sebuah taman observatorium, yang kala itu sangat terkenal dengan pohon kehidupannya, percobaan kehidupan inipun dimulai. Ketika manusia bumi, yang merupakan rekayasa genetika dari genus homo, yang adalah kerabat dekat dari simpanse, gorila, orang utan dan bonobo. Ras Cerdas tersebut, mungkin juga tidak secara naif, dan terlampau narsis ketika mereka berhasil menciptakan suatu kecerdasan baru, walaupun masih sangat primitif, yang kemudian di sebut dengan istilah peradaban Manusia Bumi.

Ketika mereka berhasil melakukannya, mereka lantas mengamati dari jauh, agar keseimbangan keberlangsungan hidup manusia bumi, dapat berjalan secara alamiah. Walau tak hayal, Ras Cerdas inipun terkadang mengirimkan suatu aturan, norma, atau bahkan hukum-hukum yang dikirimkan dari "langit" untuk keberlangsungan peradaban manusia bumi.

Saya tidak berani untuk mengutarakan, namun yang saat ini mengganjal dalam pemikiranku: "mungkinkah, Ras Cerdas pada zaman kuno, yang pernah kontak langsung dengan Manusia Bumi, adalah alien?! Dan melalui tradisi lisan maupun tulisan, nenek moyang manusia bumi, secara turun temurun, melalui sistem kepercayaan hendak mengutarakan kepada keturunannya, bahwa asal kecerdasan dan kehidupan manusia bumi, berasal dari Mereka?!

Ketika pikiran tersebut merasuk, spiritual ku pun mulai masuk dalam tataran yang lebih tinggi. Jika demikian, dimanakan posisi dan keberadaan Tuhan?

Ketika kelak manusia bumi, juga akan mempunyai gambaran dan rupa Tuhan dengan jelas, melalui teknologi canggih dan peradaban super maju, di era karir Peradaban Manusia Bumi bertaraf penjelajahan antariksa. 

Mungkinkah, kita juga akan disebut sebagai dewa, atau bahkan tuhan? Bagi ciptaan-ciptaan, atau anak-anak rekayasa kehidupan kelak? Ketika segala sesuatu itupun dapat kita lakukan pada saatnya nanti?!

Yaaa... Waktu lah yang akan menjawabnya...


__Salam Keseimbangan antar Ciptaan.

Taman Firdaus (Eden) - Teori Taman Observatorium




Postingan kali ini, semata-mata merupakan imajinasi berlebihan seorang perjaka, yang sedang iseng santai menenangkan pikiran dari penatnya aktifitas sehari-hari
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Diantara kita, pasti pernah bertanya-tanya, mengenai hal-hal yang misteri, diantaranya asal muasal “manusia” di planet Bumi. Nah… diujung rasa pertanyaan ini, secara reflek, biasanya kita mengandalkan “keyakinan” dan meyakini bahwa apa yang kita pikirkan atau imani adalah benar adanya. Meski tak hayal, informasi tersebut belum jelas sumbernya ataupun jelas sumbernya namun belumlah diuji dari berbagai ujian kebenaran informasi.

Seperti contoh:
1. Apa itu Taman Eden?
2. Dimana lokasi tempat tersebut?
3. Seperti apakah buah pengetahuan baik dan jahat, yang dimaksud?

Mengapa kita perlu menguji setiap informasi? Walaupun dari sumber TERPERCAYA sekalipun?

Alasannya sangatlah sederhana, yaitu agar rasa kepercayaan yang kita miliki, adalah rasa percaya yang OTENTIK ! yang sah, yang disaksikan banyak pihak. Banyak pihak yang dimaksud tentu selain diri kita sendiri.

Apa saja yang ada di tangan TUHAN?



"Hidup, mati, kaya, miskin, sakit, sehat, itu semua sudah ada yang mengaturnya..."
setiap orang ketika berpasrah diri akan menjawab dengan kalimat seperti disebutkan diatas, namun apakah hal itu benar?
Jika sudah ada yang mengatur, hidup-mati, kaya-miskin, sehat-sakit, maka standart apa yang digunakan untuk mengatur ini semua? apakah adil ketika si-A diberikan kekayaan, sedangkan si-B diberikan kemiskinan dalam hidupnya. Apakah bijaksana jika si-C diberikan kemuliaan, namun si-D diberikan kesengsaraan dan permasalahan yang pelik dalam kehidupannya?? dimana letak usaha dan prestasi?? jika segala sesuatu TELAH DIATUR!!! dan kita, manusia tinggal menjalankan peran, yang sesungguhnya TIDAK KITA INGINKAN, untuk DILAKUKAN??

Mencari Tuhan


Perjalanan panjang manusia dalam menapaki kerasnya hidup, selalu berakhir pada penyerahan diri kepada TUHAN. dari masa ke masa, dalam serentetan panjang kehidupan, generasi ke generasi, dalam perkembangan peradaban manusia TUHAN selalu ada menghiasi kajian spiritual ataupun naskah-naskah kuno umat manusia.

Siapa Tuhan itu?
Manusia selalu takut dan kawatir, lebih-lebih terhadap sesuatu hal yang tidak diketahuinya, sesuatu hal yang misterius baginya. Kadangpula ketakutannya pun tidak beralasan, ketakutannya bersifat abstrak. Ketakutan dan kekawatiran inilah yang membuat manusia mencari sandaran hidup, mencari perlindungan terhadap hidupnya.

Saya pernah mencoba untuk berpikir, saat awal mulanya makhluk yang bernama manusia ini memulai menemukan hidup yang baru, disaat kemampuan otaknya mulai bekerja.Mungkin disaat itulah manusia merasakan ketakutan yang teramat dahsyat, saat manusia menyadari akan keberadaan dirinya, menyadari akan keberadaan lingkungannya, menyadari akan daratan, tumbuhan, makanan, bagaimana bertahan hidup, bagaimana meneruskan keturunan, bagaimana cara untuk berperadaban. Dan terlebih manusia bumi sadar bahwa mereka adalah manusia, dan bukan hewan.

Friday, August 22, 2014

Bagaimana menjadi pengamat UFO yang baik, bagi pemula.

Penampakan UFO yangberhasil di tangkap
jepretan kamera -- Lokasi Blok M Jakarta
source klik
Generasi modern seperti saat ini, mungkin tidak lagi memperhatikan sesuatu disekitarnya, oleh karena budaya gadget yang tidak pernah lepas dari tangannya, dan juga mata beserta pikirannya. Sehingga kita kurang care terhadapfenomena-fenomena disekeliling kita. Padahal, bisa jadi ada sebuah fenomena UFO di sekitar kita, bisa jadi ada UFO yang melintas di jalan, di sawah, di danau, di pasar, atau bahkan di pinggir kali. Jika kita tanggap dan sigap, maka bisa jadi, kita adalh orang yang berhasil mengabadikan gambar/ foto UFO, atau bahkan memberikan informasi detail kepada yang bersangkutan, alhasil kita bisa dilipun media deh… hhahaaha… terkenallah kita !!!
Nah untuk itulah ….. kali ini Jhonnastudio memberikan beberapa tips dan trik singkat, untuk menjadi Pengamat UFO bagi Pemula.

Yehezkiel diajak ke pangkalan koloni Makhluk Langit, dari Khaldean ke Himalaya !??

Yehezkiel Melihat Wahana Antariksa 
source klik

Mungkin kita dibuat berdecak kagum dan bahkan heran, mendapati adanya fakta-fakta menarik tentang kontak alien dengan manusia bumi, yang dapat kita temukan bahkan dalam tulisan-tulisan yang kita anggap suci (kitab suci keagamaan). Seperti yang saya posting kali ini, yaitu dalam Kisah Yehezkiel. Bagi kita yang memeluk agama Yahudi ataupun Kristiani, pastinya sudah tidak asing lagi bagi kita. Yehezkiel adalah seorang suci (diangkat dan diberi gelar sebagai seorang Nabi Israel), atau disebut utusan Tuhan, yang bertugas sebagai pembawa pesan illahi kepada umat manusia, terkhusus bagi umat Israel kala itu. Diperkirakan Yehezkiel pernah hidup pada 600 tahun sebelum masehi. Di zaman saat Yehezkiel bertugas, pada saat itu kerajaan Israel mengalami masa-masa yang sulit, yang mana Negara ini sedang dijajah oleh  Bangsa Babilonia, dan beberapa diantara Rakyat Israel harus mengalami nasib kurang beruntung saat mengalami pembuangan ke negeri Babel, menjadi seorang budak dan menjadi tawanan perang.
Kontak pertama dengan makhluk langit (angkasa luar; antariksa.red), diawali pada saat peristiwa langit terbelah, dan terlihat “suasa mengkilap” yang masuk ke atmosfer bumi disertai perubahan cuaca ektrim, adanya angin kencang dan juga petir yang menyambar-nyambar. Dari dalam suasa itu, atau wahana terbang itu, terdapat empat makhluk bersayap, yang masing-masing wajah mereka menyerupai: lembu, burung rajawali, singa, dan anak manusia. Pada bagian dalam (dada) mereka terlihat sesuatu seperti suluh (nyala api) yang aktif bergerak (bisa jadi itu semacam energy aktif penunjang hidup makhluk asing tersebut). Sedangkan dikisahkan oleh Yehezkiel, wahana terbang lintas planet (wahana antariksa.red) tersebut berbentuk seperti bola, yang dipermukaannya terdapat tonjulan-tonjolan yang disebut seperti “mata”. Wahana terbang tersebut dapat bergerak ke segala penjuru, dapat menggelinding di darat, dan juga terbang perlahan mengambang di angkasa. (1)

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------