Tuesday, July 16, 2013

Bhineka Tunggal Ika dalam Ketuhanan di Indonesia



Saudara yang terkasih di dalam naungan kasih yang abadi dan setia

Pada postingan kali ini, Jhonna ingin sedikit melankolis, akan sedikit lebih menyentuh sisi lembut dalam diri kita. Sisi itu adalah hati, iya benar !! hati nurani kita.

Segala bahasan, perbincangan ataupun diskusi, yang berhubungan dengan spiritual lebih membuat kita terhanyut kedalam sisi lembut dalam diri kita. Oleh karena yang disentuh daripada setiap kata yang didengar oleh telinga kita, akan menyentuh dengan lembut hati nurani ini, dengan sentuhan yang tidak terduga. Akupun merasakan hal tersebut, berkali-kali, kapanpun aku dengarkan kata demi kata, baik itu: di dalam perjalanan, di tepi trotora jalan, pada tempat kerja saya, pada tempat saya boleh beribadah, dan lebih sering pada diskusi hangat dalam keluarga saya.

Sentuhan-sentuhan lembut dalam sisi spiritual inilah, yang biasanya akan membawa dampak signifikan, sebagai pedoman untuk hidup kita keseharian. Kenapa disebut biasanya, karena mayoritas pendengar ataupun pembaca akan merasakan hal yang demikian, meskipun beberapa diantaranya tidak dapat merasakan sentuhan lembut tersebut.

Saudaraku... sahabatku dan pembaca setia,
postingan ini, saya harapkan dapat memberikan sensasi sentuhan-sentuhan lembut pada sisi terdalam diri kita, dan dalam beberapa ulasan kedepan nanti saya berharap, agar pembaca sekalian dapat secara bijaksana menyikapi setiap kata, kaliman dan ulasan-ulasan yang ada...

Salam Keseimbangan Antar Ciptaan ^_^

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Konsep Dasar Ulasan
Kita hidup dan berkehidupan, ditengah-tengah masyarakat yang sungguh sangat beragam, baik itu beragam suku, bahasa, etnis, dialek, pemikiran, latar belakang, status sosial. Lebih dari itu, diluar daripada kehidupan berbangsa dan bernegara kita, kita mengetahui bahwa Indonesia juga hidup ditengah beragam bangsa, beragam bahasa-bahasa dunia, beragam ideologi, dan berbagai macam bentuk ataupun pola kehidupan dunia. Keberagaman itulah yang sesungguhnya, memperkaya kehidupan setiap manusia, yang mau menyadarinya. Jika kita mau rendah hati, dan menyadari lebih mendalam, menyelusur kedalam pola kehidupan yangberagam tadi, kita akan menemukan adanya "garis tebal" yang menyatukan setiap perbedaan dan keragaman yang ada. Suatu itu adalah Tuhan.

Setiap peradaban, setiap suku, bahasa, kehidupan berbangsa, memiliki konsep akan adanya "suatu" junjungan tertinggi yang secara umum disebut sebagai Tuhan (bahasa Indonesia). Di Indonesia saja, yang mana setiap suku memberikan penamaan yang berbeda-beda kepada-Nya. Pemberian nama-nama yang notabene berbeda satu dengan yang lain tersebut, bukanlah tanpa makna, melainkan terbentuk atau tercipta oleh karena pengalaman pribadi setiap peradaban manusia mengenai sifat kebaikan yang disandangkan kepada-Nya. 

Tuhan dalam bahasa Indonesia, dipakai oleh bangsa Indonesia dalam menghormati junjungan tertinggi, Sang Maha, yang Adi Kuasa/ Adi Daya akan segala hal. Kata tersebut nampaknya dipengaruhi adanya pengaruh bahasa melayu dari kata asal "tuan" yang Maha, atau bisa diartikan Sang Maha-Tuan. Kemungkinan terbesar mengapa disederhanakan penyebutannya menjadi "Tuhan", karena agar mudah diingat, dan dijadikan pedoman penyebutan dan pelafalan bagi setiap bangsa Indonesia, yang tidaklah mengurangi segala arti yang terkandung di dalamnya.

Sang Maha Tuan = Tuhan
Tuan adalah jabatan bagi seseorang yang mempunyai kuasa, mempunyai otoritas penuh, mempunyai kepemimpinan penuh, dan mempunyai kedaulatan yang penuh dan tidak terbantahkan oleh orang yang dikuasainya, dalam otoritas penuhnya, dipimpinnya dan dalam kedaulatannya. 

Kemudian bila di sertai dua kata lainnya, yaitu Sang dan Maha, maka akan menjadi SANG MAHA TUAN, yang berarti: Beliau (Dia) yang Sangat berkuasa, mempunyai otoritas penuh dalam memimpin dan berkedaulatan atas kehidupan segenap ciptaan-Nya. Dan mempunyai makna mendalam, bahwa Sang Maha Tuan adalah Suatu (pribadi) yang lengkap, kepenuhan, sempurna dalam segala KEMAHAAN-Nya.

Kata pemersatu ini, saya ulangi TIDAK mengurangi arti ataupun makna dari berbagai keragaman nama-nama Beliau yang diberikan oleh bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Bahkan memiliki suatu kepenuhan makna yang menjadikan cerminan kehidupan keberagaman bagi setiap suku bangsa yang hidup dan berkehidupan di Negara Indonesia.

Mengapa bisa demikian, bukankah dipersatukan berarti menyeragamkan? bukankah seragam maka berarti mengkerdilkan keberagaman?
Saudaraku, bukan demikian yang seharusnya kita pikirkan.
Namun para pendiri Negara kita, telah berpikir secara bijak, menyikapi kemungkinan-kemungkinan negatif yang berkembang di dalam kehidupan ini. Oleh karena itulah, Indonesia yang notabene negara yang berdiri berazaskan hukum, mendasarkan ideologinya, dan mengaturnya baik itu pada Sila Pertama Pancasila dan juga dalam UUD 45.

Dipersatukan bukan berarti DISERAGAMKAN!
Seragam memang bagus dipandang, indah dilihat, dan elok diperhatikan, NAMUN taukah kita? bahwa seragam terkadang membuat kerdil cara hidup kita, mematikan kebebasan kita.
kata persatuan untuk junjungan tertinggi kita, yaitu TUHAN, bukan untuk PENYERAGAMAN, melainkan lebih bermakna menghubungkan kesamaan pandang ataupun presepsi kita memandang sosok junjungan tertinggi masing-masing daripada kita, dan BUKAN PENYERAGAMAN dalam penyebutan. Indonesia TIDAK pernah mewajibkan bahkan memaksa bangsanya,  untuk harus menyebut TUHAN sebagai nama junjungan tertinggi bagi bangsa Indonesia.

Pemerintah Indonesia memberikan kebebasan sebebas-bebasnya kepada setiap pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang hidup di dalam negara ini, untuk memberikan kehormatan bagi junjungan tertinggi masing-masing, dengan berbagai nama.

Saudaraku, apakah kita masih mengingat selogan Negara kita?
iya benar:
"Bhineka Tunggal Ika" yang diambil dari sepenggal ayat dalam kitab Sotasoma, karangan empu Tantular. Yang mempunyai makna: "Berbeda-beda tetapi tetap satu juga", apakah kita masih ingat itu?

Negara Indonesia berdiri atas dasar keberagaman, perbedaan-perbedaan, dan kekayaan dalam warna budaya, bahasa, dialek, serta suku bangsa. Kita tau kita hidup dan berkehidupan ditengah kemajemukan yang ada nan Indah. Meskipun Berbeda, kita tetaplah satu. "Roh" itulah yang menjadi nyawa dalam makna kata TUHAN... meskipun berbeda-beda penyebutan dalam setiap sukunya, dalam setiap bahasa dan sialeknya, dalam kepercayaan dan agama setiap bangsanya, namun tetap sama. Tetap sama yaitu menunjuk arti kepada junjungan tertinggi yang merupakan wujud keterwakilan setiap perbedaan yang ada dalam negara Indonesia.




Indah bukan??
Tentu saja indah sekali, harmonis dan begitu MENDAMAIKAN. Itulah yang diharapkan bisa terjadi, sedang terjadi, dan terus akan terjadi dalam negara ini. 

Hal sesederhana itu, bisakah mendamaikan? Bagaimana bisa !?
saudaraku, tentu saja sangat mendamaikan setiap kita.
mari kita buat suatu contoh, adalah suatu suku bangsa di Indonesia yang menyebut junjungannya dengan sebutan "A", dan ada pula suatu kepercayaan lokal yang menyebut junjungannya dengan sebutan "B". Diluar itu semua saudara, ternyata ada pula agama yang juga mempunyai nama terhadap junjungannya, yang disebut dengan sebutan "C" (maaf: A, B, dan C tentulah bukan nama sebenarnya, ini hanyalah illustrasi agar tidak menyeret isu SARA, terima kasih ^_^ )

"A" dianggap suku bangsa itu, merupakan sebutan yang paling benar, dan sangat terhormat;
"B" juga demikian, dianggal oleh penganut kepercayaan lokal merupakan sebutan yang paling benar;
"C" juga demikian, merupakan sebutan yang juga paling benar oleh pemeluk suatu agama.

dari pola pemikiran, dan adanya sikap ingin menghormati junjungan masing-masing, maka akan berdampak adanya gesekan-gesekan yang berujung pada tindakan anrakis, demi suatu kehormatan pada junjungan masing-masing. Oleh karena itu, untuk meredam hal yang demikian, pemerintahan kita, dengan bijaksana MENJEMBATANI pola pemikiran setiap warga, untuk mau menyadari akan keberadaan kemajemukan yang ada, toh sebutan kepada masing-masing junjungan yang dipercayai adalah sama-sama TERHORMAT-nya, sama-sama MULIA-nya, sama-sama AGUNG dan sebagainya.

Dengan pengertian yang demikian, kita belajar akan:
  1. Kesadaran hidup, menyadari akan arti pentingnya hidup bersatu, hidup rukun, hidup sebagai PENCIPTA KEDAMAIAN (bukan hanya sebagai pencari kedamaian)
  2. Rendah Hati, kita diharapkan mampu mengendalikan ke-ego-an kita, mau melihat kedalam dan keluar diri kita, akan adanya rasa yang sama antar kehidupan berbangsa dan bernegara.
  3. Mengedepankan Pemikiran, jangan kita kembali menjadi bangsa yang non-intelektual, kolot, tidak cepat tanggap, menutup diri, dan kerdil dalam pemikiran. Kita adalah bangsa yang majemuk, maka kita harus mengutamakan kehidupan bersama dengan mengedepankan pemikiran rasional, demi kedamaian.
  4. Bertindak bijak, tindakan diawali daripada pemikiran, maka kita diharapkan mengawalinya dengan berpikir bijaksana, untuk dapat mempraktikkan tindakan-tindakan yang bijaksana. Seperti toleransi, seperti menghargai.
Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, adalah pengingat bagi kita semua, bahwa Perbedaan bukanlah penghalang kita untuk tetap menghormati, menghargai dan menyadari keberadaan aneka ragam perbedaan yang mewarnai negara Indonesia ini.

Demikian kiranya, suatu persoalan sepele dalam penyebutan nama TUHAN pun, seharusnya tidak menjadi gusar bagi kita. Karena kita sudah mempunyai bekal pemikiran tentang keberagaman. Berbeda-beda istilah, sebutan, dialek, tulisan akan tetapi tetap satu makna, tetap satu tujuan, untuk junjungan tertinggi, TUHAN. Dan TUHAN sebagai pemersatu bagi keberagaman yang ada, betapa mendamaikannya...

Menjadi agen pendamaian dalam kebhinekaan merupakan cara kita mempertahankan kerukunan dan keamanan di Negara yang kita cintai bersama ini. Marilah kita bersama-sama menjaganya, agar tetap tercipta suasana yang indah dalam kerukunan keberagaman. 

Salam Keseimbangan Antar Ciptaan



Thursday, May 9, 2013

Dongeng Timun Emas - Versi Jhonna Studio Part II

Kelahiran Sang Terjanji



--------------------------------------------------------------------------------------
Kisah Sebelumnya:
Raqia mengamati dari ketinggian langit. Hatinya bergejolak dan diantara dua pilihan: mengasihani Simbok Sambego lantas membiarkan Bibit Timun itu tumbuh, atau membunuh tanaman Timun itu tanpa sepengetahuan simbok. 
--------------------------------------------------------------------------------------
Oleh karena takut salah mengambil kebijakan, Raqia bersama tim meluncur menghadap kepada Dewan  Langit Selatan. Dialah salah satu Penasehat Agung, yang telah lanjut umurnya, mempunyai kebijaksanaan tinggi, berdaulat menentukan nasib Bhumi dan memberikan kebijaksanaannya untuk menentukan kebijakan terhadap Bhumi.

Raqia bersama tim, mengendarai wahana Vimana
menuju Langit Selatan
Raqia dengan kerendahan hati, menghadap Dewan Langit Selatan dan disambut oleh Kaum Bersayap Emas, tanpa basa-basi Raqia melaporkan pelanggaran yang dilakukan Wukir Seto, yang mana Wukir Seto telah melakukan kloning dan hibridisasi makhluk yang sangat tidak wajar. Suatu Perbuatan yang hanya boleh dilakukan oleh Oknum Langit. Wukir Seto membocorkan Rahasia Langit dan melakukan pelanggaran terhadap ketetapan langit.

Dewan Langit Selatan mendengarkan laporan tersebut dengan seksama, kemudian mengambil langkah tegas, mengumpulkan Ketujuh Dewan Langit lainnya untuk melakukan pertemuan penting, membahas kebijakan apa yang harus diambil. Beberapa waktu kemudian ketujuh Dewan Langit dari berbagai tempat berkumpul menemui Dewan Langit Selatan, dan bergegas memasuki Aula Kebijaksanaan, dan menutup rapat-rapat pintu Aula yang dijaga oleh dua pengawal bersayap Emas, untuk mengamankan pertemuan tersebut.

Sunday, May 5, 2013

Dongeng Timun Emas- Versi JhonnaStudio Part I

Separuh Pengharapan



Penikmat Dongeng seantero tanah air, pada kesempatan ini, Jhonna hendak memberikan suatu pandangan baru mengenai sebuah dongeng, yang sebenarnya sudah sering kita baca, ataupun dengarkan sewaktu kita masih kecil dulu...
------------------------------------------------------------------------------------------------
Zaman dahulu kala, disaat kaum raksasa bercokol di Tanah Bhumi ini, terjadilah suatu ketidakseimbangan alam dan semakin terpuruklah keadaan manusia, kehidupan manusia menjadi tidak teratur dan menjadi "tidak berhukum", manusia bertindak seturut dengan kehendak hatinya, menuruti ego semata. Manusia hidup dalam tekanan, dimana hidup mereka diwajibkan untuk tunduk dalam tekanan superior kekuasaan Raksasa kejam dan bengis.

Tidak pernah ada yang mengetahui, darimana kaum raksasa itu datang. Sepanjangan ingatan manusia, raksasa-raksasa itu sudah lama mendiami daerah  di Dataran Medang Kasunyatan, menjadikan manusia sebagai buruh, guna mendirikan kerajaan Raksasa yang sangat megah di sebuah Gunung yang bernama "Watu Oling". Raksasa yang kejam, dan bertindak seenak hati mereka, memaksa manusia untuk bekerja keras untuk menjadi pekerja-pekerja bagi mereka, memenuhi segala kebutuhan para raksasa. Selain kuat dan perkasa, kaum raksasa ini sangat ahli dalam ramu-ramuan dan sihir, sehingga manusia menjadi sangat takut, dan tidak berani menentang kehendak Kaum Raksasa. Jika ada manusia yang menentang kehendaknya, maka raksasa tak segan-segan menyebarkan wabah untuk menyerang pemukiman manusia, sehingga banyak manusia yang mati.

Wednesday, May 1, 2013

Kitab Henokh, Mengungkap Tabir Human-Hybrid (Ras Manusia-Malaikat)


Opening
Kegemaranku semenjak kecil adalah membaca buku, terutama buku-buku bergambar bergenre fantasi. Dari Fantasi itulah yang membuatku memiliki imajinasi untuk mengkonsepkan alur cerita kedalam dunia berpikirku. Hal itu kulakukan terus menerus, aku gunakan dalam cara belajarku di sekolah sampai dengan lulus kuliah, konsep berpikir ala Jhonna.

Bagaimana itu terjadi?
ku lakukan pembacaan, aku cerna dalam-dalam makna kata-per-kata, kemudian ku-visualisasikan dalam proyeksi di pikiranku, alhasil aku ciptakan dunia dalam imajinasi. Hal itu sangat membantuku, disaat ingin memuaskan diri dengan cerita-cerita yang tidak dibarengi dengan gambar-gambar penunjang, seperti dalam buku Novel. Akan sangat bosan tentunya. Terkadang apa yang aku proyeksikan dalam alam pikirku, menjadi sangat berbeda dengan apa yang orang lain lakukan. Itu semua tergantung daya imajinasi dan kreatifitas berpikir. 

ada satu pengalamanku, saat aku di sodori sebuah print-print-an buku, yang cukup tebal. Dan si-pemberi berharap aku membacanya, dia bermaksud agar aku membacanya, mendalaminya, dan dia minta menceritakkannya kepadanya menurut versiku, menurut duniaku, menurut cara proyeksiku terhadap naskah tersebut. Kertas-kertas itu hanya di klip dengan klip paper, tanpa dijilid, nampak sekali bahwa si-pemberi tergesa-gesa berharap aku bisa merampungkannya.

aku terperanjat, saat membaca judul covernya
"Kitab Henokh...!!!? sepertinya aku pernah mengenal nama ini.... " gumamku.

Sunday, April 28, 2013

Kekekalan Tidak Pernah Diciptakan


Tuhan yang menciptakan siapa?




Haii guys,,,
malam ini rasa-rasanya Insomnia aku  kumat, sudah beberapa kali merubah posisi bantal, mengubah posisi tidur, sampai membuat susu agar aku  bisa lekas tidur. Namun semua itu sia-sia belaka... aku kepikiran salah satu kejadian saat mengajar Sunday School...

Nah... daripada pusing mikirin gag bisa tidur, mendingan aku  share saja sedikit pengalaman yang yahh... mudah-mudahan sedikit bermanfaat untuk kita semua.

Langsung saja, kita menuju ke TKP !!!

Pernah suatu ketika, aku  mendapatkan jadwal untuk menjadi "guru pengganti" dalam aktifitas Sunday School dan memang begitulah adanya, guru tanpa tanda jasa beneran ini!!! soalnya tak berbayar, alias bener-bener pelayanan. Dan pada kesempatan yang menurutku indah itu, sengaja aku  ambil tema aktifitas belajar yaitu: "Hari Penciptaan". Anak-anak sangat riuh sekali pada awalnya, mereka asik bermain sendiri, sesekali ada yang berlarian kesana-kemari, melakukan hal-hal usil mengganggu temannya. Dan, karena waktu sudah menunjukkan jam 07.00 tepat, mau gag mau, siap gag siap kegiatan Sunday School harus aku  mulai.

Ternyata diluar dugaan, kondisi yang awalnya sangat riuh, berangsur membaik. Anak-anak mulai duduk dengan rapi saat aku  mulai berdiri di depan kelas, dan memulai kegiatan. Rasanya sungguh sangat luar biasa, "Thanks God !!!" gumamku, bersyukur atas kondisi yang sangat membantuku kala itu.

Aktifitas berjalan seperti biasa, kubuka dengan bernyanyi. Anak-anak ada yang malu-malu, ada yang masih terlihat ngantuk, adapula yang sangat antusias, mengikuti setiap gerakan yang aku  ajarkan dalam lagu-lagu riang.

Tiba saatnya aku  harus membagikan renungan...
hal yang paling aku  khawatirkan, soalnya takut jika saja anak-anak tidak tertarik dengan apa yang aku bawakan. Tapi itu semua haru aku kikis, but show must go on!!!. Aku keluarkan beberapa potongan kertas warna-warni, ada yang berbentuk matahari, bulan, bintang-bintang, tumbuhan, burung, ikan, dan bumi, itu semua aku persiapkan malam hari sebelum kegiatan berlangsung.
Mulai terlihat ekspresi penuh tanya anak-anak di kelas itu, ada anak yang sangat ingin tahu, yang kebetulan duduk di dekatku kala itu, dan mengambil salah satu kertas berwarna kuning, yang berpola matahari... sambil bertanya: "Kak... ini matahari kan.." dan aku tersenyum serta mengangguk, "iya benar sekali" kemudian waktu dapat aku  kuasai dengan baik.

Memang tak mudah mengkisahkan suatu kisah penciptaan kepada anak-anak usia kecil, oleh karena keterbatasan daya tangkap mereka, dan cara mereka mencerna kata-kata, kemudian mengelolanya dalam pikiran kecil mereka. Sehingga diperlukan suatu usaha yang sangat extra untuk dapat menyampaikan maksud dan tujuan renungan tersebut. Lebih repotnya lagi, kalo mereka menanyakan pertanyaan yang sulit, sehingga perlulah kita memiliki bekal yang cukup, untuk dapat menjawab dan memberikan pernyataan yang tepat kepada mereka. Waluaupun kebanyakan daripada pertanyaan-pertanyaan tersebut, cenderung hanya spontanitas terbersit dalam pikiran anak-anak, namun kita juga tidak boleh salah dalam menjawab. Karena di usia seperti itu, anak-anak akan meresapi dan sangat mengingat apa yang pernah diberitahukan kepada mereka.

Tapi yang membuat aku keheranan, anak-anak zaman sekarang memang lebih canggih, dan kritis dalam pola pikirnya, sehingga pertanyaan merekapun sangat kritis.

Adalah salah satu siswa didik di Sunday School kala itu, sewaktu aku menyampaikan tentang hari-hari penciptaan, dia sibuk dengan crayon dan buku gambarnya. Dia corat-coret, dan menggambar apa yang aku ceritakan. Bukunya penuh dengan warna, dia menggambar matahari, bintang-bintang, tumbuhan, hewan-hewan, persis seperti apa yang aku sampaikan. Kemudian, aku melihat dia berhenti sejenak, seakan kebingungan. Dia menyentuh pelipis kepalanya dengan jari yang masih memegang crayon berwarna hijau, sehabis menggambar pohon.

Anak tadi mengacungkan jarinya, berharap ada waktu bagi dia untuk bertanya. Aku sangat kaget, karena ada yang memotong pembicaraanku dengan kalimat sederhana: "Kak tanya.. kak tanya...!!"

aku iyakan pintanya, dan semua pasang mata anak-anak dan saya, tertuju padanya. Dia langsung melanjutkan dengan bertanya: " Heemmm... kata kakak, Tuhan menciptakan terang, terus cakrawala, terus tanah dan air, tumbuhan, matahari, bintang, hewan dan manusia...." dia berhenti sejenak untuk berpikir; dan aku menjawabnya: "Iya benar sekali, Tuhan menciptakan segalanya..."

si anak itu kembali melanjutkan pertanyaannya: "Terus kak... siapa yang menciptakan Tuhan?"

**** JEEEEEGGGLLLERRRRRR !!!!! *** (sound-effect: Halilintar di pagi bolong)

Aku sangat kikuk, sangat kaget dan perasaan bercampur aduk sesaat setelah mendengar pertanyaan anak yang kira-kira berumur 7-8 tahun itu. Namun aku harus menyampaikan jawaban yang baik, mengingat pentingnya ucapanku saat itu, oleh karena didengar banyak telinga.

"Begini ya adik-adik yang manis... Tuhan adalah Sang Pencipta, Dia adalah Maha-segala-galanya, Maha Kuasa, Maha Bisa, Maha Pencipta, dan Maha dari segala yang Maha, sehingga Tuhan itu tidak ada tandingannya, oleh karena itu Tuhan tidak diciptakan, karena Tuhan adalah Sang Pencipta itu sendiri.... " dengan nada yang lembut, agak sedikit diberi penekanan, dan suasana berubah menjadi sangat hening seketika itu juga... dan si anak tadi kembali menggambar pohon setelah berkata: "Okey kak... " 

Fiyuhhhh.....!!! aku menghela nafas yang panjang... dan masih terheran-heran sampai saat ini, dengan perkembangan anak-anak di era modern. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan masa aku kanak-kanak dahulu. Masa itu aku hanya taat (manut) yang diajarkan oleh Kakak Guru Sunday School.

Nah... sobat... 
itu tadi sedikit kisah yang pernah aku alami, Entah mengapa dunia ini semakin pesat berkembang.
Arus informasi berjalan dengan sangat cepat, media elektronik tak henti-hentinya memberikan kepada pemirsanya arus informasi dan juga pengetahuan.. sehingga generasi sekarang adalah generasi yang kritis dalam berpikir. Generasi anak-anak sekarang tidak hanya disuguhi oleh tontonan kartun atau animasi sewajarnya pada umur mereka. Tontonan yang notabene berlaberl "Tontonan Anak"pun kini terlihat sangat berat sekali, dengan suguhan cerita yang lebih cocok dilihat oleh prang dewasa, yang membutuhkan pemikiran dan alur logika yang komples. Sehingga dapat disimpulkan anak-anak era modern, mempunyai kedewasaan alur berpikir yang lebih cepat dibandingkan anak-anak di zamanku dulu.

Namun sungguh disayangkan, akan hal tersebut.
Ibarat pisau bermata dua, pengetahuan selain membawa efek positif dia juga membawa dampak negatif bagi kita. Banyak terlahir kaum Skeptis akan Norma-Norma Agama dan Kepercayaan. Banyak diantara mereka yang meragukan kebenaran akan firman dan ayat-ayat suci yang terkandung di dalam agama. Mereka beranggapan bahwa mereka akan percaya bila melihat dengan mata mereka sendiri. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya sangat menjerat mereka kedalam pusaran "ketidak mampuan berpikir", keterbatasan daya pikir dan pola logika.

Permasalahannya adalah:
"Siapa yang menciptakan Tuhan?" hanyalah segelintir pertanyaan yang dapat menjerat hidup kita kedalam suatu kebimbangan hidup. Dan masih banyak lagi, pertanyaan yang dilontarkan oleh kaum skeptis agama, yang bertujuan untuk meruntuhkan dokma suci dan kemudian menggantikannya dengan pemikiran yang mereka pikir lebih "rasional".

Mereka yang seharusnya menggunakan pemikiran pengetahuan mereka untuk mendukung dokma agama, yaitu orang-orang yang dikategorikan pandai, bahkan jenius yang menyandang profesi sebagai ilmuwan, malahan mereka sendirilah yang berpikiran skeptis akan norma keagamaan dan keimanan, oleh karena cara pandang mereka sangat berbeda dengan cara pandang ahli-ahli kitab dan para pemuka agama.

Ilmu Pengetahuan berdasar pada apa yang dilihat, dianalisis, menjadi suatu kajian dan dibukukan dalam suatu keabsahan teoritis. Berbeda dengan keagamaan yang menitik beratkan pada sebuah nilai kepercayaan. Keimanan memberikan kenyamanan kepada para penyandangnya untuk mempercayai sesuatu, mengharapkan sesuatu, tanpa pernah mendapatkan suatu bukti-bukti yang otentik yang sah dan yang sangat bisa dicerna dengan akal dan juga logika manusia. Agama sudah tidak relavan lagi, agama sudah ketinggalan zaman tidak dapat memberikan kebutuhan "pengetahuan" di era modern seperti saat ini. Disinilah perbedaan kacamata yang digunakan untuk melihat, antara Ilmuwan dan Agamawan.



Siapa yang menciptakan Tuhan...
Ilmuwan mempunyai suatu prespektif bahwa, Alam semesta ini terbentuk secara kebetulan bermula pada ledakan super dahsyat BIG BANG, dan betul-betul terbentuk secara alamiah dan kontinyu, tanpa campur tangan suatu apapun. Hanyalah energi yang menciptakan, memproses dan merombak. Prosesan alamiah ini membuat keadaannya tetap stabil dengan hukum-hukum alamiah yang tetap stabil. Tidak ada Tuhan di dalamnya, sama sekali. 


Teori asal mula materi di alam semesta
dari keadaan kosong menjadi adanya materi dan anti-materi
yang dikenal dengan istilah Teori Singularitas (Perubahan Keadaan)
yang kemudian diawal dengan adanya ledakan Maha Dasyat dalam skala keppler, yaitu BING BANG


Namun hal itu berbeda dengan pola pikir saya, yang memang terlahir dalam keluarga yang taat dalam keimanan kepada Tuhan. Saya lebih sangat nyaman, jika mempercayai adanya campur tangan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Bisa, dan Yang Maha Segalanya untuk menjadikan segala sesuatu realita kehidupan sampai dengan saat ini. Dan kenyamanan itu menyertai pemikiranku yang sudah terlanjur nyaman dengan pemikiran tersebut. Entah mengapa, saya merasa enjoy dan merasa tenang, disaat menaruh konsep adanya Tuhan di dalam segala hal kehidupan ini, di dalam setiap saat putaran waktu kehidupan semua makhluk. Perasaan nyaman yang tidak dapat terkatakan. Bagiku adanya konsep Tuhan sebagai Pencipta, membuatku lebih tenang, damai, oleh karena ada sesosok Adi Kodrati yang berkemampuan Maha, yang senantiasa akan menolong ciptaan-Nya. Aku tidak akan kuat, jika harus berpikir dengan sudut pandang para skeptis agama, hidup ku tak akan bertahan tanpa adanya campur tangan kekuatan yang MahaSegalanya.

Lantas... Point kita

Tuhan itu diciptakan atau menciptakan??

Jika anda tidak nyaman dalam keimanan, maka akan jawaban yang akan muncul "DICIPTAKAN"

tapi karena saya merasa nyaman akan pemikiran saya, sehingga saya menjawab "TUHAN ITU MENCIPTAKAN"


Segala sesuatu diciptakan oleh Sang Maha
yang memiliki pengetahuan yang Maha, yang mempunyai kemampuan yang Maha
yang mempunyai daya cipta, karya, dan karsa yang Maha
bisa menciptakan, memelihara dan bahkan memusnahkan dengan Kekahaan-Nya

----------------------------------------------------------------------------------------
PENEKANAN POSTINGAN!!!
Segala bentuk yang berkaitan dengan kekekalan (eternal), yaitu segala yang tidak berusia (forever), sesuatu yang tidak terbatas (infinitif), yang tidak bisa dibatasi , dan segala sesuatu yang bersifat absolut TIDAK pernah berawal dan juga berakhir.

segala bentuk kekekalan, tidak pernah diciptakan ataupun dimusnahakan. Kekekalan merupakan realita yang sesuai dengan sifatnya yang kekal, dan atas fungsi dasarnya yang abadi. Oleh karena tidak berbatas dan berusia, maka selama-lamanya akan tetap berkarya, melakukan aktifitas KEMAHAAN-NYA yang tidak terbatas. Dan segala atribut yang melengkapinya yang juga bersifat kekal, adalah tanpa awal dan akhiran. 

Kita adalah penentu kebijakan di masa depan nanti, dan dari pemikiran kitalah yang menjadi bekal untuk masa depan, untuk anak cucu kita kelak. Agar apa yang saat ini kita junjung sebagai suatu hal yang baik dan mulia, maka kita harus melengkapi diri dengan pengetahuan, bawasannya agama tidaklah monoton kuno. Agar agama tetap up to date dalam segala zaman, maka ada baiknya kita membuka cakrawala pemikiran kita seluas-luasnya.








Saturday, April 27, 2013

Menguak sisi lain Ordo Kerubim


PROLOG
postingan Jhonnastudio kali ini, hanyalah sebuah analisis gila.... tanpa ada maksud apapun, tanpa ada rencana ataupun bermaksud mempengaruhi. Hanya sebatas postingan, berdasarkan pemikiran Jhonna yang sudah lama menggumpal di relung pikiran Jhonna. Dan saya berharap agar para pembaca sekalian tetap berpedoman pada diri sendiri. Anggaplah postingan ini hanyalah suatu tulisan tanpa makna belaka, hanyalah suatu tulisan gila belaka.

Alien: Makhluk Cerdas dari Luar Angkasa




Beberapa postingan lawas memaparkan tentang alien, atau extrateristrial..
namun Jhonna belum menyampaikan kepada para pembaca yang berbahagia dengan kemisteriausan hidup ini...,, dan pada kali ini Jhonna menyampaikan sesuai apa yang Jhonna pikirkan, yang berada jauh di dasar pemikiran Jhonna.

Pro dan kontra akan eksistensi keberadaan makhluk-makhluk cerdas di luar planet bumi, selalu menghiasi khasanah per-alien-an, baik dalam dunia Internasional, ataupun di dalam negeri. Baik yang Pro ataupun yang Kontra, keduanya bersikukuh dan melengkapi diri dengan konsep pemikiran untuk saling menjegal satu dengan yang lain.

tak pelak, para skeptis yang kontra dengan adanya eksistensi Alien ini, mencoba menggunakan banyak sekali dalil-dalil, bahkan ayat-ayat yang diyakini dapat memusnahkan doktrin-doktrin para pendukung Teori Eksisten Alien.

Untuk sekedar merefres kembali, dan memberikan bumbu penyedap, Jhonna Studio akan membeberkan beberapa fakta tentang Alien, cekidot.

Mohon Perhatian ^^

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Buat Sobat-Jhonna, pembaca setia blog saya:
Terima kasih atas kesetiaannya membaca ataupun membagikan Informasi yang Jhonna sajikan. Alangkah bahagianya, jika Sobat tidak berkeberatan untuk MENCANTUMKAN alamat blog jhonnastudio.blogspot.com, saat sobat meng-copy dan mem-pastenya dan kemudian Sobat MEMBAGIKANNYA pada forum lainnya...

Salam Hangat...
Salam Keseimbangan Antar Ciptaan...
by: JhonnaStudio
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------